
Wajah itu tampak ditekuk dan cemberut sejak tadi, tapi sayangnya, tidak digubris oleh sosok disebelahnya dan hanya diam dan sesekali terkekeh.
"Mau sampai kapan seperti itu?" tanyanya, tapi tidak direspon.
"Hmphh!"
"Eisha..."
"Pergi! Pergi saja sekarang! Kau kan suka begitu! Menghilang dan menghilang." Sungguh ia kesal sekali mendengar kabar kepergian Adnan kembali ke negaranya.
"Aku akan kembali..."
"Bohong! Aku sudah biasa mendengar itu! Aku akan kembali nanti..." Eisha menirukan gaya bicara dan bibir Adnan membuat Adnan gemas melihatnya.
"Bilang saja, kalau ingin menemui si blonde itu lagi kan?
"Eitsss..."
Tok! Tok! Tok
"Masuk!" ujar Adnan yang kemudian dari pintu terlihat Sam dengan Jane yang datang membawa beberapa barang.
"Tuan..."
"Alice!" panggil Jane bersamaan dengan Sam yang memanggil Tuannya.
"Jane!" ujar Alice seraya memeluk Jane seperti pertemuan para wanita yang berpelukan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Jane
"Baik, tapi sekarang tidak baik karena..." katanya seraya melihat Adnan yang tersenyum pepsodent ke arahnya.
"Buruk! Sangat buruk!" ujarnya dengan memalingkan wajahnya dari pria tampan itu.
"Nona..." panggil Sam membuat Alice menoleh dan tersenyum, namun sedetik kemudian ia tersenyum masam.
"Aaa... pasti kau kemari untuk menjemput Tuanmu kan? Ini... bawa dia! Sekalian saja yang jauh dan tidak usah kembali!"
"Tapi Nona..."
"Sam!" panggil Adnan membuat pria itu terdiam dan Jane hanya diam sembari memperhatikan saja.
"Kau keluarlah dulu! Aku akan menyusul nanti," ujarnya membuat Sam mengerti dan keluar, sedangkan Jane ia masih duduk di sana.
"Dan untukmu Nona London... bisakah?" Jane yang paham langsung keluar dan membuat Alice menggerutu.
"Terima kasih!" ujar Adnan yang tentu di dengar oleh Jane.
"Hmphh!" Alice masih memalingkan wajahnya dan Adnan hanya diam melihatnya, tak lama pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan...
"Eisha... aku memasangkan ini kembali padamu, apa kau tidak senang?" tanyanya, merasakan ada sesuatu di jarinya ia melihat ke arah jari manisnya dan menemukan cincin yang sudah melingkar di sana.
"Ini..."
"Iya, kau ingat?"
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanyanya, karena sepengetahuan dirinya. Cincin itu sudah hilang saat ia datang ke London.
"Apapun bisa ku temukan, bukankah begitu?"
"Gombal! Bisa saja kau pesan dengan model yang sama!" elaknya membuat Adnan terkekeh.
"Aku tidak bohong, buktinya ada dan kau juga bisa melihatnya."
"Bagaimana bisa?"
"Aku bertemu dengan gadis remaja yang berasal dari pulau kau ditemukan, saat itu aku melihatnya memberikan cincin itu padaku. Karena ia tidak punya pilihan lain. Saat segerombolan orang-orang mengejarnya meminta cincin itu. Saat itu aku tidak peduli dan mengacuhkannya, tapi... Sam ia mengambilnya dan menolong gadis itu. Saat aku tanya ia hanya diam dan mengacuhkan ku."
"Wow, seorang Adnan diacuhkan oleh bawahannya sendiri?" ujarnya membuat Adnan melotot padanya dan ia hanya terkekeh.
"Lanjutkan!"
"Saat aku bertanya lagi, ia hanya menjawab ia menyukainya, dan bukankah itu gratis?"
"Dan kau hanya diam dan mengangguk saja kan?" Sambung Alice.
"Iya, memang aku akan melakukan apa?"
"Lalu... bagaimana dengan gadis itu?"
"Ia bekerja di sebuah laundry dan Sam sudah mengurus semuanya dengan baik."
"Syukurlah," ujarnya.
"Jadi aku boleh pergi?" tanya Adnan lagi.
"Apa yang bisa kudapatkan jika... aku mengizinkan mu pergi?" tanyanya balik.
Dasar wanita ujar Kabir dalam hatinya.
"Hei..."
"Apa?"
Cup!
"Aku mencintaimu, dan aku janji akan kembali, berikan waktu 3 minggu. Percayalah padaku!" ujarnya setelah kecupan singkat itu membuat Alice termenung.
"Janji?" ujar Alice dengan wajah merona.
"Janji! Kenapa? Mau lagi?" sontak saja membuat Alice langsung memalingkan wajahnya dan mendorong Adnan sedikit.
"Hahahaha! Aku mencintaimu... Gadis berkacamata ku."
"Aku... juga..."
"Juga apa?"
"Kau kan sudah tau!"
"Tidak aku tidak tau!"
__ADS_1
"Sudah pergi sana!" elaknya sambil mendorong Adnan untuk pergi.
"Kau yakin? Aku belum mendengarnya, kalau aku tidak kembali kau akan menyesal..."
"Aku mencintaimu! Jangan katakan itu! Atau kau tidak boleh pergi!"
"Maaf, tapi kalau tidak mengatakan itu aku tidak akan bisa mendengarnya," ujar Adnan.
"Aku mencintaimu! Sudah?"
"Benar, aku sangat senang sekali!" Adnan memeluk Eisha sebelum keberangkatannya.
"Apa perlu aku antar?" tanyanya.
"Tidak perlu! Kau belum membaik," ujar Adnan.
"Baiklah, hati-hati dan dengar! Kalau kau bohong aku akan menikahi pria London!"
"Kau hanya boleh menikahi ku saja! Aku akan segera kembali!" Adnan pergi dan melambaikan tangannya kepada pujaan hatinya.
Saat diluar telah begitu ramai dan melihat kearahnya dengan tatapan aneh. "Kenapa? Aku tau aku tampan!"
"Huek!" ujar keempat pria itu.
"Lama sekali!"
"Romantis sekali!"
"Menyebalkan!" ujar Math
"Hei!" ujar Adnan pada pria itu.
"Sudah!" sentak Veer membuat semuanya diam.
"Hati-hati dan cepatlah kembali, karena aku hanya akan menjaga Alice sesuai waktu yang kau katakan!"
"Pasti! dan... aku percayakan padamu," balas Adnan dan mereka saling berpelukan perpisahan.
"Jangan khawatir."
"Ayo Sam, kita pergi," ujar Adnan dan semuanya melambaikan tangan pada pria itu dan Sam menyapa semuanya.
"Jika kau butuh sesuatu, kabari kami!"
"Pasti!" Hingga Adnan telah menghilang dari pandangan terlihat sosok wanita yang berlari tergesa-gesa dan membuat semuanya melihat ke sana. Tapi karena lantai yang licin membuat ia kehilangan keseimbangan dan menabrak salah satu diantaranya.
"Awas!"
Bruk!
"Nona!"
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya author yang berjudul Pendamping Hidup Mommy Sashi.