Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Kerjaan Baru


__ADS_3

Austin kini mengantar Minerva ke alamat yang dituju. Minerva terus saja memainkan ponselnya untuk mencari tahu seluk beluk perusahaan ayang akan ia tuju.


"Aku mengenal Direktur Lies Food Company. Apa kau mau aku antar masuk?" tanya Austin dan Minerva langsung meletakkan ponselnya.


"Benarkah?" tanya Minerva dengan matanya yang berbinar. "Kau mengenal Direktur Lilies?"


Austin menganggukkan kepalanya dan kini Minerva mulai berfikir jika Austin membantunya memperkenalkan dirinya dengan Direktur tersebut, maka dengan mudah Minerva menguak kebusukan di perusahaan itu dan mencari tahu keberadaan Yolanda.


"Kalau begitu, temani aku yaaa." Minerva menangkupkan kedua telapak tangannya dan menatap Austin dengan puppy eyesnya.


Austin tersenyum karena mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan Minerva. Sesampainya di lobby Lies Food Company, Austin langsung menghubungi resepsionis untuk mengantarkannya ke ruang Direktur.


Benar saja, kedatangan Austin langsung disambut dengan tangan terbuka oleh Direktur Lilies.


"Hallo Austin, long time no See. Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Direktur Lilies yang langsung memeluk Austin.


Austin yang tidak sempat menghindar langsung mengalihkan pandangannya ke arah Minerva. "Emmm, Minerva. Ini tidak seperti yang kamu fikirkan."


"Haaah? Maksudnya? Aku tidak memikirkan apa apa." jawab Minerva sambil mengerutkan dahinya.


"Ups, Sorry. Aku pikir Austin datang sendiri. Waaaah ternyata kau sudah menemukan tambatan hatimu, ya. Siapa gadis ini?" tanya Direktur Lilies menunjuk ke arah Minerva.


"Saya Minerva Bee yang tadi pagi sudah mengirim email untuk melamar pekerjaan disini sebagai Staf IT." jelas Minerva membuat Lilies langsung menerimanya tanpa menaruh curiga sedikitpun.


"Baiklah kalau begitu, aku juga sudah membaca surat lamaran dan beberapa pengalamanmu. Kau diterima, Minerva. Kenalkan, aku adalah Direktur Lilies." Direktur Lilies mengulurkan tangannya menyambut Minerva menjadi karyawan barunya dan Minerva pun membalas jabatan tangan atasan barunya.


Direktur Lilies langsung menunjukkan ruang kerja Minerva dan mengenalkannya dengan para Staf IT. Minerva langsung berbaur dengan yang lain dan mempelajari job desk yang harus ia kerjakan. Sedangkan Direktur Lilies kembali ke ruangannya.


"Seleramu lumayan juga, Austin. Apa yang membuatmu kini membuka hati untuk gadis itu?" tanya Lilies.


Lilies adalah sepupu jauh Austin yang merintis perusahaannya sejak 3 tahun yang lalu. Lilies sangat memahami Austin yang terkenal humble dan sulit untuk jatuh cinta. Tapi kali ini, Austin benar-benar terlihat sangat berbeda saat bersama dengan Minerva.


"Emmm, jatuh cinta tidak butuh alasan bukan?" timpal Austin dan Lilies pun terkekeh.

__ADS_1


"Aku harap Dwayne juga akan membuka hatinya untukku setelah sekian lama menutup hatinya sendiri. Sama sepertimu."


Lilies selama ini memang sangat menginginkan Emirio Dwayne menjadi kekasihnya sejak pertama kali bertemu. Hanya saja Dwayne yang sangat dingin sangat mengacuhkan Lilies dan hanya menganggapnya sebagai partner bisnis saja tidak lebih.


"Sepupuku ini ternyata Direktur yang bodoh." celetuk Austin.


"Apa kau bilang?!" Lilies langsung mendelik geram tidak setuju dengan ucapan Austin.


"Bagaimana aku tidak menganggapmu bodoh, jika selama ini kau masih saja mendambakan es batu seperti Emir yang mungkin tidak akan mencair."


Lilies langsung memukuli lengan Austin tanpa ampun mendengar pria idamannya dikatakan es batu. "Kurang ajar kau ya."


"Awwwh, sakit tau." keluh Austin yang tidak digubris sama sekali oleh Lilies.


"Lain kali pikir dulu baik-baik sebelum kamu ngomong gak jelas kayak gini." Lilies pun memberi pukulan keras terakhir kali di lengan Austin dan kembali ke meja kerjanya.


