Hei!!! Gadis Berkacamata

Hei!!! Gadis Berkacamata
Membingungkan


__ADS_3

Naura memperhatikan sosok dihadapannya saat ini, antara ingin kesal dan marah. Sungguh sekarang rasanya ia ingin meledak, namun pria dihadapannya ini justru diam seperi patung dan berekspresi datar.


"Adnan!" panggil nya membuat patung itu bergerak dan menunjukkan wajah marahnya.


"Kau!..."


"Tuan Kabir!" Naura terlihat bingung dan memastikan pendengaran nya tidak salah saat ini. Pria itu bernama Kabir.


"Apalagi sekarang?"


"Tuan, anda ditunggu oleh Tuan Ramon dan yang lainnya" ujar Sam yang memperhatikan Naura dengan Vikram saat ini.


"Aku akan kesana! dan ya... lain kali jangan panggil nama orang dengan sembarangan! atau wanita di tempat ini semuanya memang menyebalkan!" ujarnya membuat Naura terdiam dan Vikram ingin memukul wajah itu.


"Nona dia..."


"Diam! kepalaku pusing sekali rasanya" ujar Naura.


"Tunggu!" ucap Naura saat melihat Sam mulai beranjak dari sana.


"Kau Sam kan?" tanyanya.


"Benar Nona Naura" balas Sam.


"Aku tidak salah! pria itu memang Adnan!..."


"Harap kecilkan suara anda Nona, apa anda sudah bertemu dengan Nona Eisha atau Alice?" ucap Sam membuat Naura terdiam beberapa saat.


"Kau juga tau?" tanya Naura langsung.


"Ini bukan waktu yang tepat! bagaimana kalau kita bertemu nanti" ujar Sam cepat.

__ADS_1


"Vikram!" panggil Naura memberikan kode yang dimengerti oleh Vikram.


"Aku akan menunggu nya" ujar Naura membuat Sam mengangguk, dan tak lama ia pergi dari sana menuju Kabir.


"Vikram, kita pulang! sebelum aku benar-benar pingsan disini!" ujarnya cepat,. sungguh masalah dan pertemuan ini membuat kepalanya ingin meledak.


"Mari Nona" ujar Vikram menuntun Naura ke mobil.


Kembali lagi dengan kedua orang yang saat ini tengah menikmati makanan nya, bukan...tapi yang benar adalah sang wanita yang sedang asyik makan dan sang pria yang asyik memandangi sang wanita.


"Enak sekali, aku tidak menyangka" ujar Alice setelah menghabiskan suapan terakhir.


"Cantik sekali!"


"Dokter?" panggil Alice namun tak ada jawaban.


"Dokter!"


"Iya? ada apa?" ujarnya.


"Dokter melamun ya?" ujar Alice.


"Tidak... ngomong-ngomong bagaimana rasa kue nya?" ujarnya mengalihkan pembicaraan.


"Itu yang ingin ku katakan, sangat enak, aku suka!" balas Alice.


"Aku benar kan? kalau kita belum mencoba sesuatu, kita mana tau rasanya enak atau tidak!" ujar Veer membuat Alice mengangguk setuju.


"Benar, seharusnya aku mencoba dulu, baru tau rasanya apakah cocok di lidah ku atau tidak."


"Itu baru benar" Veer mencubit pipi Alice membuat wanita itu sedikit kesal.

__ADS_1


"Selalu saja dicubit! ini sakit rasanya dokter!," balasnya kesal.


"Kalau tidak boleh dicubit, berarti boleh..."


"Boleh apa?" tanyanya dengan penasaran.


"Boleh dicium," ujar Veer cepat.


"Seperti ini," pria itu tiba-tiba melayangkan kecupan manis di kening alive, membuat wanita itu terdiam dan tak dapat berkata apa-apa.


"Ini adalah rasa senang ku atas keberhasilan mu," pria itu dengan tulus mengatakan nya dan Alice dapat merasakan nya.


"Maaf, apa aku terlalu lancang?" jujur saja, Veer merasa tidak enak saat melihat Alice hanya diam saja dan ia berpikir Alice marah padanya.


"Ti...tidak! aku hanya terkejut saja, dan bagaimana nanti jika ada yang lihat" Alice jadi gugup sekarang, kejadian tadi sangat cepat dan ia hanya tak ingin ada media yang melihatnya.


"Jadi aku boleh melakukannya lagi?" goda Veer.


"Dokter!" ujar Alice membuat Veer tertawa dan Alice juga ikut tertawa.


Kejadian tadi memang tidak ditangkap oleh media namun, sepertinya ditangkap oleh sepasang mata tajam yang tak jauh dari mereka. Pria itu menatap kesal dan tanpa sadar gelas yang ia pegang saat ini telah pecah dan membuat cairan merah itu mengalir.


Prang....


"Tuan!!!"


Bersambung....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️


Episode berikutnya akan tayang siang ini, jangan lupa. Dan author punya cerita baru nih.. siapa tahu ada yang mampir dan suka, boleh berikan dukungan nya juga. Terimakasih banyak ya,😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2