
Langit telah berubah warna dengan matahari yang telah mulai tenggelam, sepasang langkah kaki itu terlihat berhenti dan melihat ban mobilnya yang kempes, hal itu membuat dirinya yang sudah lelah seharian harus dihadapkan dengan kejadian tidak beruntung ini.
"Astaga! Kenapa bisa kempes? Bukan kempes, tapi bocor! Astaga!" ujar Veer yang ingin pulang harus terhalang karena kejadian ini. Ditengah situasi itu, terdengar langkah kaki yang mendekat dan membuat wajah Veer tersenyum ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Alice pada Veer.
"Ban mobilku bocor, sepertinya aku harus memanggil orang untuk membereskannya" ujar Veer mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor.
"Kalau begitu, aku akan naik taksi saja, atau menghubungi Jane karena mobilku bersama dengannya. Sekalian kita pulang bersama saja," ujar Alice.
"Eumhhh... aku rasa itu..." ucapan Veer terhenti saat ada panggilan masuk dan ia segera mengangkatnya.
"Sebentar ya..." ujar Veer menjauh sedikit dari Alice.
"Iya," ujar Alice sambil memandangi ban yang bocor itu.
"Aneh sekali, kenapa semuanya ikut bocor juga?" ujar Alice melihat ke empat ban mobil itu.
"Alice!"
__ADS_1
"Iya?"
"Sebaiknya aku pesankan taksi saja ya, lagipula sepertinya Jane belum bisa dipastikan. Jadi, lebih baik sekarang aku pesankan taksi saja karena aku harus ke rumah sakit," ujar Veer yang membuat Alice paham bahwasannya ia juga seorang dokter.
"Baiklah kalau begitu," ujar Alice dan Veer langsung memesankan sebuah taksi dan tak lama taksi itu datang, tangan Alice terlihat melambai ke arah Veer dan dibalas oleh pria itu dan mereka terpisah disana.
"Hati-hati Dokter!" ujar Alice
"Kau juga!"
"Rencana ku jadi kacau! Sial sekali!" Veer benar-benar kesal karena semua rencana yang ia susun sekarang jadi kacau.
"Aku harus segera ke rumah sakit, itu taksinya!" Veer berjalan ke arah sana dan segera masuk tak lama taksi itu melaju meninggalkan gedung perkantoran itu.
"Selesai!" ujarnya setelah itu ia mengambil kacamata nya dan segera meninggalkan tempat itu.
Di sebuah ruangan, terlihat sosok yang duduk santai, tak lama ia mendengar ponselnya berdering dan seketika senyumnya terbit saat membacanya.
"Rencana berikutnya!"
__ADS_1
Alice akhirnya sampai di apartemen miliknya dan ia langsung masuk karena sungguh, ia merasa sangat lelah sekali seharian pemotretan, bukan hanya fisiknya yang lelah, tapi juga pikirannya karena harus bertemu dengan Kabir yang menganggu nya setiap saat, apalagi hatinya yang selalu berdebar saat bertemu dan berdekatan dengan Kabir.
"Aku harap semuanya akan segera berakhir, sungguh... aku ingin menjauh dari pria menyebalkan itu!" ujar Alice yang melepaskan pakaian luarnya dan meninggalkan tanktop dan celana pendeknya saja. Dan ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa lembut miliknya.
"Akhirnya... sofa yang nyaman dengan pakaian yang menyegarkan tubuhku!" Alice merasa nyaman dengan posisi seperti ini, apalagi ia sudah terbiasa selalu berpakaian seperti itu, karena mereka tidak panas dan nyaman.
Tak lama, ia pun tertidur karena kelelahan. Setengah jam kemudian, terdengar suara dentingan sendok dan langkah kaki seseorang, namun sepertinya hal itu tidak membuat Alice terganggu. Mungkin karena sudah kelelahan ia tidak terganggu sedikitpun, langkah itu kian mendekat ke arah Alice yang sedang tertidur.
Manik mata itu menangkap tubuh Alice yang tertidur pulas, awalnya senyum merekah terbit di wajah itu. Namun, tak lama semuanya berubah, wajahnya menjadi tegang dan tubuhnya kaku melihat pemandangan dihadapannya saat ini.
Apa-apaan ini? Mataku!
Bersambung...
Hayo... siapakah dia?
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya author yang berjudul Pendamping Hidup Mommy Sashi yang mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita yang harus membesarkan putranya seorang diri ditambah dengan menjadi seorang pemimpin perusahaan besar.
__ADS_1
Berikan dukungan ya, terimakasih banyak semuanya 😘😘😘😘