
Mungkin benar kata orang, cinta tau jalan pulangnya. Meskipun gadis itu sudah pergi menjauh tapi Kabir tetap menemukannya. Aku berpikir beberapa waktu, hingga Putriku Linda datang dalam mimpiku dan mempertanyakan sikap yang ku lakukan selama ini. Aku tidak memberikan kasih sayang yang ku janjikan padanya, yang membuat cucuku tumbuh dengan kebencian dan amarah. Hingga ia bertemu dengan gadis berkacamata itu yang mulai merubah dirinya perlahan-lahan, dan lagi-lagi aku melakukannya hal yang buruk dengan memisahkan dan mempengaruhi pikiran cucuku sendiri agar ia hidup dalam kendaliku. Penyesalan itu akhirnya datang dan membuatku sadar, bahwa tidak semuanya akan berjalan dengan keinginan. Aku kehilangan semuanya karena sikap ku sendiri, aku membenci cucuku yang membuatnya benci padaku. Aku ingin sekali memintamu maaf padanya, tapi tanpa diduga penyakit ku mulai kambuh dan saat menulis ini aku sudah merasakan sesak napas, aku hanya ingin menulis... bahwa aku ingin meminta maaf pada... cu... cuku dan ingin mengatakan aku tidak akan menghalangi kebahagiaannya la..gi, jika seandainya... a..ku tiada. A... aku meminta agar ia MEMAAFKANKU.
Halaman itu akhirnya berakhir dan tidak ada tulisan apapun lagi di sana, mata Adnan mulai basah saya membaca seluruh ungkapan hati dari pria bertongkat yang selalu mengawasinya. Bagaimanapun juga sebenarnya dalam hati kecilnya ia tidak membenci Arthur. Hanya saja hatinya tertutup akan sikap dan perlakuan dari kakeknya itu.
"Kenapa kau tidak mengatakannya kek? Apa kau ingin membuatku merasa menyesal juga sama seperti dirimu? Sekarang saat aku tahu, kau tidak mau bangun. Biasanya kau akan menyambut ku dengan tatapan mata yang tajam dan kebencian di dalamnya."
"Aku baru saja ingin mengatakan bahwa aku akan menikah meskipun tanpa restu darimu, tapi ternyata kau sudah merestuinya. Apa kau tidak ingin bangun? Siapa yang akan melihatku nanti saat pernikahan, bukankah senyumku seperti ibu?" Akhirnya air mata itu jatuh dengan deras dan Adnan menggenggam tangan yang sudah keriput itu dan terlihat kurus.
Suara tangisan itu, membuat Sam dan John mengeluarkan air mata mereka juga. Mereka sejak tadi mendengarkan apa yang terjadi di sana. John adalah pria yang merawat Adnan sejak ia masuk ke rumah emas itu, meskipun Arthur menghukumnya karena selalu membela Adnan saat kecil.
"Jadi... wanita itu ada di London?" tanya John pada Sam.
"Iya, ia ada di sana. Tuan meminta beberapa waktu sebelum pernikahan mereka."
"Dan sekarang, aku yakin ia menunggu kabar dari Tuan kecil karena belum dikabari." Sontak ucapan itu membuat Sam langsung tersadar dan membukanya ponselnya yang mana banyak panggilan dan pesan dari London.
"Aku akan membalasnya."
"Itu seharusnya yang kau lakukan sejak tadi. Aku akan pergi dulu mengubungi dokter, karena obat Mr ada yang kosong dan sekalian memantau perkembangannya."
"Baiklah," balas Sam.
Setelah kepergian John, langsung saja Sam mengetikkan pesan dan langsung mengirimkannya. " Aku hampir saja lupa, sebaiknya nanti setelah Tuan tenang, aku akan menanyakannya nanti. Sam menutup pintu itu dengan hati-hati dan pergi dari sana, meninggalkan sepasang cucu dan Kakek itu yang sedang menyesali perbuatan mereka.
Eisha langsung bahagia melihat pesan yang di masuk di ponselnya. Tapi sepertinya, senyumnya menjadi sedikit luntur saat pesan itu berasal dari Sam bukan dari Adnan.
"Apa, ia begitu sibuk? Sampai-sampai harus Sam yang mengirimkannya!" Awas saja nanti, humpph!"
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, makan siang yang seharusnya mengisi perut Adnan. Justru ia tinggalkan karena mendapatkan kabar mengenai Kakeknya yang mulai membaik dan sudah sadar. Pintu itu terbuka dan menampilkan sosok itu dengan senyuman yang tulus ke arah Adnan.
"Tidak ingin memeluk Kakek? Apa kau belum membacanya cucuku? Atau... aku tidak bisa dimaafkan?" Dengan berlari kencang, Adnan memeluk tubuh yang terlihat kurus itu dalam pelukan tubuh kekarnya. Tampak Arthur tersenyum haru dan merasa bahagia, setelah hampir 19 tahun, ia kembali memeluk cucunya yang ia benci.
"Kakek!"
"Iya, aku senang kau memanggilku seperti itu lagi."
"Maafkan Kakek Adnan, Kakek sangat menyesal..."
"Kakek... a-aku juga minta maaf! Aku sayang padamu, jangan acuhan dan menjauhi ku lagi!" Semua orang yang berada di sana mengharuskan biru setelah sekian lama, akhirnya hubungan itu kembali membaik.
"Bagaimana keadaan Kakek?" tanya Adnan pada Dokter yang mengurus kakeknya.
"Keadaan Tuan Arthur sudah membaik, hanya saja diatur pola makannya dan jangan lupa berolahraga kecil." Itulah yang di sampaikan oleh Dokter pada Adnan.
"Dengar, Kakek akan lebih cepat sehat, jika..."
"Jika apa?" tanya Adnan penasaran.
"Jika kau segera membawa pengantin itu kemari, aku tidak sabar melihat pernikahan cucuku, aku akan menjadikannya pernikahan yang terbesar dan termewah. Semua orang akan melihatnya." Membuat Adnan tersipu malu yang membuat Arthur tertawa melihatnya.
"Kakek, tidak perlu khawatir aku akan segera membawanya ke sini, tapi... bagaimana dengan urusan wanita itu yang mungkin akan melakukan rencana lagi..."
"Tidak perlu khawatir, ia tidak akan menganggu mu lagi! Kakek pastikan itu!" ujar kakeknya dengan percaya diri.
"Hmmm? Apa yang Kakek lakukan padanya?"
__ADS_1
"Bukan Kakek, tapi karma. Ia mendapatkan apa yang ia perbuat, ia mengalami kecelakaan saat mengejar mu ke London. Kakek tidak melakukan apapun."
"Aku tidak menyangka, ia berakhir seperti itu."
"Iya, karena itulah. Kakek ingin menebus kesalahan Kakek sebelum terlambat."
"Aku juga Kakek."
"Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana dengan ke..."
"Aku akan mengurusnya, Kakek tidak perlu khawatir lagi."
"Kau benar-benar mewarisi diriku ya?"
"Tentu saja, karena aku adalah keturunan Singh!"
"Segeralah pergi, aku akan meminta semuanya menyiapkan pernikahan mu!"
"Aku sayang Kakek."
"Sayangnya nanti saja, sekarang cepat jemput cucu menantuku!"
"Iya-iya!"
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1