
SISA RASA
Awan mendung pertanda duka mendalam, ya duka itu terjadi di keluarga Radiansyah. Mereka harus kehilangan kembali sosok wanita hebat yang sudah melahirkan dan membesarkan seorang anak hingga hebat seperti tuan Hazlan.
Saat itu begitu ramai sekali orang-orang datang melayat ke rumah tuan Hazlan termasuk para kolega bisnis pun ikut berduka atas kepergian omah Hana, ibunda dari tuan Hazlan. Banyak dari mereka datang ke rumah tuan Hazlan termasuk Chintya dan para sahabatnya juga ikut merasakan kesedihan itu.
Ucapan demi ucapan bela sungkawa tak lepas dari mereka yang berduka sangat dalam.
saat ini tuan Hazlan sudah berada di dekat jenazah sang mamah sebelum di masukkan ke dalam peti, ia begitu terpuruk dan hancur bahkan ia tak malu sekali pun menangis di depan sang mamah yang sudah tak bernyawa walapun di depan teman bisnis nya sekalipun.
kasihan sekali tuan Hazlan, 5 tahun yang lalu saya melihat ia seperti ini dan sekarang saya melihat ia terpuruk lagi atas kepergian omah Hana, kasihan sekali anda. batin salah satu kolega bisnis nya yang melihat tuan Hazlan menangis dan di peluk oleh sang istri yang juga ikut menangis.
Para pelayan pun ikut merasakan kesedihan itu, apalagi omah Hana di kenal baik oleh semua orang, bahkan ia juga sebagai donatur besar di pesantren dan panti asuhan di daerah Jakarta pusat.
kepergian tuan Radiansyah saja bisa membuat tuan Hazlan berubah menjadi dingin apalagi kehilangan keduanya, kasihan sekali anda tuan Hazlan, semoga anda di beri ketabahan dan kesabaran juga kelapangan dada dalam menerima ujian ini. batin tuan Marvin yang merupakan orang tua dari Teguh.
Tuan Arul orang tua dari Edo datang menghampiri tuan Hazlan yang saat ini sudah mulai membaik dan bisa mengendalikan diri nya.
" tuan Hazlan saya beserta keluarga turut berbelasungkawa atas kepergian omah Hana, semoga amal ibadah beliau di terima di sisi Nya, dan untuk keluarga di beri ketabahan dan kesabaran."
" terima kasih banyak tuan Arul."
" sama sama tuan."
Di halaman depan rumah terdapat Dev yang duduk termenung dan deraian air mata tak henti mengalir, Clara yang melihat Dev bersedih seperti itu ikut merasakan kesedihan nya juga.
kasihan kamu Dev m, harus kembali kehilangan setelah 5 tahun lalu harus kehilangan opah Radiansyah kini kamu harus kehilangan omah Hana. aku akan menguatkan kamu Deva agar kamu tidak sedih terus.
" Ra, kenapa perlahan keluarga ku habis hiks hiks dulu opah sekarang omah hiks... aku gak sanggup harus kehilangan orang yang aku cintai Ra hiks." pecah sudah air mata Dev, ia menangis dengan sesugukkan tanpa malu di hadapan Clara sekalipun.
Clara berinisiatif memeluk Dev dan menyalurkan segala kekuatan nya untuk menenangkan Dev yang kala itu rapuh.
" Deva, kamu harus tabah dan ikhlas akan hal ini, doakan kepergian omah Hana agar beliau tenang di sana dan segala amal ibadah nya di terima di sisi Nya. kita tidak tau kapan maut itu datang menghampiri kita, kita sebagai umat beragama senantiasa selalu yakin dan percaya bahwa maut itu ada nyata nya, dan selalu tingkatkan ibadah kita semata-mata karena Allah ta' alla."
" iya Ra makasih ya kamu selalu ada untuk aku di kala aku senang maupun sedih seperti ini."
" sama sama Deva, udah ya nangis nya kasian omah Hana kalau liat kamu sedih, ia juga gak tenang di sana."
" iya Ra tapi bagaimana kalau sampai Dav tau akan hal ini, apalagi hari ini dia pulang dari lomba olimpiade nya, aku takut terjadi sesuatu dengan nya."
" aku yakin Davi gadis yang kuat va, kamu harus percaya itu."
" iya Ra."
Bendera kuning di sekitar pekarangan rumah tuan Hazlan pertanda kesedihan mendalam dan duka cita.
