
PENYESALAN TUAN HAZLAN
Keesokan hari nya para tenaga medis memantau kondisi Dav kecil sejak pagi tadi tepat pada pukul 6. Bunda Sita yang sudah membaik langsung begitu setia menunggu keadaan sang putri.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan nampak lah beberapa perawat dan 2 dokter menangani keadaan Dav menghampiri mereka yang kurang lebih 4 orang, sementara sekretaris Andi di tugaskan untuk menghandle kantor.
tuan Hazlan langsung bertanya kepada 2 dokter tersebut, yaitu dokter psikiater dan dokter umum yaitu dokter Tino sendiri.
" Bagiamana kondisi anak saya saat ini dok, kenapa belum sadarkan diri dari kemarin?" Tanya tuan Hazlan khawatir.
" Alhamdulillah nona Dav sudah sadar tuan namun,,,,"
" Namun apa dok!! katakan yang jelas." Tanya tuan Hazlan tak sabaran.
" Baik lah,,, namun nona Dav harus di tangani langsung oleh dokter psikiater, maka dari itu saya membawa rekan saya ini untuk memantau kondisi kejiwaan pasien. untuk ingin tau lebih nya silahkan anda berbicara langsung kepada dokter Hamid, kalau begitu saya permisi,,, mari semua." Ucap dokter Tino melangkah pergi menuju keruangan nya.
Bunda yang mendengar keadaan putri nya hanya mampu menangis tak kuasa saat tau anak nya hampir mengalami gangguan jiwa.
Setelah kepergian dokter Tino, dokter Hamid mengajak tuan Hazlan untuk keruangan nya dan menjelaskan semua yang di alami pasien.
" Bisa kita bicara di ruangan saya tuan, saya akan memberitahukan hal penting yang memang harus di bicarakan di ruangan saya." Ucap dokter Hamid.
" Baik lah dokter, tapi sebelum nya apa anak saya boleh di jenguk dulu?" Tanya tuan Hazlan.
" Silahkan tuan,,, tapi hanya satu orang saja yang boleh menjenguk, karena kondisi pasien masih dalam pantauan kami mengingat usia nya masih tergolong anak-anak." Jelas dokter Hamid.
" Baik lah kalau begitu biar istri saya saja yang menjenguk nya,,, sayang kamu liat anak kita ya, biar aku yang menuju ke ruangan dokter Hamid, untuk kalian tolong jaga istri dan anak ku." Ucap tuan Hazlan dengan mencium kening sang istri, lalu memberikan perintah kepada pengawal dan pelayan nya.
Bunda Sita hanya mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
" Siap tuan." Ucap para pengawal dan pelayan.
" Mari tuan ikut saya." Ucap dokter Hamid.
Sesampai nya di ruangan dokter Hamid, dokter tersebut menjelaskan apa yang membuat pasien harus membutuhkan dokter psikiater, karena dia usia anak-anak seperti Dav kecil memang sangat membutuhkan kelembutan dan kehangatan serta kasih sayang dari orang terdekat nya, bahkan usia seperti itu harus di pantau perkembangan nya, dari segi pemikiran bahkan lingkungan pergaulan nya juga cara dia beradaptasi dengan orang lain.
" Dengan sangat berat hati saya harus mengatakan jika kondisi pasien mengalami depresi yang cukup serius tuan. Maka saran saya, jangan sesekali ada yang membentak nya bahkan hanya sekedar memarahi nya, mengenal memori seorang anak kecil mudah cepat tanggap. Maka mereka akan mudah menyaring setiap perbuatan yang mereka alami, apapun itu tanpa terkecuali. Maka dari itu, saya ingatkan untuk jaga emosi siapapun jika suatu saat pasien nakal atau apa, wajar saja anak kecil nakal. Karena fase usia seperti anak anda memang usia nya aktif aktifnya. Dan coba untuk menyenangkan hati nya ketika nona kecil sedang sedih, jangan pernah mengajak nya ke suatu tempat yang mengingatkan nya pada kejadian yang menyakitkan nya. Saya tau itu sulit tapi jika nona kecil sampai pada tahap depresi berat akan sangat sulit untuk menyembuhkan nya, bahkan anak tersebut tumbuh menjadi anak yang murung jika tidak segera di obati. Saya yakin anda sosok ayah yang hangat, hanya saja anda mudah tersulut emosi tanpa berpikir panjang, saran saya berusahalah untuk sabar ketika suatu saat nanti nona kecil melakukan suatu kesalahan. Jangan sampai ia kambuh kembali, jika sampai kambuh maka ia bisa saja berada di fase depresi berat dan itu sangat berbahaya sekali tuan. Saya yakin keluarga Radiansyah pasti keluarga yang hangat, semoga nona kecil cepat kembali seperti anak kecil yang ceria, saya tau nona kecil anak yang ceria, sebisa mungkin jaga lah mood nya jangan sampai ia merasa sedih dan kesepian,,, kira nya seperti itu tuan Hazlan."
Begitu panjang lebar dokter Hamid menjelaskan kondisi Dav saat ia memeriksa keadaan Dav kecil.
*Nak. A*yah tau kamu gadis kecil ayah yang kuat, segeralah sembuh sayang, ayah minta maaf tidak ada saat kamu ketakutan,,, maafkan ayahmu yang bodoh ini nak, ayah janji kejadian ini tidak akan terulang kembali. batin tuan Hazlan sedih.
