
"Bahkan untuk urusan perasaan pun kau sangat mengerti diriku, Amer. Tapi sayang kali ini kau salah!" ucap Lilies kesal dan membuang wajahnya keluar jendela.
"Oh, kalau begitu maafkan saya, Nona." Amer merasa tidak enak dengan Lilies kali ini. Terlebih saat melihat Lilies membuang mukanya keluar jendela. Amer tidak lagi bersuara dan fokus mengendarai mobilnya.
"Aku memang dulu begitu mendambakan seorang Dwayne untuk menjadi kekasihku. Bahkan berbagai cara aku lakukan untuk mendapatkan hatinya hingga aku melupakan harga diriku sendiri."
"Aku benar-benar seperti orang bodoh yang mengemis dengan pria dingin dan tidak punya hati. Tapi tidak untuk saat ini! Aku tidak akan menjadi wanita dungu yang terus mengharapkan sesuatu yang sangat tidak pasti."
"Huh!" Lilies membuang nafasnya kasar. Ia memalingkan wajahnya memandang ke arah Amer.
"Meskipun Dwayne tampan dan bergelimang harta, dia tidak lebih baik darimu." ucap Lilies sambil tersenyum.
Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Lilies membuat Amer tersipu malu. Ia benar-benar tidak mengira, bos yang sangat ia kagumi dan cintai ternyata bisa mengatakan hal yang membuatnya malu dan salah tingkah.
Amer menarik nafasnya pelan dan mencoba menetralkan gemuruh di dalam dadanya.
"Anda terlalu memuji saya, Nona." tukas Amer.
Amer tidak berani membalas tatapan bos cantiknya itu. Ia terus saja mengemudikan mobilnya.
"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Lilies kemudian.
"Haaah?!!" Amer langsung hilang konsentrasi dan segera menepikan mobilnya.
Ia kembali harus mengontrol detak jantungnya dan memberanikan diri untuk menatap Lilies.
"Maaf Nona, saya menepikan mobilnya sebentar karena tiba-tiba saya merasa sangat haus."
Lilies tersenyum dalam hatinya penuh kemenangan melihat karyawannya kali ini salah tingkah dan begitu gugup menanggapi pertanyaannya.
"Apa perlu aku ambilkan minum?" tawar Lilies yang langsung ditolak oleh Amer.
"Oh, tidak perlu, Nona
"Lalu apa jawabannya?" tanya Lilies saat Amer mengambil air minum dan meneguk nya pelan.
"Pernah, Nona." jawab Amer yang kemudian kembali mengemudikan mobilnya.
"Lalu jika kau memiliki seorang kekasih, kau akan memanggilnya dengan sebutan apa? Sayang, Honey, atau apa?" tanya Lilies.
"Mungkin saya akan memanggilnya baby, karena itu terdengar sangat imut." jawab Amer yang mulai bisa menguasai suasana hatinya.
"Apa kau mencintai aku?" tanya Lilies to the point.
__ADS_1
Amer langsung menginjak remnya mendadak sampai membuat Lilies hampir terantuk dasbor mobil. Mobil yang berada di belakangnya juga hampir saja menabrak bamper belakang mobil Amer.
Begitu pula beberapa mobil di belakangnya sampai membuat kemacetan kecil. Suara klakson mobil pun mulai bersahut-sahutan membuyarkan keterkejutan Amer.
Amer dengan gugup kembali mengemudikan mobilnya. Kali ini ia begitu terlihat sangat kacau di samping Lilies.
"Baiklah kalau begitu, panggil aku dengan sebutan 'Baby'. Aku yakin kau jatuh cinta padaku." tukas Lilies yang kini justru menjatuhkan harga dirinya di depan karyawannya sendiri.
Sedangkan Amer sangat tidak menyangka Lilies mengatakan banyak hal yang membuatnya sangat malu. Tapi Amer tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berpihak padanya kali ini.
"Saya memang sudah sejak lama mencintai anda, Nona. Tapi saya sadar diri karena saya hanyalah ..."
"Hei, aku bukan Nonamu!" Hardik Lilies kesal. "Tidak bisakah kau bersikap romantis dengan ku, Amer?"
"Tapi sudahlah, kita tidak ada waktu untuk membicarakan hal ini."
Kini mobil Amer berhenti tepat di depan lobby Perusahaan milik Dwayne, agar Lilies turun lebih dulu. Tapi kemudian Amer mengurungkan niatnya dan membawa Lilies bersamanya ke parkiran mobil.
"Kenapa kau membawaku, ke parkiran?" gerutu Lilies sambil membayangkan berapa jauh ia harus berjalan dari parkiran ke ruangan Dwayne.
Amer tidak menjawab keluhan Lilies, tapi ia justru mendekatkan dirinya ke arah Lilies.
"I do love you, baby." bisik Amer tepat di telinga Lilies dan seketika membuat tu buh Lilies me re mang.
