
Setelah Jovita dan Papi Aris pulang dari Mansion Wycliff, Minerva langsung bersiap - siap untuk pergi dengan Emir. Minerva terus mematut dirinya di depan kaca. Ia tidak ingin terlihat kucel saat berjalan bersama Emir nanti.
"Ehmm. Anak Mommy mau kemana sih cantik banget." puji Mommy Moona yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Minerva.
"Minerva mau pergi sama Kak Emir ya Mom." ucap Minerva.
"Mommy sebenarnya sangat berat sayang untuk melepasmu pergi, tetapi Mommy kali ini tidak akan menahanmu di Mansion. Pergilah sayang." ucap Mommy mengusap kepala Minerva.
"Thanks Mommy." ucap Minerva memeluk Mommynya.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar Minerva di ketuk oleh salah satu asisten rumah tangga.
"Non, den Emir sudah menunggu di ruang tamu."
"Iya mbaaa." teriak Minerva. "Mom, Minerva pamit dulu ya."
Mommy Moona mengangguk dan melambaikan tangannya ke Minerva. "Hati-hati ya sayaaang."
"Oke Mom." balas Minerva yang langsung keluar dari kamarnya. Sedangkan seperti biasa, Mommy Moona memanggil asisten rumah tangga untuk membersihkan kamar Minerva.
Senyum Minerva merekah melihat Emir yang kini duduk di ruang tamu ditemani oleh Daddynya. Minerva yakin Daddy nya pasti menitipkan banyak sekali pesan agar Emir terus menjaga Minerva dengan baik.
"Minerva, Daddy kali ini hanya memberi waktu sampai siang. Jangan terlambat pulang ya sayang." ucap Daddy saat Minerva menyalami Daddynya.
"Molor sedikit gak papa ya Dad." pinta Minerva sambil memperlihatkan puppy eyesnya.
"Yang terpenting saat Daddy sampai di Mansion, Minerva juga harus sudah di Mansion." ucap Daddy dan Minerva pun setuju.
"Saya izin bawa Minerva ya Om." ucap Emir.
"Ingat pesan Om tadi ya, Emir."
Emir pun langsung mengangguk dan berbalik sambil memegang tangan Minerva.
"Hari ini cerah banget mukanya sayang." puji Emir. "Lagi seneng banget yaa keluar dari Mansion meski sebentar?" tanya Emir yang terus memandangi Minerva.
"Iya dong kak. Sebulan loh Minerva dikurung." balas Minerva sambil mengerucutkan mulutnya.
Perlahan Emir mengusap bibir Minerva, "Jangan Manyun gini dong, sayang. Nanti kakak jadi pingin nyicipin bibir Minerva." ucap Emir.
"Diiiih, mana bisa seperti itu." ucap Minerva dengan wajah yang mulai merona.
Kini keduanya sudah berada di mobil dan Emir langsung menjalankan mobilnya ke tempat yang pertama kali Minerva ingin kunjungi.
"Kenapa sih Minerva pingin ke Perusahaan kakak?" tanya Emir.
__ADS_1
"Aku mau ketemu sama Andre."
"For What?"
"Lihat aja nanti."
"Andre ada salah ya?"
Minerva hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Emir. Karena dipenuhi ras penasaran yang besar, Emir pun menambah kecepatan mobilnya dan mereka sampai di Kantor Emir lebih cepat.
"Andre kemungkinan ada di ruanganku, Minerva." ucap Emir saat membukakan pintu untuk Minerva.
Sayangnya baru saja Minerva menginjakkan kakinya, beberapa wartawan langsung berlarian menuju ke mobil Emir dan menghalang langkah Minerva.
Semua wartawan itu langsung menyerbu Minerva dengan beberapa pertanyaan. Dengan sigap Emir melindungi Minerva agar tidak terdorong oleh wartawan yang sudah mengerumuni mobilnya,
"Kak, lebih baik minta mereka untuk berkumpul di ruang pertemuan. Aku akan menemui mereka nanti." ucap Minerva.
Emir pun langsung meneriakkan apa yang diinginkan Minerva, sayangnya hanya beberapa saja yang mendengarkan Emir. Untungnya saja Andre dan beberapa penjaga langsung meniupkan peluit.
Dengan cepat Andre membantu Minerva keluar dari kerumunan para wartawan. Sedangkan para wartawan kini sedang diurus dengan para penjaga.
Emir, Minerva dan juga Andre kini langsung masuk lift untuk menuju ke ruangan Emir.
"Sekarang aku paham kenapa Daddy dan Mommy mengkhawatirkan diriku." gumam Minerva.
"Maaf Tuan, para wartawan memang sudah sering berjaga di parkiran setiap pagi untuk memastikan kedatangan Nona Minerva." ucap Andre.
"Kenapa kau tidak pernah melapor padaku dan membiarkan mereka?" tanya Emir dengan nada bicara yang tinggi.