" Baik lah dok terima kasih, kalau begitu saya permisi."
Tuan Hazlan beranjak dari kursi yang tepat di hadapan dokter Hamid.
Sementara bunda dengan setia nya menemani Dav yang saat ini hanya terdiam membisu, bahkan jika di ajak bicara hanya menjawab sekena nya dan syukur nya Dav kecil tidak sampai teriak histeris ketakutan, malah justru ia memeluk erat tubuh bunda Sita posesif.
Bunda bahkan tanpa sadar kembali menetes kan air mata nya melihat sang putri terlihat murung.
" Apa paman Andi mau belikan Dav es krim bunda?" Akhir nya Dav membuka suara nya.
" Iya sayang bahkan paman bisa membawa banyak es krim asalkan Dav mau makan dulu, ya nak."
Dav mengangguk pelan dan makan dengan di suapi oleh bunda Sita. Tanpa mereka sadari tuan Hazlan melihat momen itu di balik celah pintu, ia kuasa menahan tangis saat sang putri terlihat seperti mayat hidup.
*Y*a Allah nak,,, malang sekali nasib mu, ayah janji ini terakhir kali nya kau begini nak. Ayah akan selalu melindungi kalian, kamu dan kakakmu adalah jantung hati ayah nak,,, sakit sekali hari ayah melihat mu seperti ini nak hiks. Batin tuan Hazlan.
Bahkan ia menangis tersedu-sedu, para pelayan dan pengawal yang melihat tuan nya menangis ikut bersedih melihat nya.
*Ka*sihan sekali tuan Hazlan, semoga saja mereka mampu melewati nya Aamiin. Batin salah satu pengawal yang ikut sedih.
•Flashback off
__ADS_1
Irgi sangat kaget saat Dev dengan emosi nya marah besar kepada tuan Hazlan, bahkan tuan Hazlan tak sedikitpun berkutik melainkan ia diam karena menyesal telah bertindak bodoh.
" Dev istighfar lu, gw tau lu marah, tapi apa di benarkan sampai lu meninggikan suara lu sama orang tua? sadar Dev, gak baik lu meninggikan suara lu biar ayah salah sekalipun tapi gak boleh bertindak di luar batas, tahan emosi lu, biar gw yang bawa Dav ke kamar." Ucap Irgi tegas.
Sampai sakit kepala Dev terpancing emosi saat ia tak sengaja meninggikan suara nya di depan tuan Hazlan. Sementara Irgi membawa Dav ke kamar nya yang masih menangis sesenggukan.
Bunda menghampiri putra sulung nya yang saat itu sedang meredakan emosi nya.
" Nak. Bunda paham sekali bagaimana khawatir nya kamu, tahan emosi mu ya nak, ayah seperti itu karena khawatir kan adik mu. Ayah takut terjadi apa-apa sama Dav nak, percaya lah bahwa ayah menyayangi kalian semua." Ucap bunda Sita lembut sambil mengusap punggung putra sulung nya.
Tiba-tiba...
tes
Dev justru menangis bahkan ia sampai terduduk di lantai, dengan sigap bunda dan tuan Hazlan menahan Dev yang hampir tumbang. Ia mengingat kejadian 12 tahun lalu, saat waktu itu ia bermain dengan sang adik di taman kompleks perumahan elite, ia melihat 2 orang berperawakan tinggi dan baju serba hitam membawa adik nya pergi. Sementara Dev tidak di bawa nya, Dev kecil menangis meraung keras di depan mata nya sendiri menyaksikan adik nya di culik.
" Hiks hiks huuuuuuhhhhh kakak takut kejadian itu membuat adek kembali kambuh sakit nya hiks hiks kakak gak kuat liat adek setiap malam menangis ketakutan hiks." Pecah sudah air mata Dev yang sedari tadi ia tahan.
Tuan Hazlan sungguh sangat menyesali perbuatannya yang mana ia juga membuka luka kedua anak nya yang sangat takut akan kejadian itu.
" Maafkan ayah nak, sungguh ayah tidak bermaksud membuka luka lama yang membuat kalian takut, ayah hanya takut adik mu kenapa-napa itu saja, ayah tidak bermaksud berbicara keras hiks huuuuuuhhhhh." Ucap tuan Hazlan memeluk putra sulung nya yang menangis bahkan tubuh nya gemetar karena terlalu dalam ia menangisi kejadian yang ia ingat itu.
Bunda Sita juga memeluk kedua pria berbeda usia itu yang ia sayangi, ia seolah memberikan kekuatan untuk mereka.
" Shut,,,,jangan ingatkan kejadian buruk itu lagi,,, bukan kah kita sudah mengubur nya dalam-dalam, jangan sampai Dav mengingat kejadian itu, bisa fatal akibatnya, cukup kita saja dan mendiang Andi saja yang tau akan hal ini." Bunda berusaha tegar agar mereka berdua tidak menangis mengingat kejadian kelam itu lagi.
...****************...
Hummm kasian😭
Othor bikin novel nya tapi othor juga ikut nangis baca nya,,, sedih banget huaaa
Semoga Dav kuat ya supaya gak kambuh lagi trauma nya🥺
__ADS_1