Hei!!! Gadis Berkacamata

Hei!!! Gadis Berkacamata
Konferensi meja bundar


__ADS_3

Ke-empat pria itu duduk dalam meja berbentuk lingkaran seperti konferensi meja bundar. Mereka saling beradu pandang satu sama lain, tidak ada yang bicara satupun Hingga salah satu diantara mereka angkat bicara.


"Jadi... Bagaimana sekarang?" tanyanya.


"Apa lagi, tentu saja ia sudah mundur," ujar salah satunya.


"Setidaknya bahasa mu itu..."


"Yang dia katakan benar, lagipula... sejak awal seharusnya aku tau."


Mereka adalah Sid, Math dan Veer serta Raj yang berkumpul bersama untuk membahas hal ini. Mereka datang atas permintaan Veer, pria itu terlihat tak karuan saat ini.


"Jangan khawatir Veer, lagipula banyak wanita yang mau denganmu juga nanti."


"Iya..."


"Boleh ku bergabung?" tanya seseorang membuat mereka semua melihat ke arah pintu masuk.


"Kau..."


"Kabir... atau kalian bisa panggil juga dengan..."


"Adnan!"


"Benar, kau tahu rupanya."


"Mau bagaimana lagi, aku sudah mendengarnya," balas Veer pada Kabir.


"Silahkan duduk," ujarnya melihat Kabir masih berdiri.

__ADS_1


"Terimakasih," ujarnya seraya mendudukkan bokongnya di kursi itu.


"Kau meninggalkannya? Apa dia..."


"Sedang tidur, karena itu aku datang kemari dan maaf, aku mengikuti kalian."


"Tidak masalah," ujar Veer seraya memberikan secangkir minuman yang terletak dimeja.


"Terimakasih." Setelah itu tidak ada percakapan lagi dan beberapa menit kemudian Kabir memulai pembicaraan.


"Ngomong-ngomong, aku berterima kasih karena kau menolongnya," ujar Kabir membuat semuanya menoleh padanya.


"Kalau boleh tau, kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Sid.


"Sebuah rencana dari masa laluku, ya bisa dikatakan karena cemburu buta."


"Mau bagaimana lagi, aku juga dipengaruhi sesuatu dan tidak mengingatnya dengan baik." Ia bicara sambil melihat ke arah Veer yang sudah tahu dan hanya diam.


"Dari keluarganya sendiri," ujar Veer tiba-tiba.


"Kau tahu, wanita mu itu sangat membuatku kesusahan, dan ia sangat menyebalkan."


"Hei... aku rasa itu berasal dari dirimu sendiri," ujar Veer dengan seringai.


"Ya, tapi pria ini selalu menolongnya!" tunjuk Math dengan kesal.


"Boleh ku tanya sesuatu?" tanya Kabir pada Veer membuat pria itu menghentikan minumnya.


"Mengenai apa?"

__ADS_1


"Perasaanmu kepadanya." singkat dan jelas tentunya, membuat Veer terdiam sejenak dan kemudian melihat Kabir dan tersenyum tipis.


"Bagaimanapun aku tidak mungkin memaksanya bukan? apa kau ingin melepaskannya untukku? Atau kau ingin aku merebutnya?"


"Dasar! Kalau kau lakukan itu, aku akan menghajar mu!"


"Hahaha." tawa keduanya dan membuat ke-tiga pria lainnya memandangi dengan tatapan aneh.


"Aku hanya berharap, kau bisa membahagiakan nya atau aku akan membawanya pergi jauh darimu seperti yang kulakukan," ujar Veer yang terdengar tulus.


"Pasti, dan kau tau... tadi aku aku ingin mundur karena berpikir bahwa ia akan melupakan ku selamanya," ujar Kabir.


"Ngomong-ngomong kita belum berkenalan," ujar Kabir membuat Math tersenyum mengejek.


"Ku pikir semuanya disini sudah jadi dinding dan hanya kalian berdua didalamnya!" sindir Math.


"Jangan di dengarkan, dia memang seperti itu," balas Veer dan mereka kemudian saling berkenalan.


"Sekali lagi aku berterima kasih, dan mungkin aku tidak bisa membalasnya."


"Balas saja dengan kebahagiaan Alice dan aku akan menganggapnya lunas," ujar Veer.


"Jadi... kapan kau akan menikahinya?" tanya Raj.


"Secepatnya, karena setelah ini aku harus mengurus sesuatu yang merupakan akar masalah semuanya," ujar Kabir dengan serius.


Bersambung....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2