
Minerva dan keluarganya kini sudah sampai di Mansion. Penerbangan singkat mereka tidak membuat Minerva merasa lelah karena kali ini ia harus mendampingi kakaknya mengurus pekerjaan di kantor.
"Minerva, apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu di rumah sayang?" tanya Mommynya mengkhawatirkan Putrinya yang langsung ingin bekerja.
"Mommy tenang aja ya, Minerva akan langsung pulang setelah pekerjaan selesai." ucap Minerva Miencium pipi Mommynya.
Austin langsung menggandeng tangan Minerva menuju ke mobil dan keduanya langsung melesat menuju ke kantor.
...🚗🚗🚗...
Sesampainya di kantor, tampak Lilies dan juga Amer sudah menunggu mereka berdua untuk membicarakan tentang acara pernikahan Lilies. Melihat kedatangan Minerva, membuat Lilies merasa makin geram mengingat dengan lihainya Minerva membawanya masuk dalam penjara.
Tapi kali ini Lilies harus menutupi ke-tidak suka-an nya terhadap Minerva agar misinya berjalan lancar. Dari kejauhan, Minerva tersenyum ke arah Lilies. Sayangnya Sorot mata Lilies kali ini berbeda saat menatap Minerva.
"Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Austin menyapa Lilies dengan memeluknya.
"Kami juga baru saja tiba. Hai Minerva. Bagaimana kabarmu?" tanya Lilies yang berganti memeluk Minerva.
"Baik." jawab Minerva singkat.
"Oh iya Minerva, aku ingin berbicara empat mata dengan Austin sebelum kita meeting. Bisakah kau menemani Amer?" tanya Lilies dan Minerva langsung menganggukkan kepalanya.
"Siiip!" jawab Minerva sambil memperlihatkan dua jempol tangannya.
Lilies dan juga Austin masuk ke dalam ruangan Austin, sedangkan Amer dan Minerva menunggu di sofa panjang di luar ruangan Austin.
Sesampainya di dalam ruangan, Lilies langsung mendorong sepupunya. "Kenapa kau tidak pernah bilang jika Minerva yang membuat aku masuk ke dalam penjara?" sarkas Lilies tiba-tiba membuat Austin terkejut.
"Apa kau juga sekongkol dengan Minerva untuk menjerumuskan aku?" tanya Lilies dengan nada menggertak.
"Jawab pertanyaan aku!"
"Darimana kau tahu?" tanya Austin kepada sepupunya. Selama ini Austin menyimpan rahasia ini serapat mungkin.
Bahkan hanya ada beberapa orang saja yang tahu jika Minerva adalah orang dibalik penangkapan sepupunya.
__ADS_1
"Tidak perlu tahu bagaimana aku bisa tahu, Austin. Yang aku tahu sekarang kau sangat jahat Austin. Kau lebih memilih untuk mendukung Minerva dari pada aku." serang Lilies dengan Sorot matanya yang sangat tajam.
"Jika aku jahat, maka aku tidak akan pernah berupaya untuk melepaskanmu dari penjara. Minerva juga tidak seperti yang kau fikirkan, Lilies. Justru dia lah yang mencabut segala tuntutan terhadapmu. Tujuan dia hanya kau berubah menjadi orang yang baik." jelas Austin panjang lebar.
"Lalu bagaimana sekarang upayamu saat beberapa perusahaan melakukan teror kejam terhadap perusahaan milikku. Apa kau bisa membayar semua kerugian yang aku alami, Austin?" tanya Lilies. "Jawab!" teriak Lilies kesal.
Austin membuang nafasnya kasar. Ia tidak pernah berfikir akan menjadi serumit ini masalahnya.
"Begini saja. Sekarang katakan padaku apa yang kau inginkan?" tanya Austin memandang ke arah Lilies.
"Tidak mungkin kau tidak mengenalku, sepupu." ucap Lilies dengan senyum yang menyeringai.
Mendengar ucapan Lilies, Austin langsung teringat bagaimana sepupunya selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan keinginannya.
"Jangan macam-macam, Lilies. Minerva itu adik kandungmu. Dia juga sepupu perempuanmu!" hardik Austin.
"Aku tidak akan bertindak macam - macam dengan syarat... Minerva harus bertekuk lutut padaku dan meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan padaku. Selain itu, dia juga harus menghadapi teror yang sekarang terus dikirimkan kepadaku dan mengakuinya bahwa itu adalah kesalahannya." ucap Lilies panjang lebar.
