Hei!!! Gadis Berkacamata

Hei!!! Gadis Berkacamata
Ada apa?


__ADS_3

Seketika semua orang yang berada disana, langsung terkejut mendengar bunyi pecahan kaca yang berserakan, bukan hanya itu, mereka juga melihat tangan itu dialiri darah. Hal itu membuat Sam langsung panik dan mencari kotak obat.


"Tuan!," ujarnya namun sepertinya Kabir belum menyadarinya.


"Tuan Kabir, anda terluka" ujar Ramon membuat Kabir tersadar dan melihat tangannya yang sudah terlibat merah.


"A...aku" Kabir tak bisa berkata-kata karena ia sendiri tak menyadarinya.


"Tuan, mari saya obati dulu," ujar Sam langsing mengobati tangan Kabir.


"Semuanya baik baik saja, maaf atas kekacauan nya" ujar Ramon yang melihat para tamu memandang ke arah mereka.


"Pelayan! bersihkan semua nya!" perintah Ramon yang langsung dipatuhi oleh pelayan.


"Aku akan menghubungi dokter!," ujar Ramon melihat luka itu cukup dalam, namun Kabir langsung mengangkat tangannya pertanda tak masalah.


"Tidak perlu! ini hanya luka kecil, aku saja yang kurang hati-hati" ujar Kabir.


"Saya meminta maaf untuk ini..." ujar Ramon menyesal karena kejadian ini tak pernah ia bayangkan.


"Tidak apa Tuan Ramon" ujarnya.


Alice dan Veer pergi menyusul kerumunan itu dan ia melihat tangan yang sedang berdansa dengan nya tadi, sekarang terluka.


"Astaga!" ucapnya membuat Kabir menoleh padanya.


"Anda baik-baik saja Tuan" ujar Veer yang merasa tak enak, meskipun mereka saling tidak menyukai.


"Hmmmm, tak apa" ujarnya singkat.


"Kalau begitu, saya pergi duluTuan Ramon, senang bisa datang, dan bertemu denganmu" Kabir bangkit setelah lukanya diobati dan telah terbalut perban.


"Mari, saya minta supir untuk mengantarkan" ujar Ramon.

__ADS_1


"Sepertinya anda lupa, ada Sam bersamaku" ujarannya menatap ke arah Sam.


"Benar, saya akan mengantarkan Tuan seperti biasa" ujar Sam.


"Aku lupa akan hal itu, baiklah hati-hati Tuan Kabir dan saya sekali lagi meminta maaf"


"Tidak apa Tuan Ramon, kalau begitu saya pamit." Kabir pergi dengan segera melangkahkan kakinya keluar didampingi Sam disampingnya. Sesaat matanya kembali bertemu dengan Alice, alice melihat tangan yang terbalut perban itu. Sehingga ia tak menyadari tatapan Kabir padanya.


"Hati-hati Tuan Kabir" ucap Veer membuat Kabir tersadar dan segera melanjutkan langkahnya.


"Ayo Alice!," ajak Veer.


"Iya," balasnya.


"Oh ya Veer, ada yang bisa ingin Papa sampaikan padamu," ujar Ramon para putranya.


"Iya, tapi aku akan mengantarkan Alice dulu. Tidak masalah bukan?" ujarnya membuat pria paruh baya itu mengangguk.


"Baiklah, temui Papa nanti" balas pria paruh baya itu.


"Permisi Paman," ucap Alice pada pria paruh baya itu.


"Iya, hati hati di jalan, jika anak ini ugal-ugalan dijalan, tarik saja kupingnya!," ujar Ramon membuat Alice tersenyum dan Veer memutar bola matanya dengan malas.


"Baik Paman" balasnya.


Saat Veer berjalan keluar dengan Alice, duo laknat itu akhirnya muncul dan berdiri di hadapan mereka.


"Kau disini rupanya!" ujar Math.


"Kenapa?," tanya Veer.


"Kami mencari mu sejak tadi!," balas Math.

__ADS_1


"Untuk apa?,"


"Astaga kau!," Sid menghentikan Math yang akan bertindak dan memberikan kode bahwa Alice ada di tengah-tengah mereka.


"Hai Alice!" sapa Sid.


"Halo ," balas Alice yang masih terlihat canggung dengan teman Veer terutama Math.


"Dansa mu bagus sekali tadi!" puji Math.


"Terimakasih," ujar Alice.


"Aku akan menemui kalian nanti! aku akan mengantarkan Alice dulu" ujarnya.


"Baiklah!" balas kedua orang itu.


Kedua orang itu melihat Alice dan Veer menghilang dari pandangan mereka, dan Math menyenggol lengan Sid yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Ada apa??" tanya Math.


"Tidak ada!," balasnya membuat Math tidak percaya pada pria itu.


"Hei tunggu!" panggilnya saat Sid berjalan meninggalkan dirinya.


Bersambung....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️


Episode berikutnya akan tayang malam ini 😘


Yuk semuanya, mampir ke karya author. Kalau suka boleh berikan dukungannya, terimakasih ya.


Sarashawati merupakan gadis desa yang berparas cantik. Karena kecantikannya, ia justru mendapatkan perlakuan buruk dan kecemburuan dari sang Bibi. Hingga perjodohan dari kota membawanya pada kisah cinta yang manis, namun bagaimana jadinya, jika sebelum pernikahan ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tubuhnya menjadi cacat. Akankah pernikahannya tetap berlangsung dan apakah sang pria dapat menerima dirinya?

__ADS_1



__ADS_2