
"Dari mana kau tahu?" tanya Emir dan Austin secara bersamaan.
Bukan langsung menjawab, Minerva justru makin terkekeh melihat kekompakan Emir dan juga kakaknya.
"Deeeeeek." panggil Austin yang sedari tadi menunggu Minerva menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja aku tahu." jawab Minerva. "Kalian berdua mengecek ke dalam apartemenku, bukan?" Minerva memperlihatkan tangannya, menunjukkan dua. "Twice."
Kini Emir mengusap wajahnya kasar, Ia sangat tidak menyangka Minerva mengetahui aksinya bersama Austin yang diam-diam masuk ke dalam kamar Minerva untuk memastikan keberadaan Minerva sebanyak dua kali.
Flashback ON
Emir dan Austin yang sudah terlalu lelah mencari Minerva akhirnya menyerah untuk kembali ke apartemen Emir sambil mengecek keberadaan Minerva, barangkali ia pulang ke apartemennya.
Sesampainya di pintu apartemen Minerva, Emir langsung memencet sandi di pintu dan Austin sengaja menghafalkan berapa sandi kunci pintu apartemen milik Minerva.
"Hei! kau barusan menghafalkan sandi pintu apartemen Minerva ya?" tanya Emir yang mulai tersadar bahwa dari tadi Austin tidak lepas memandang ke arah tombol angka di pintu apartemen Minerva.
Austin terkekeh dan langsung mendorong Emir untuk masuk ke dalam.
"Sudahlah, tujuan kita kemari kan hanya untuk mencari adik perempuanku." jawab Austin yang kemudian mendapati apartemen milik Minerva yang kosong.
"Minerva tidak pulang kemari." keluh Emir kecewa.
Austin langsung menepuk bahu Emir berkali kali untuk meredakan rasa kecewanya. "Percayalah bahwa Minerva akan baik-baik saja. Kita cari lagi besok. Sekarang aku sudah lelah dan ingin segera membaringkan tubuhku. Ayo kita ke apartemenmu saja." ajak Austin menarik lengan Emir untuk segera meninggalkan apartemen milik Minerva.
Dengan malas Emir pun berjalan kembali ke apartemennya. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa setiap sudut apartemen Minerva sudah terpasang CCTV yang tersambung di ponsel milik Minerva. Jadi kapanpun itu Minerva tetap bisa mengecek apartemennya.
Flashback OFF
"Bukankah kita berdua hanya masuk ke dalam apartemen Minerva satu kali saja?" tanya Austin ke arah Emir.
"Emmm, sebelumnya aku sudah mengecek apartemen Minerva sebelum ke pantai." jawab Emir sambil menggaruk kepalanya Yang tidak gatal.
"Dan kakak bukan masuk ke dalam apartemenku pagi itu, melainkan mengecek kebenaran sandi pintu apartemenku bukan? Dan setelah itu kakak membukanya sebentar dan langsung pergi." ucap Minerva dan Austin jadi salah tingkah di depan adiknya.
"Ayolah Minerva, jangan membuatku malu seperti itu." gerutu Austin. "Baiklah, aku mengaku bersalah sudah masuk ke dalam apartemenmu tanpa izin."
"Aku juga minta maaf Minerva, sudah masuk ke dalam apartemenmu tanpa izin." timpal Emir sambil menangkupkan kedua tangannya.
__ADS_1
Wajah Minerva masih terlihat sangat serius sampai Emir dan Austin merasa tidak enak dengannya.
"Baiklah, aku akan memaafkan kalian dengan satu syarat." ucap Minerva.
"Deeeek, kamu ini kayak sama siapa aja. Aku ini kan kakakmu." ucap Austin sedikit tidak terima Minerva memberikan syarat kepadanya.
Sedangkan Emir justru menerima syarat yang akan diajukan oleh Minerva. "Katakan apapun syaratnya asal aku mendapatkan maaf darimu." ucap Emir membuat Austin memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Diiiih, cari muka banget sih." celetuk Austin.
"Syaratnya aku tidak ingin lagi melihat kalian bertengkar. Aku hanya ingin melihat kakak tersayang ini akur dengan sahabatku." ucap Minerva.
"Tidak bisa!" tolak Austin. "Dia bisa memanfaatkan aku nantinya."
Emir hanya tersenyum mendengar penolakan Austin. "Kau tahu sendiri kan Minerva, aku bukanlah pria pendendam seperti kakakmu itu. Jadi aku sangat setuju untuk menjalin hubungan baik dengan Kak Austin." ucap Emir dengan nada yang menggoda Austin.