"Maaf, Tuan. Saya kira ini tidak akan menjadi masalah yang besar." ucap Andre.
"Kita selesaikan masalah ini di ruangan Kakak saja." ucap Minerva yang juga memiliki urusan dengan Andre.
Andre pun terus menundukkan kepalanya sampai pintu lift terbuka. Emir dan Minerva terus berjalan menuju ruang kerja Emir dan diikuti oleh Andre yang masih tetap menundukkan kepalanya.
Bugh! Minerva langsung memukul rahang kanan Andre saat sampai di ruangan Emir dan membuat Emir sangat terkejut.
Andre pun langsung memegang rahangnya dan mulai keluar darah segar dari ujung bibir. Ia sangat tidak menyangka Nona mudanya ini memberi pukulan yang sangat menyakitkan.
"Itu adalah satu pukulan untuk mewakili perasaan Yolanda." ucap Minerva membuat Emir dan Andre sama-sama terkejut.
Bugh! Kali ini Minerva kembali melayangkan bogemnya ke rahang kiri Andre.
"Dan ini pukulan karena kau sudah tidak berkata jujur dengan Jovita."
__ADS_1
Kali ini Andre membelalakkan matanya dengan sempurna. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Minerva mengetahui perbuatannya selama satu bulan ini.
"Sekarang bersihkan lukamu dan segera jelaskan semuanya padaku!" ucap Minerva.
Andre pun membungkukkan tubuhnya dan berbalik menuju ke kamar mandi. Sedangkan Emir langsung mengajak Minerva duduk di sofa.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi, sayang?" tanya Emir sambil mengusap tangan Minerva yang baru saja digunakan untuk meninju wajah Andre.
"Dia mengkhianati Yolanda, Kak. Dan nanti malam ia akan melamar Jovita." ucap Minerva geram.
Kali ini Emir langsung membuang nafasnya kasar saat mendengar cerita Minerva.
"Bisa-bisanya dia meninggalkan Yolanda begitu saja." gerutu Minerva kesal.
"Hari ini surat pencabutan gugatan Yolanda sudah aku kirim ke Kantor Polisi dan juga pengadilan. Kemungkinan satu minggu ke depan ia bisa bebas." ucap Emir.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan Yolanda saat sudah bebas nanti saat mengetahui Andre menikah dengan Jovita." gumam Minerva.
Tak lama kemudian Andre pun masuk kembali ke ruangan Emir dan menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.
Ternyata ibu kandung Andre sudah sangat menginginkan seorang cucu. Terlebih saat mendengar kekasih Andre tertangkap polisi dan masuk bui, ibu kandung Andre langsung tidak menyetujui hubungan Andre dan juga Yolanda.
Tepat saat Andre sangat bingung dengan permintaan ibunya, ia bertemu dengan Jovita ketika mengurus keuangan perusahaan. Dan kebetulan sekali Jovita juga sempat bertemu dengan ibu kandung Andre saat berbelanja di pasar.
Dan bahkan Jovita membantu membawa barang belanjaan dan mengantar nya pulang ke rumah. Mulai itulah Andre dan juga Jovita makin dekat dan menjalin hubungan.
"Lalu bagaimana dengan Yolanda?" tanya Minerva.
"Aku sudah meminta maaf padanya, dan dia juga bisa memahami keadaan aku saat itu, Nona. Saya mohon maaf." ucap Andre.
"Aku kasihan dengan Yolanda. Aku ingin menjenguk Yolanda, Kak." pinta Minerva sambil memijit kepalanya.
"Tidak bisa sayang," ucap Emir.
"Andre, kau bisa kembali ke ruangan mu untuk bekerja. Siang nanti kau bisa pulang lebih awa untuk mempersiapkan keperluanmu nantia malam." perintah Emir.
"Baik, Tuan" jawab Andre yang kemudian undur diri dari hadapan Amir dan juga Minerva.
Setelah Andre keluar dari ruang kerja Emir, Minerva kembali meminta Emir untuk mengantarkannya menjenguk Yolanda.
"Sayang, dengarkan aku." ucap Emir menangkupkan tangannya di pipi Minerva. "Itu sangat berbahaya untukmu. Dan aku sama sekali tidak ingin membuat Om dan tante makin khawatir."
"Tapi aku sangat ingin bertemu dengan Yolanda kak." pinta Minerva dengan mata yang berkaca-kaca.
Emir pun berfikir keras bagaimana merayu Minerva agar menahan keinginannya untuk menemui Yolanda.
__ADS_1
"Emm, begini saja. Bagaimana kalu kita sekarang Video Call dengan Yolanda? Nah nanti saat ia bebas dari Rutan, aku akan segera membawanya bertemu denganmu, sayang." ucap Emir memberikan saran pada Minerva.
Akhirnya Minerva pun setuju dan Emir langsung menghubungi kantor polisi agar dihubungkan dengan Yolanda.