Lilies tampak diam termenung memikirkan ucapan sepupunya. Dalam hati kecilnya, ia membenarkan ucapan Austin. Emirio Dwayne memang sangat dingin dan bahkan saking dinginnya mungkin melebihi es batu yang ada di kutub Utara.


"Aku tahu, kamu pasti lagi berfikir bukan jika Ucapan ku kali ini benar, bukan?"


Tanpa Lilies sadari, ia pun menganggukkan kepalanya.


"Eh, mana mungkin kau benar. Jelas-jelas kau salah sudah menghina Emirku!" sanggah Lilies sambil melemparkan pulpen ke arah Austin.


Sedangkan Austin hanya terkekeh sambil beranjak keluar ruangan Lilies. Tepat saat Austin membuka pintu ruangan Lilies, terlihat Dwayne dan asistennya berjalan menuju ke ruangan Lilies.


Kini Dwayne dan Austin pun saling bertukar pandang. Seketika Austin teringat bahwa Dwayne dulu sangat dekat dengan Minerva dan tidak menutup kemungkinan bahwa Dwayne juga menyukai Minerva.


"Dwayne tidak boleh tahu jika Minerva masih hidup." gumam Austin dalam hati saat Dwayne melewatinya begitu saja.


Austin menuju kantin di perusahaan Lies Food sambil menunggu Minerva selesai bekerja. Sedangkan Dwayne kini sudah berada di dalam ruangan Lilies.


"Aku sangat senang anda datang, Mr. Dwayne. Silahkan duduk." ucap Lilies dengan mata berbinar melihat idaman hatinya ada di depan mata.

__ADS_1


"Waktuku tidak banyak. Kita langsung saja membahas tentang model iklan yang kau inginkan untuk produk makananmu." ucap Dwayne dingin.


Sebagai CEO salah satu Event Organizer terbesar, Dwayne memang lebih suka datang langsung ke Perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan miliknya terlebih mengenai pembuatan Iklan suatu produk. Kedatangan Dwayne tidak lain untuk mengecek secara detail produk yang akan mereka buat iklan dan nantinya akan tayang di stasiun televisi.


Biasanya Lilies selaku mengandalkan asisten dan Manager nya untuk setiap agenda periklanan. Tapi kali ini, berhubung ia bekerja sama dengan Dwayne, Lilies pun menjelaskan tentang produknya sendiri tanpa bantuan asisten maupun Manager di perusahaannya.


Dwayne dan asistennya benar-benar menangkap informasi dari Lilies secara detail. Tapi tak lama kemudian Dwayne merasakan ada yang janggal dari penjelasan Lilies.


"Tunggu sebentar Nona, sedari tadi anda hanya menjelaskan tentang bentuk makanan ringan, pengemasan, dan cara pembuatannya saja. Saya ingin tahu bahan-bahan yang digunakan untuk snack ini." ucap Dwayne.


Lilies terdiam cukup lama untuk menjawab pertanyaan Dwayne mengenai bahan pembuatan produk snacknya.


"Emmmh, bahannya tentu saja sangat aman, Tuan. Seperti tepung, garam, dan gula saja. Dan ada bahan pengawet alami yang dibubuhkan di dalamnya." jawab Lilies.


"Bisakah aku melihatnya secara langsung bahan yang digunakan dan cara pembuatan produk ini?" tanya Dwayne kemudian membuat Lilies harus menelan ludahnya kasar.


...🍒🍒🍒...


Readers ku yang baik, mampir yuk ke novel temen Author 😊😊😊


Nama Pena : Asyfa


Judul Novel : Aku Di Antara Mereka


...DIA TIDAK PERNAH MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DALAM PERNIKAHANNYA KARENA SIKAP ISTRINYA. TAPI DIA MALAH BERTEMU DENGAN SOSOK WANITA LAIN YANG MAMPU MEMBAWANYA LEBIH NYAMAN, APAKAH YANG HARUS DIA LAKUKAN? MEMILIH SETIA DALAM PERNIKAHAN NERAKA ATAU MENDUA UNTUK MENGGAPAI SURGA?...


...Reyhan rela menikah dengan istrinya yang kejam demi membayar hutang sang ayah. Namun, pernikahan Reyhan tidaklah seperti pernikahan pada umumnya. Belasan tahun menikah dikaruniai dua orang anak, tapi tak pernah sekalipun dia menyentuh istrinya. Sejak bertemu Hanna kehidupan Reyhan mulai berubah. Bagaimana nasib pernikahannya dengan istri kejamnya? Ataukah dia lebih memilih Hanna sebagian teman dalam hidupnya? Lalu anak siapakah keduanya?...


...



...

__ADS_1


__ADS_2