
THE RADIANSYAH FAMILY DEBATE
" Benar juga apa yang di katakan oleh kakak mu nak, jadi bagaimana tanggapan kamu."
Dav sudah tau arah pemikiran kakak nya jika ia akan terjebak di pertanyaan yang sudah kakak nya lontarkan.
Namun Dav tak ingin gegabah, ia ingin membuat seolah-olah diri nya terpojok, bukan Dav nama nya juga tak bisa mengubah situasi menjadi lebih tegang.
" Sekarang gini deh kak, jika kita membuat suatu planning yang sudah di kemas secara matang-matang, tapi saat kita ingin mempresentasikan hasil nya, ternyata semua itu di luar dugaan. Dalam arti kata apa yang di rencanakan tidak sesuai dengan ekspektasi, Karena setiap kita ingin merancang atau ingin merencanakan suatu, otomatis kita harus tau ke depan nya resiko yang harus kita tanggung. Gini deh, gak usah jauh-jauh mikir nya, Dav buat planning untuk kuliah dimana, sedangkan Dav sendiri aja harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional, terus Dav belajar nih jauh-jauh hari. Nah pas di hari H nya kan hilang semua nya, karena apa yang kita planning kan ter reset sama apa yang di jalani sekarang, belum lagi angan-angan mau masuk ke perguruan tinggi negeri, ujian Nasional aja belum mulai eh ini udah makin jauh mikir nya, yang pada akhir nya ngeblank di jalan. Maka dari itu, Dav hanya ingin lebih memfokuskan sama apa yang Dav jalani sekarang. kalau soal kuliah, tunggu Dav selesai ujian Nasional apa segala macam nya sudah clear, baru deh Dav pikirkan kuliah dan mengambil jurusan nya apa, begitu lah kira nya."
Dav menjawab panjang lebar bahkan dengan sangat detail tanpa ada yang tercelah sedikit pun.
" Kalau mau buat planning mah gampang kak, tapi kita harus tau dulu apa yang kita jalani sekarang akan nyambung apa gak, akan masuk gak ke planning kita, terkadang planning juga bisa membuat kita buntu. Maka dari itu, planning yang lebih baik adalah setelah apa yang kita jalani sekarang, beban yang kita jalani sekarang sudah perlahan ringan, baru kita bisa menyusun kerangka nya."
Hening.
__ADS_1
Prok prok prok prok
Hingga sebuah tepukan tangan kembali terlontar yang berasal dari arah menuju lift, sebuah tepukan tangan yang berasal dari Irgi.
Irgi sangat terkagum-kagum atas jawaban Dav yang ia lontarkan untuk Dev sang kakak. Bahkan Dev sendiri di buat skak mat.
Bahkan Irgi sedari tadi sudah berada di lantai dasar, namun ia urungkan saat Dev dan Dav melakukan aksi debat. Irgi menonton nya sedari awal tanpa ketahuan tuan Hazlan yang berada di ruang utama lantai dasar.
Irgi menghampiri mereka bertiga, ia duduk tepat di samping Dav.
" Kamu hebat sayang." Bisik nya lembut tepat di telinga.
Hanya suara jangkrik yang mengisi keheningan suasana yang sempat tegang tersebut.
Prok prok prok prok
Kembali melayang kan kembali tepukan tangan dari tuan Hazlan, menyaksikan sendiri aksi debat ala keluarga Radiansyah.
" WAW LUAR BIASA." Pekik nya penuh semangat.
__ADS_1
" Gila,,, berasa aksi debat antar negara ya, tegang-tegang gimana gitu." Irgi menanggapi nya.
" Bisa nih ikut nyalon jadi anggota dewan."
" Benar yah keren abis."
Mereka berdua sibuk dengan aksi debat Dev dan Dav, sedangkan kedua adik kakak itu sendiri masih dalam tatapan serius nya melancarkan aksi debat yang siap ia lontarkan.
" Bagaimana tuan Devanka Radiansyah Putra? ada yang ingin kamu sanggah lagi, atau sudah cukup sampai sini saja?"
Bagaikan seorang jaksa, tuan Hazlan memprovokasi kedua putra putrinya untuk kembali melakukan aksi debat ala keluarga Radiansyah.
...****************...
Waduh!!!
kira² bagaimana jawaban Dev ya?
nyerah atau lanjut?
__ADS_1
yuk ikuti terus cerita nya ❤️