Dav yang saat itu dalam perjalanan pulang dan di ikuti oleh sahabat nya karena mereka ingin ke rumah Dav untuk merayakan keberhasilan mereka dalam lomba olimpiade.
Sesampai nya di pekarangan rumah Dav, semua nya tiba-tiba mendadak terdiam dan Dav yang melihat banyak keramaian di rumah nya pun langsung turun dari motor nya dan berjalan perlahan pada akhir nya ia melihat bendera kuning di pilar depan rumah nya dengan ekspresi bingung dan terkejut.
" ada apa ini, kenapa ada bendera kuning."
Dev yang melihat adik nya pulang pun menghampiri nya dan menghapus air mata nya tetapi mata sembab nya sangat terlihat jika ia baru saja menangis.
" dek kamu udah pulang." tanya Dev menghampiri Dav yang masih termenung melihat semua nya.
" kak, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa di rumah kita ada bendera kuning, siapa yang meninggal." pertanyaan beruntun Dav seolah tak sanggup untuk Dev jawab.
Tak lama kemudian Chintya keluar dari rumah Dav dan melihat nya baru pulang dari lomba olimpiade.
" Dav lu kapan sampai nya." tanya Chintya
" baru aja gw sampai Chin, Chin jawab gw siapa yang meninggal di rumah gw?"
Julia yang mendapat info dari beberapa orang sontak kaget mendengar nya namun ia tak memberitahu Dav akan ini dan biar lah Chintya yang menjawab nya.
" gw harap lu yang tabah ya Dav ( diam sejenak )."
" iya sebenarnya nya ada apa Chin jangan bikin gw penasaran, jawab Chin." ucap Dav dengan mengguncangkan bahu Chintya.
__ADS_1
tak lama Irgi datang dari belakang rumah dengan wajah sembab nya sama seperti Dev.
" kenapa kalian seperti habis nangis, kak jawab Dav siapa yang meninggal?"
" Dav dengerin gw right, setelah lu dengar ini gw mohon lu harus kuat." ucap Chintya menangis karena ia tak sanggup menceritakan nya.
" Chin sebenarnya ada apa." tanya Teguh.
Edo yang ikut penasaran pun bertanya kepada Julia karena ia baru saja keluar dari rumah Dav karena ia tadi kebelet buang air, sontak Edo pun terkejut dan sedih mendengar nya.
" JAWAB, KALIAN GAK BISU KAN GW NANYA SAMA KALIAN HAH." bentak Dav dengan air mata yang sudah siap menetes.
" omah Hana meninggal Dav."
duarr
tanpa terasa ia hampir tumbang jika Irgi tak sigap menahan tubuh mungil itu.
serasa dunia nya tiba-tiba runtuh dengan apa yang ia dengar dari sahabat nya jika orang yang ia cintai harus pergi selamanya.
Dengan menatap Chintya penuh dengan genangan air mata, ia mencoba untuk memastikan apakah itu benar atau bohong.
" lu gak bohongin gw kan Chin hiks hiks lu pasti becanda kan, becanda lu gak lucu Chin, jangan bawa bawa kematian gw gak suka apalagi bawa bawa omah gw hiks lu pasti bohong kan." ucap Dav yang sudah menangis tertahan.
" i'm sorry Dav, gw gak mungkin becanda soal kematian. Gw harap lu kuat menghadapi ini, lu harus ikhlaskan kepergian omah Hana."
" gak mungkin Chin hiks lu bohong hiks kemarin gw sempat video call sama omah kalau dia udah sehat hiks hiks."
" kalau lu mau tau yang sebenarnya, lu boleh liat sendiri di dalam Dav, i'm sorry gw kasih berita duka hiks maaf Dav." ucap Chintya mendekati Dav dan berusaha untuk menguatkan sahabat nya.
Dav pun berlari masuk kedalam dan di ikuti oleh sahabat Dav dan juga Dev, Clara serta Irgi karena ia takut terjadi sesuatu dengan nya.
sampai di depan ruang tamu Dav melihat jenazah omah nya yang sudah tertutup kain kafan tak kuasa menahan tangis dan terduduk di lantai, tangisan nya yang pilu membuat orang lain yang mendengar nya pun ikut merasakan kesedihan itu.
Hancur sudah hati nya, ia seolah tak sanggup untuk menopang tubuh nya untuk berdiri pun langsung terduduk sambil menangis sejadi jadinya, bahkan tuan Hazlan pun melihat sang putri pulang dengan keadaan sangat kacau.
ya Allah anak ku sangat kacau sekali hiks sebegitu kehilangan nya ia atas kepergian mamah hiks ya Allah mengapa kau uji hamba mu seberat ini hiks.
