Happy Story In High School

Happy Story In High School
136. KETULUSAN HATI TUAN MARVIN


__ADS_3


KETULUSAN HATI TUAN MARVIN



Dante yang begitu semangat saat menuju ke rumah sakit, karena ia tau jika di sana pasti ada kekasih nya yang sangat ia cintai. Padahal ia tak pernah absen selalu mengajak nya jalan-jalan, bahkan kedua orang tua Tere sudah tau hubungan mereka berdua. Tapi entah mengapa seolah hawa rindu selalu menyelimuti hati nya, kala ia jauh dari kekasih hati nya.


Ya...dirimu terkena virus bucin rupa nya wkwkwkwk.


Sesampai nya mereka di rumah sakit, tuan Marvin dan Dante langsung menuju ke ruangan di mana Julia di rawat. Sampai sana mereka melihat orang tua dari Julia sedang berbincang dengan dokter yang menangani Julia. Mereka berdua langsung menuju ke sana. Dante sedikit kecewa karena gadis nya tidak ada, tapi ia yakin pasti ia akan datang ke rumah sakit untu menjenguk sahabat nya.


" Selamat siang tuan Hoon dan semua, bisa kah kita bicara sebentar. ingin menyangkut pendonor lambung untuk nak Julia." Tanya tuan Marvin.


" Baik lah tuan kalau begitu, bagaimana kalau kita bicara di ruangan saya sembari membicarakan perkembangan kesehatan pasien." Ucap dokter Rico.


Mereka semua menuju ke ruangan dokter Rico. Setelah nya mereka baru membicarakan hal serius mengenai perkembangan Julia.


" Jadi begini dok, saya sudah mendapatkan pendonor lambung untuk nak Julia. Lalu bagaimana pasien bisa melakukan operasi nya dok?" Tanya tuan Marvin.


" Tuan Marvin, bagaimana mungkin ada bisa semudah itu mencari organ tubuh manusia dalam waktu singkat. Apalagi lambung cukup sulit di cari." Appa Hoon cukup terkejut saat mendengar penuturan dari tuan Marvin.


" Saya akan melakukan apapun yang menurut saya harus di cari tuan, bahkan jika itu nyawa taruhannya. Maka saya akan lakukan itu." Ucap nya sembari tersenyum.


" Terima kasih banyak tuan atas bantuan anda, saya sangat berhutang nyawa dengan anda, bahkan nyawa pun saya rasa tidak cukup untuk membalas jasa anda yang begitu besar untuk putri kecil saya." Jawab nya menangis.


" Nak Julia sudah seperti anak saya sendiri tuan, jadi anda tidak perlu merasa sungkan seperti saya. Anggap lah ini sebagai ucapan terima kasih saya kepada nak Julia karena sudah begitu setia menjadi sahabat putra saya begitu pun semua nya."

__ADS_1


Dante mendengar nya sangat tersentuh, ia sangat bersyukur karena bisa di pertemukan oleh seseorang yang berhati mulia seperti tuan Marvin.


Paman. mulia sekali hati mu, bahkan paman tak pandang bulu menolong seseorang, saya sangat bersyukur bisa di pertemukan oleh seseorang yang memiliki hati yang mulia seperti anda. Semoga paman dan keluarga selalu di berkah kan kebaikan dan selalu ringan menolong sesama. Ucap Dante dalam hati.


" Baik lah tuan jika pendonor sudah ada, maka langkah selanjut nya adalah kita harus melakukan kecocokan dahulu terhadap tubuh pasien, karena setiap orang mendonor kan organ tubuh nya ke pasien harus ada kecocokan juga dan tubuh pasien bisa menerima donoran yang pasien dapatkan, memang pada awal nya saat melakukan operasi pendonor lambung, pasti akan ada reaksi penolakan, namun itu adalah hal yang wajar sekali. Maka dari itu kami akan melakukan tindak operasi sekitar malam hari nanti." Jelas dokter Rico.


" Baik lah dok, lakukan yang terbaik untuk pasien. Apapun itu lakukan dok, jika organ lambung yang saya dapatkan tidak ada kecocokan. Maka sampaikan saja kepada kami maka saya dan anak saya yang akan mencari nya." Ucap tuan Marvin santai.


Hati Dante sangat tersentuh saat tuan Marvin menganggap diri nya adalah anak nya sendiri.