Plak! Satu tamparan Austin mendarat tepat di wajah Lilies sampai pipinya berubah warna menjadi merah.
"Tapi aku hancur bukan karena kesalahanku, Austin. Tapi karena Minerva. Dan karena dia juga kau jadi bersikap kasar padaku."
"Karena Minerva juga tante Moona bersikap biasa kepadaku dan tidak sesayang dulu denganku. Semua ini gara-gara Minerva!" teriak Lilies yang emosinya makin tidak terkontrol.
"AKU BENCI MINERVA, DAN SANGAT MEMBENCINYA." ucap Lilies mempertegas kalimatnya dan segera keluar dari ruangan Austin.
Saat Lilies keluar dari ruangan sepupunya, betapa terkejutnya ia saat melihat Minerva dan Amer hampir saja berciuman. Dengan kasar Lilies langsung mendorong tubuh Minerva sampai jatuh tersungkur.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Lilies. "Bisa-bisanya kalian berdua berciuman di kantor saat jam kerja seperti ini!" hardik Lilies dengan suara bariton nya dan memuat karyawan Austin yang berada di situ melihat ke arahnya.
"Maafkan aku, baby. Minerva yang lebih dulu menggodaku memaksaku agar aku mencium bibirnya." ucap Amer membuat Lilies makin kalap dan membenci Minerva.
"Dasar ja-l*ang mu rahan!" Tangan Lilies melayang hendak menampar Minerva. Untungnya Emir bisa menahan tangan Lilies yang hampir saja mengenai pipi Minerva dan menghempaskannya ke belakang.
"Jangan berani-beraninya menyentuh Wanita ku atau kau akan berhadapan denganku!" gertak Emir.
__ADS_1
"Cih, Dasar Direktur Bo-d*h!" um pat Lilies. "Wanita mu ra han seperti ini saja diperjuangkan."
Lilies langsung mengamit lengan Amer dan menariknya untuk menjauh dari kerumunan. "Ayo kita pulang. Aku takut nantinya kau justru dipaksa untuk me ni durinya." ucap Lilies.
Minerva yang masih berada di lantai langsung dibantu berdiri oleh Emir dan di duduk kan di sofa. Sedangkan Austin segera memerintahkan karyawannya untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing.
"Semua itu tidak benar." ucap Minerva yang mulai menitikkan air matanya. "Amer membuka buku yang dibawanya dan menipunya karena berdebu. Mataku jadi kelilipan dan aku meminta tolong pada Amer untuk meniup mataku." jelas Minerva.
Minerva sangat terkejut saat Lilies mendorongnya saat baru saja keluar dari ruang kerja Austin. Tapi kemudian Minerva menganggapnya wajar jika Lilies salah paham dan merasa cemburu. Tapi yang membuat Minerva tidak terima adalah saat Amer mengatakan bahwa dirinya menggoda Amer dan memaksanya untuk mencium bi bir nya.
"Aku percaya padamu, Minerva. Sekarang buka matamu, biar aku obati." ucap Emir memegang dagu Minerva.
Minerva berusaha membuka matanya dan benar saja, mata Minerva tampak sangat merah. Austin pun segera masuk ke dalam ruangannya untuk mengambilkan obat tetes mata yang ada di kotak P3K dan memberikannya pada Minerva.
"Sini biar aku bantu." Ucap Emir mengambil alih obat tetes mata tersebut dan meneteskannya kepada Minerva.
"Lebih baik kita masuk ke dalam ruanganku." ajak Austin sambil mengamit lengan Minerva dan memapahnya.
Emir pun langsung mengikuti langkah kaki Austin yang kini memapah Minerva.
Austin membawa Minerva ke kamarnya yang ada di balik kursi kebesarannya, sedangkan Emir memilih untuk menunggu di sofa ruang kerja Austin.
"Istirahatlah di sini dan Tenangkan dirimu Minerva." ucap Austin yang me re bahkan adiknya ke atas Ran jang.
Minerva langsung menarik tangan kakaknya yang hendak keluar menemui Emir. "Jangan ceritakan ini pada Mommy and Daddy. Aku tidak ingin merek khawatir." pinta Minerva.
Austin pun mengangguk dan tersenyum kepada Minerva. "Aku tidak akan menceritakannya. Istirahatlah!" janji Austin sambil mengusap kepala Minerva dan kemudian keluar menuju ruang kerjanya.
...☕☕☕...
Hello Guys. Yuk mampir juga ke Novel bestie aku.
Nama Pena : Zafa
Judul Novel : Putri Cantik Milik Tuan Reymond
__ADS_1