"Dasar GILA!" celetuk Austin dan langsung menarik tangan Minerva.
"Lebih baik kita pulang sekarang, gak baik deket-deket ama orang gila kayak dia. Ntar bisa ketularan." ucap Austin.
Minerva makin geli dengan tingkah kakak laki-lakinya ini. Ia pun menuruti Austin dan langsung naik diboncengan sepeda yang belakang.
Sedangkan Emir langsung tertawa terbahak-bahak melihat Austin meninggalkan dirinya bersama dengan Minerva. Ia pun segera menuju ke arah sepeda yang tadi di pakai oleh Austin.
"Aaaaaarrrrgggghhhh, dasar kakak pembawa si*l. Dia pasti sengaja mengerjaiku." gerutu Emir kesal. "AUSTIN!!!! Awas kamu ya!!!" teriak Emir.
Sedangkan Austin hanya terkekeh mendengar teriakan Emir dan terus mengayuh sepedanya meninggalkan Emir di belakang sana.
"Kau dengar kan dek, bagaimana Emir sahabatmu itu berteriak? sudah semacam orang tidak waras." ucap Austin.
"Ck, kakak ini pasti ngerjain Kak Emir yaaa?" tanya Minerva. "Kasihan tauuuk."
"Diiiiih, kakak gak ngerjain dia kok." kelit Austin yang terus mengayuh sepedanya.
"Tapi kayaknya tadi aku lihat ban sepeda yang barusan di pakai kakak rodanya kempes deh, pasti ulah kakak kaaan?" tembak Minerva.
"Ih kamu ni tau aja sih. Itu hanya salah satu cara agar kita berdua nantinya makin akur. Seperti permintaanmu tadi." jelas Austin memberi alasan yang kurang pas menurut Minerva.
"Pinteran banget deh kakak ini cari alasannya." Minerva mencubit pinggang kakaknya.
__ADS_1
"Aduh, sakit deeek. Pelan pelan dong nyubitnya." keluh Austin dan kini Minerva pun terkekeh.
Keduanya kini saling bercanda sampai mereka tiba di villa. Sesampainya di villa, betapa terkejutnya Minerva dan Austin saat mendapati Emir yang sudah sampai lebih dulu di teras depan Villa. Emir tampak duduk santai bersama dengan Tuan Arthur.
"Hai Minerva, hai Kak Austin." sapa Emir sambil melambaikan tangannya.
"Kak Emir cepet amat sampainya." celetuk Minerva terkejut.
"Dia baru juga sampai, tadi Emir cari kalian berdua. Yaudah, kalian bisa ngobrol ngobrol bertiga. Daddy masuk dulu." ucap Daddy Arthur yang kemudian langsung masuk ke dalam villa.
"Heh, dasar orang gak tahu berterima kasih. Mana sepeda aku? Aku mau sekarang juga." ucap Austin dengan nada yang tidak terlalu tinggi.
"Sepedaa?" tanya Emir pura pura tidak tahu. "Oooooh, sepeda yang rodanya sengaja kamu kempesin itu ya? Tentu saja masih disana." jawab Emir acuh sambil menyeruput teh yang dibuatkan oleh Narayan.
Mendengar ucapan Emir barusan, membuat Minerva langsung menatap ke arah Austin sambil mengerutkan dahinya.
"Kaakaaak." panggil Minerva.
Austin kini hanya memperlihatkan deretan giginya di depan Minerva. "Yuk kita sarapan aja. Kamu pasti udah lapar kan?" Austin mengalihkan tatapan tajam Minerva.
"Iseng banget kakak nih." celetuk Minerva mencubit pinggang Austin. "Kak Emir, gabung yuk. Kita sarapan bareng." ajak Minerva.
"Dengan senang hati, Minerva." ucap Emir yang langsung mengikuti langkah Minerva.
"Eiiitzz, gak bisa gitu. Makan di sini gak gratis yaa Bro!" ucap Austin.
"Aku akan bayar deh, tenang aja!" jawab Emir santai.
"Bukan dengan uang, tetapi bawa sepedaku balik dengan kondisi prima." ucap Austin yang langsung merangkul Minerva menuju ruang makan.
"Oke." jawab Emir santai.
Di meja makan sudah ada Daddy Arthur dan Mommy Moona menunggu mereka untuk sarapan. Minerva duduk di samping Mommy dan juga Austin, sedangkan Emir duduk di samping Daddy Arthur.
...💞💞💞...
Hai Readers setia aku. Mampir yuk ke karya bestie Author.
Nama Pena : Komalasari
__ADS_1
Judul Novel : Jerat Asmara Sang Mafia