Dav yang sudah bersiap ingin menunjukkan piala nya di hadapan omah, justru ia di kejutkan dengan berita duka dari sang omah yang telah tiada.
" omah hiks hiks Dav pulang, Dav udah janji akan bawakan piala dan tunjukkan ini untuk omah hiks tapi kenapa omah yang kasih Dav kejutan yang Dav sendiri gak mau hiks."
ia menunjukkan piala itu di hadapan jenazah sang omah.
" omah ini hiks hiks ini.... piala yang su....dah Dav bawakan khusus untuk omah, tapi kenapa omah pergi, omah gak sayang sama Dav, kak Dev dan kak Irgi."
pecah sudah air mata mereka melihat kesedihan mereka melihat Dav yang sudah seperti orang gila.
Tak lama Dav menangis sejadi jadinya bahkan sampai teriak histeris karena ia belum bisa menerima apa yang ia lihat.
" arrrgggghhh hiks hiks omah hiks hiks hiks." Dav memeluk tubuh itu sangat erat bahkan tuan Hazlan tak sanggup melihat nya pun ikut menangis dan di bawa ke kamar oleh bunda Sita yang juga ikut sedih melihat putri nya menangis meraung.
Dev yang melihat kesedihan sang adik mendekati nya dan memeluk tubuh mungil itu yang bergetar hebat menangis sejadi-jadinya. Sahabat Dav pun ikut menangis apalagi Julia yang tak kuasa ikut menangis sesenggukan dan di tenangkan oleh Vivian dan Tere sementara Chintya di peluk oleh Monica karena ia juga tak kuasa mendengar tangis dari Dav yang begitu memilukan dengan memeluk nya satu sama lain. Sementara Edo juga sedih melihat itu berusaha untuk kuat meskipun air mata nya lolos Sempurna, Teguh juga ikut sedih dan sama merasakan pilu nya.
" dek kamu harus kuat, kita ikhlas kan kepergian omah agar dia tenang di sana."
Dav tetap menangisi kepergian sang omah sampai pada akhir nya jenazah omah Hana di makam kan di makam keluarga Radiansyah di samping makam sang suami yang sudah berpulang terlebih dahulu.
Proses pemakaman omah Hana di warnai dengan tangis pilu apalagi Dav sempat tak sadarkan diri ketika jenazah omah Hana di masukkan ke liang lahat, dengan sigap Irgi menggendong Dav sementara Dev dan tuan Hazlan ikut memasukkan jenazah omah Hana ke liang lahat. Tuan Hazlan mengadzani nya namun ia tak kuasa menahan tangis lalu di gantikan oleh Dev dan sampai pada akhir nya selesai sudah proses pemakaman tersebut.
Bunga bertaburan di pusara makam omah Hana, tangis tak henti ia rasakan.
.
.
.
.
Dav yang baru tersadar dari pingsan pun seolah tak percaya jika sang omah telah pergi selama nya, ia tak kuasa menangis dan memegang foto omah dengan nya ketika ia liburan di pantai.
Dengan tatapan kosong seolah ia tenang, tanpa ia sadari seseorang melihat dari balik pintu yang secara tak langsung juga meneteskan air mata nya karena tak sanggup melihat kesedihan gadis itu, ya Irgi yang saat itu mengintip di balik pintu karena saat pingsan ia berinisiatif ingin mengambil makanan dan membawa nya ketika nanti sadar Dav dapat makan.
__ADS_1
Ha-ah-ah-ah
Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah
Anug'rah cinta yang pernah kupunya
Kau buatku percaya ketulusan cinta
Seakan kisah sempurna 'kan tiba
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya (rindu untuknya)
Masih jelas teringat (jelas teringat) pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang (menghilang)
Kini hanya kenangan yang t'lah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama (waktu bersama)
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja? (Begitu saja)
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Oh, masih tersimpan
Setiap kеnangan, ho-wo-wo-oh
Semua cinta yang kau beri
Kau takkan terganti
Mеngapa masih ada (masih ada)
Sisa rasa di dada (rasa di dada)
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
(Tanpa hadirmu, sayang?)
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Sampaikan rinduku untuknya
Dengan deraian air mata Dav menyetel lagu yang sedang trending itu sembari menatap ia bersama sang omah dalam foto dalam keadaan berpelukan yang mana saat itu tuan Hazlan memfotokan mereka berdua.
__ADS_1
...****************...