Hei!!! Gadis Berkacamata

Hei!!! Gadis Berkacamata
Permintaan


__ADS_3

Jane melihat Alice datang bersama Veer menuju ke arahnya. Alice yang melihat Veer berada di depannya, langsung memanggil pria itu, hingga membuatnya berhenti.


"Dokter"!," panggilnya.


"Iya?," ucap Veer bingung.


"Ada yang ketinggalan?," tanyanya.


"Tidak! tapi aku rasa... tidak perlu... maksudnya dokter tidak perlu mengantarku pulang. Ada Jane, jadi aku rasa tidak perlu. Lagipula bukannya dokter dipanggil oleh Paman dan juga teman dokter. Aku rasa ada hal yang penting untuk dibicarakan." Ujar Alice.


"Bukan berarti aku menolak nya...tapi..."


"Aku paham, tak masalah!," balas Veer.


"Kalau begitu, hati-hati lah! Jane bawa mobilnya dengan baik" ujar Veer pada wanita bule itu.


"Dokter tak perlu khawatir! aku akan menjaga Alice dengan baik." ujarnya membuat Veer mengangguk.


"Aku pergi! sampai jumpa dokter." Ucap Alice.


"Iya, sampai jumpa Alice." Balas Veer.


"Dah dokter!," ujar Jane dan Veer menganggukkan kepalanya.


Alice naik dan menutup pintu mobil itu,dan ia membuka kaca itu sedikit untuk melambaikan tangannya, dan dibalas oleh Veer. Veer memperhatikan mobil itu yang perlahan menghilang dan ia masuk setelahnya. Saat ia masuk, pria itu dikejutkan dengan duo laknat yang berada di depan pintu menunggu dirinya.

__ADS_1


"Astaga! kalian, membuatku kaget saja!" ujarnya dengan memegang dadanya.


"Kenapa kau terkejut? kami tak mengatakan atau melakukan apapun. Pikiran mu saja yang kosong! jadi kau mudah terkejut!" ujar Math.


"Kami mencari mu, dan menunggumu disini! ada hal yang ingin dibicarakan tapi... sepertinya lebih baik kau temui Paman lebih dulu. Karena sepertinya ada hal yang untuk dibicarakan" Jelas Sid.


" Baiklah! aku ke atas dulu." Veer meninggalkan duo laknat itu dan menuju lantai atas tempat ruangan Papanya bersantai.


Tok tok tok


"Masuk!," suara itu terdengar dan Veer langsung membuka pintu besar itu. Saat pintu itu terbuka terlihat Ramon sedang duduk dengan beberapa tumpukan dokumen di mejanya.


"Kau sudah datang rupanya!," ujarnya tanpa memalingkan wajahnya dari dokumen itu.


"Iya, aku tidak jadi pergi...jadi aku langsung kesini, karena papa bilang ada hal yang penting," ujarnya.


"Jadi ada apa Pa?," tanya Veer tak sabar.


"Papa ingin memintamu untuk menggantikan posisi di perusahaan..." ucapan itu membuat Veer bangkit dari tempat duduknya.


"Apa maksud Papa?" tanya Veer tak suka.


"Papa belum selesai bicara! dengarkan dulu!," ucapnya.


"Ada proyek baru, dan papa rasa ini cocok untukmu Veer! aku tidak memintamu meninggalkan profesi mu sebagai dokter!"

__ADS_1


"Aku ingin kau datang ke perusahaan dan menangani proyek ini!" jelasnya dan Veer hanya diam mendengarkan penjelasan Papanya.


"Apa ini ada kaitannya dengan kedatangan pria bernama Kabir itu?," tanya Veer langsung.


"Iya," satu kata itu telah membuat Veer langsung mengerti.


"Hmmm... baiklah! aku akan mengurusnya" ujar Veer membuat Ramon memeluknya dan membuat Veer sedikit tersentak karenanya.


"Terimakasih! putraku!" ujarnya sambil memeluk putranya yang sudah dewasa itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu, ada Sid dan Math yang menungguku" ujar Veer.


"Baiklah!,"


"Veer!"


"Iya?,"


"Aku pastikan kau tak akan menyesal masuk dan menangani proyek ini, karena akan ada kejutan untukmu dan aku pastikan kau akan berterima kasih pada Papa" ujarnya membuat Veer sedikit bingung.


"Ok!," ujar Veer dengan senyuman.


Bersambung.....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!



__ADS_2