"Aku bahkan mencintaimu sejak awal kita bertemu. Awalnya aku sempat menepis rasa ini. Tapi semakin lama, rasa cinta ini semakin tumbuh bersemi di dalam hatiku." bisik Amer lagi.
Kali ini Amer mulai berani memegang dagu Lilies. "Let me kis* you, baby." pinta Amer dan Lilies langsung memejamkan matanya.
Bibir Amer mendarat mulus di bibir Lilies dan mulai mengabsen setiap inchi nya. Amer benar-benar seperti di atas awan. Tengkuk Lilies ditekan pelan untuk memperdalam ciuman mereka.
Makin lama keduanya saling me ma gut dan me lu mat hingga memberikan sensasi luar biasa dam diri mereka masing-masing. Sayangnya di tengah cum bu an mereka, tiba-tiba ponsel Amer berbunyi dan nampak Andre menghubungi nya.
Lilies langsung mendorong Amer dan membuang wajahnya yang masih diliputi perasaan yang membuncah. Dengan kesal Amer pun menjawab panggilan dari Andre.
"Aku sudah ada di parkiran Perusahaan Tuan Dwayne dan sebentar lagi akan menuju ke ruangannya."
"Aku sudah tahu." jawab Andre dan membuat Amer mengerutkan dahinya.
"Lalu untuk apa kau menelfon ku?" tanya Amer.
"Kaca film mobil mu tidak terlalu gelap, Tuan. Jika ingin bercumbu, aku akan menyiapkan ruangan khusus untukmu." ucap Andre sambil terkekeh dan mematikan panggilannya.
'Si*l! Jadi dia menelfon hanya untuk mempermalukan aku? Awas saja nanti! Akan aku balas!' gerutu Amer dalam hati.
__ADS_1
Ia pun segera keluar dan membukakan pintu untuk Lilies. Sebelum Lilies keluar dari mobil, ia sengaja merapikan rambut Lilies dan menyelipkan ke belakang telinga.
"Kau sangat cantik jika sedang merona seperti ini, baby." puji Amer.
Lilies hanya tersenyum karena bibirnya kelu untuk menjawab pujian Amer yang membuat hatinya berbunga-bunga. Ia pun keluar dari mobil dan keduanya saling berpegangan tangan.
...👫 👫 👫...
Sesampainya di ruangan Dwayne, betapa terkejutnya Lilies saat mengetahui bahwa Daddynya sudah ada di sana bersama dengan Dwayne.
"Daddy. Kapan Daddy datang ke Indonesia?" tanya Lilies yang langsung menghambur memeluk daddynya.
"Daddy baru saja sampai dan kata Austin kau akan menemui putra Risa. Maka dari itu daddy langsung kemari." jawab Daddy membalas pelukan Lilies.
Daddy Lilies adalah kakak kandung dari Moona yang sangat paham dengan persahabatan antara Risa dan adiknya
"Daddy sangat kecewa dengan perilakumu kali ini, Lilies. Kau tahu sendiri kan, karena mu Aunty Moona sampai masuk rumah sakit."
"Daddy juga sangat menyayangkan kenapa selama ini kau tidak pernah mendengarkan nasihat dari Austin."
Daddy Lilies mulai menyampaikan rasa kecewanya pada putri semata wayangnya.
"Maafkan aku, Daddy. Aku sangat menyesal atas semua yang sudah aku lakukan."
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi Daddy. Aku tahu aku sudah mengecewakan banyak orang. Aku juga siap dihukum asal Daddy memaafkan aku." pinta Lilies terisak-isak sampai bersimpuh di kaki daddynya.
"Daddy sudah memaafkan, sayang. Tapi kau tetap harus menjalani hukuman mu." jelas Daddy Lilies dengan tegas.
Daddy menyeka air mata Lilies dan memintanya untuk duduk di sofa.
"Dwayne, saya sangat berterima kasih denganmu yang telah mencabut tuntutan pada Lilies. Om sangat yakin, tujuanmu adalah membuat Lilies jera."
"Dan kau, Lilies. Ini adalah hukuman dari Dwayne untukmu." Daddy langsung memberikan kertas perjanjian yang sudah diketik rapi di bawah pengawasan badan hukum.
Dalam perjanjian itu tertulis agar Lilies benar-benar berubah dan tidak mengulangi kesalahannya saat ini karena itu sangat merugikan banyak pihak. Bahkan Lilies juga diminta untuk menarik semua produk yang dihasilkan Lies Food Company dari pasaran.
Yang Kedua, Lilies untuk mengganti seluruh bahan pembuatannya menjadi bahan yang baik untuk dikonsumsi dan juga ramah lingkungan.
Yang ketiga, Austin akan selalu mengawasi secara detail seluruh kegiatan di Lies Food Company.
Yang terakhir, Lilies juga harus menyebutkan perusahaan mana saja yang menggunakan bahan seperti produknya. Agar berbahaya ituu tidak lagi digunakan oleh perusahaan mana pun.
"Aku menyetujuinya, Daddy." ucap Lilies yang langsung meminta pulpen kepada Amer.
__ADS_1