
Setelah mencari cincin pernikahan, Tirani di Tinggal begitu saja oleh Arnold dengan alasan masih ada kelas di kampus padahal bukan karena ada tugas tapi karena dia malas untuk bersama-sama dengan Tirani
Tirani hanya bisa menghelaikan napas nya ketika di tinggal oleh Arnold " Sabar rani dengan ke sabaran mu pasti akan membuahkan hasil " ucap tirani mengelus dadanya dan memutuskan untuk pulang ke rumah kedua orang tua nya
Sesampai nya di rumah Tirani langsung menaiki tangga untuk masuk kedalam kamar nya menaruh tas yang dia gunakan dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur " Mi,Pi, aku merindukan kalian, apa kalian juga merindukan ku?" gumam Tirani menatap langit-langit kamar
Air mata Tirani membasahi pipinya, entah kenapa rasanya ia sangat sedih merindukan kedua orang tua nya, semua ini terasa Mimpi baru saja kemarin dirinya merayakan ulangtahun bersama kedua orang tua nya namun sekarang Tirani tinggallah sendirian
Tirani yang sangat manja kepada kedua orang tua nya Kini harus mandiri dan mengurus semua nya sendiri.
Karena lelah, Tirani menutup kedua matanya dengan tangan menjadi bantalan kepalanya
~ Di rumah Arnold
Arnold sedang di sidang oleh Mami nya karena sampai jam sepuluh malam Tirani belum juga pulang, padahal tadi siang Tirani pergi bersama Arnold
" Pokonya kamu cari tirani Samapi ke temu kalo tidak jangan harap kamu bisa pulang " ancam Mami menatap Arnold
" Lalu Arnold harus mencari nya kemana Mam, Arnold gak tau saat ini dia di mana " keluh Arnold
" Kalian sebentar lagi akan menikah mana mungkin kalian tidak saling tukar no handphone dan tidak mengetahui dimana saat ini Tirani berada " Ucap Papi tegas
" Tirani, Tirani dan Tirani kenapa sekarang kalian sangat menyukai wanita itu " keluh Arnold kesal
Plak..
Arnold langsung memegangi pipinya ketika sang papi menampar nya dengan keras " Apa kau lupa dengan yang papi ucapkan kepadamu Hem, Tanpa orang tua nya tirani kita tidak akan bisa hidup bahagia, Bahkan tanpa mereka kita tidak akan hidup enak seperti saat ini "
Arnold terdiam, 15tahun yang lalu dia ingat betul ketika dulu papi nya mencari Dana untuk mengembangkan perusahaan nya bahkan Papi Arnold Samapi sakit karena tidak ada yang mau menanam saham di Perusahaan nya
__ADS_1
dengan kemurahan hati papi Tirani, ia menanam saham yang cukup besar sehingga perusahaan papi Ibaram Bangkit kembali
Saat itu, Papi Ibram bukannya tidak ingin meminta bantuan kepada sang kakak, tapi Papi Ibram merasa malu karena telah ketahuan menggelapkan dana dari perusaan sang kakak Johana untuk mendirikan perusahaan miliknya, Tidak ada yang tau kecuali keluarga karena Mom Johana menutup rapat masalah ini.
" Pergi sekarang dan cari Tirani sampai ketemu!! " Ucap Papi
Dengan emosi yang masih di ubun-ubun, Akhirnya Arnold pergi mencari Tirani dengan menggunakan mobil nya
" Kemana perginya Tirani Pih, Mami Khawatir dengan gadis itu "
" Tenang lah mih, paling juga Tirani pulang ke rumah orang tua nya " ucap papi mengelus bahu mami
" Semoga saja, kasian Dia Pih, hidup nya sudah sebatang kara hanya kita yang dia milikki "
" Biar Arnold yang mencari nya, ini sudah menjadi tugas nya mencari Tirani"
Di dalam mobil Arnold memukul stir mobil nya dengan keras, bagai mana tidak Arnold yang tadi nya mau mencapai pelampiasan harus tertunda karena dering Telpon yang tiada hentinya
Arnold memasuki rumah Besar dengan bercat warna putih " Buka " pinta Arnold kepada sekuriti
Sesudah memarkirkan mobil nya, Arnold langsung masuk kedalam rumah dan mencari Tirani, Arnold yakin jika Tirani ada di kamar nya
Ceklek
Benar saja Arnold melihat Tirani yang sedang tidur dengan pakaian yang tadi siang ia gunakan " Gue yang kena tamparan sedangkan dia malah enak-enak Tidur di sini " keluh Arnold
Arnold berjalan dan membangunkan Tirani " Tirani bangun " Ucap Arnold menggoyangkan Lengan Tirani
Tirani yang merasa terusik langsung bangun dari tidur nya " Kak, Arnold " Ucap nya dengan suara paruh
__ADS_1
" Bagus ya, gue yang kena semprot sama bokap Lo malah enak-enak tidur di sini, Kenapa Lo gak pulang ke rumah mami dan papi "
Tirani mengusap kedua Mata " Maafkan aku kak, aku tadi hanya sedang merindukan kamar ku " jawab Tirani sambil menunduk karena takut
Arnold melihat mata Tirani yang sembab, Arnold yakin jika Tirani habis menangis ada rasa kasihan namun Arnold tepis
" Cepat cuci muka dan kita pulang ke rumah, mami sedari tadi menunggu untuk pulang " Ucap Arnold ketus sambil meninggalkan Tirani
Tirani yang polos langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajah nya dan mengambil tas miliknya
" Sudah kak " Kata Tirani
Arnold tidak menjawab lalu masuk kedalam mobil nya di susul dengan Tirani, Tirani sangat takut kepada Arnold membuat Tirani tidak berani menatap Arnold
" apa kau sudah makan.?" tanya Arnold, Arnold melihat Tirani yang memegangi perut nya, Arnold yakin jika Tirani belum makan sejak tadi siang
" Apa kamu budek hah!"
" Stop kak, Stop kakak membentak ku seperti itu, Kakak tidak berhak membentakku hiks.. Jika kakak tidak suka dengan ku, kakak tinggal bilang kepada Mami dan papi kakak agar tidak melanjutkan perjodohan ini hiks " Tanpa menatap Arnold Tirani meluapkan isi hati nya
" Apa kakak pikir aku mau menjalani hidup ku Karen atas dasar kasihan? Aku juga tidak mau ada perjodohan ini tapi kenapa seolah-olah hanya kakak yang tersakiti di sini hiks, kenapa kakak terus saja memarahiku, membentakku, memaki ku " ucap Tirani " Kenapa kak kenapa !!! hiks "
Arnold menatap Tirani sekilas karena dirinya sedang membawa Mobil, Ucapan Tirani berhasil membungkam Mulut Arnold, Arnold tidak percaya jika Tirani berani melawan nya.
Entah apa yang Tirani pikiran saat ini apa karena sedang menahan perut yang lapar membuat Tirani berani membentak Arnold walaupun tidak dengan menatap nya, yang jelas Tirani saat ini menyesali apa yang sudah ia ucapkan kepada Arnold.
Sesampai nya di rumah tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, Tirani turun lebih dulu dan langsung masuk kedalam kamar nya karena malam juga sudah larut Papi dan mami sudah tidur di kamar nya
Sesampai nya di kamar, Tirani mengunci kamar dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu
__ADS_1
" Tirani, kenapa kamu berani sekali memaki nya, bagai mana jika besok Dia semakin marah kepadamu, Kamu bodoh Tirani Bodoh " Tirani memukul-mukul kepalanya, Tirani menyesali perkataan nya.