" Dok lakukan yang terbaik untuk putri ku, apapun itu dok." Pinta appa Hoon.


" Baik tuan kami akan berusaha semaksimal mungkin, apapun itu akan kami lakukan sebisa mungkin." Ucap dokter Rico.


" Kalau begitu kami semua permisi dok. Mari." Ucap tuan Marvin.


Mereka berempat keluar dari ruangan dokter untuk kembali ke ruangan tempat Julia di rawat, untung nya Julia saat itu di jaga oleh Axel. Jadi appa Hoon dan eomma Sheina tak merasa khawatir meninggalkan nya.


" Tuan Hoon jadi siapa yang berada di dalam ruangan?" Tanya tuan Marvin.


" Di dalam ada kekasih nya yang begitu setia menunggu nya sedari pagi. Saya juga merasa kasian dengan pemuda itu, terlihat sekali ia begitu terpukul." Jelas nya.


Beruntung sekali nona Julia memiliki laki-laki yang tulus seperti pemuda itu.


Tak lama orang yang di bicarakan nya keluar dari ruangan dengan mata yang sangat sembab karena terlalu banyak menangis. Saat keluar, Axel sudah melihat ada orang lain bersama pemuda yang sebaya dengan nya sedang berbincang serius dengan nya.


" Nak Axel, kamu udah selesai jenguk Julia nya?" Tanya eomma Sheina yang sangat kasihan melihat penampilan Axel yang terlalu banyak menangis.

__ADS_1


" Udah kok Tan om, maaf kalau jenguk nya agak lama." Axel berusaha tersenyum walaupun sangat terlihat sekali raut kesedihan di wajah nya.


Dante yang melihat pria situ sedikit kasihan, apalagi dari raut wajah nya sangat terlihat dia menangis terlalu lama.


Kasian juga pria itu, pasti dia sangat kehilangan kekasih nya. Gw juga pasti akan berasalan hal yang sama seperti dia. Gimana gak sedih, wanita nya lagi berjuang antara hidup dan mati nya. Kalau gw jadi dia, mungkin gw belum tentu sekuat dia. Dia termasuk pria yang setia sama wanita nya. Gw salut sama ni orang, tapi gw juga kasian liat dia apalagi mata nya sampai sembab gitu. Batin nya kasihan melihat penampilan pria yang ada di depan nya.


" Nak sebaik nya kamu pulang lah, kamu pasti sudah terlalu lama bersedih. Tapi jangan sampai kesedihan mu menjadikan mu lemah di depan wanita mu, tetap lah kuat sebagai lelaki." Tiba-tiba tuan Marvin berjalan mendekati Axel dan menepuk pelan bahu nya.


" Baik paman, jika Julia sudah ada perkembangan. tolong secepatnya kabari saya. Saya akan selalu menunggu nya sampai kapan pun." Tanpa sadar Axel meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya.


" Itu pasti nak, pulang lah. Biar nak Julia dokter yang akan menangani nya. Istirahat lah, pasti kamu sangat lelah kan. Biar lah kami yang akan menjaga wanita mu hemmmm." Tuan Marvin tersenyum sedikit kepada Axel.


Axel menanggapi nya dengan tersenyum, namun sebelum nya ia melihat ke arah Dante yang juga sedang menatap nya. Dante yang seolah paham langsung menghampiri Axel dan mengulur kan tangan nya untuk berkenalan dengan nya.


" Nama gw Dante."


" Gw Axel, senang berkenalan dengan lu." Ucap nya sambil menerima uluran tangan dari Dante.


" Ya. Semoga kita bisa berteman baik." Jawab nya singkat.


" Kalau begitu om, Tante, paman Dante kalau begitu saya permisi pamit pulang assalamualaikum." Pamit Axel kepada mereka pulang.


" Wa'alaikumsalam." Jawab mereka bersama.


Axel melangkah pergi dari rumah sakit untuk pulang ke rumah nya, rasa lelah yang menyelimuti nya membuat nya harus pulang. Jujur, ia masih ingin berada di sisi Julia yang masih betah memejamkan mata nya.


...****************...

__ADS_1


Julia cepat sadar ya,,, othor kangen banget sama tingkah nyeleneh mu yang bikin othor kadang suka naik darah, tapi othor sayang kalian semua huaaaaaaa 😭


__ADS_2