
Amarah yang tadinya meletup seketika menjadi diam dan hening. Adnan masuk ke ruangan yang terdapat alat-alat kesehatan dan pendeteksi detak jantung yang tertancap dan menyelimuti tubuh seseorang.
Pandangannya seketika mulai mengabur karena air mata yang mulai keluar tanpa diberitahu. Langkahnya terasa berat dan ia dengan perlahan-lahan mendekati sosok itu yang masih senantiasa terpejam. Saat ia baru saja duduk, terdengar langkah kaki yang mendekat dan memberikan hormat kepadanya.
"Selamat datang," ujarnya.
"Sejak kapan ia seperti ini?" tanyanya.
"Sejak seminggu lalu." Jawabnya dengan apa adanya.
"Lalu? Kenapa tidak ada yang mengubungi ku?" tanyanya dengan suara meninggi.
"Maaf, tapi beliau tidak mengizinkan. Dan ia hanya mengatakan untuk menunggu kedatangan Anda."
"Ini bukan sandiwara bukan? Karena tentu ia sudah tau mengenai hal ini dan melakukan rencana seperti kebiasaannya."
"Tentu saja bukan! Ternyata benar, anda akan mengatakan hal ini. Dan pemikiran Anda mengenai antisipasi itu, di sini sudah ada jawabannya." Pria itu dengan segera memberikan sebuah kotak persegi yang tidak terlalu besar bewarna coklat dengan hiasan otentik.
"Atau... jika Anda tidak percaya, silakan saja cabut alat itu dan mungkin Anda akan menemukan jawabannya! Permisi!" dengan segera, ia pergi dan tak lupa menundukkan kepalanya dan menutup pintu dengan hati-hati.
"Ini..." Kabir melihat kotak itu dan mengelus sekelilingnya, terlihat kotak itu terjaga dengan baik dan masih indah.
"Kau ingin aku melihatnya? Baiklah, mari kita lihat apa yang ada di dalamnya." Tangan itu mulai membuka kotak itu dan terlihat sebuah surat didalamnya dan dengan segera Kabir mengambilnya.
"Surat?" ujarnya dan ia mengambil surat itu dan langsung membukanya. Baru saja membukanya, terlihat sebuah foto dan tulisan yang sudah pasti ia tau, saat ia membalikkan foto yang menampilkan sebuah keluarga kecil ada sebuah tulisan di sana.
Keluarga kecil ku, aku baru saja melahirkan seorang putra yang tampan. Ini adalah foto pertama keluarga kecil kami setelah ia lahir.
Dengan cahaya lampu, ia perlahan membaca kata-kata yang tertulis di surat itu, dengan gaya penulisan yang khas, mata itu tak kesulitan membacanya.
Kabir, itulah nama yang kuberikan. Meskipun, aku tidak menyukai sebagian besar darah yang mengalir dalam dirimu. Tapi, bagaimana pun kau adalah keturunan ku juga. Darah putriku yang merupakan bagian dari keluarga Singh, saat melihatmu ada rasa senang sekaligus benci di sana. Senang aku menjadi seorang Kakek dan mempunyai cucu yang tampan dan yang mewarisi senyum seperti putriku. Tapi kebencian ku juga besar, saat melihat manik mata dan rupamu yang mirip sekali dengan orang yang merenggut putriku dariku. Aku hanya bisa memandangi mu dari kejauhan karena tidak ingin membuat kesedihan di mata putriku. Hingga waktu terus berjalan dan kau yang biasanya hanya ku pandang, sekarang dapat ku sentuh aku ingin sekali memelukmu yang begitu dekat, denganku. Tapi, sayangnya keinginan itu harus sirna, saat wajah itu mengingatkanku pada kematian Putriku. Dan nama Adnan itu membuat kebencianku semakin membengkak setiap tahun sesuai pertambahan usiamu.
Tangan itu berhenti sejenak membuka lembaran berikutnya, terlihat tetesan air mata turun dan membasahi beberapa kalimat di sana membuat tulisannya menjadi sedikit mengabur.
"Akhirnya aku paham, kenapa kau melakukan tindakan itu pada-- da -- padaku!" ingatannya menerawang saat kakinya menginjaki rumah besar yang merupakan milik keluarga satu-satunya yang ia punya.
"Wah, besar sekali! Lebih besar dari rumahku sebelumnya!" ujar suara kecil itu dengan mata berbinar-binar melihat kemegahan bangunan itu.
"Ayo, saya tunjukkan kamarnya," ajak seorang pria dewasa yang gagah dengan pakaian berwarna hitam.
"Iya, Ayo!" balasnya dengan riang dan segera masuk ke dalam ruangan yang bernuansa hitam gold itu. Ada beberapa patung dan vas yang mewah dan klasik sertakan kursi dengan meja yang terbuat dari kayu jati yang mahal dan di sebelahnya ada tangga yang menuju lantai atas. Kaki kecil itu mengikuti langkah besar yang membawanya menuju sebuah ruangan yang besar dan saat pintu itu terbuka terlihat kamar yang luas dan terlihat mewah.
"Wow! Ini luar biasa! Seperti istana! Aku jadi seorang pangeran!"
"Mari masuk, ini adalah kamar milik..."
"Milikku!" balasnya dengan cepat dan membuat pria itu hanya tersenyum saja.
"Mulai sekarang, ini adalah kamar milik Tuan kecil dan rumah ini adalah tempat tinggal Tuan kecil. Kalau butuh sesuatu, saya ada di bawah dan..."
__ADS_1
"Terima kasih!" tiba-tiba saja pria itu merasakan pelukan hangat dari tubuh tampan kecil itu yang membuatnya terenyuh.
"Sama-sama," ujarnya sambil membalas pelukan itu.
Mulai hari itu, ia tinggal dan menikmati kehidupan di sana. Meskipun semua kebutuhannya dipenuhi oleh para pelayan di sana. Tapi tetap saja, ia tidak bertemu dengan sosok yang ia tunggu sejak pertama kali jemari.
"Paman!" panggilnya membuat pria itu menunduk dan tersenyum.
"Ada apa Tuan kecil?" tanyanya dengan ramah.
"Apa Kakek masih lama? Aku tidak bertemu dengannya sejak pertama kemari. Apa ia sedang pergi?" tanyanya dengan bingung dan penuh harapan. Membuat semua yang berada di sana hanya diam dan saling memandang.
"Kenapa diam?" tanyanya lagi.
"Eumhhh... Mr sedang pergi karena ada urusan. Nanti beliau akan segera kembali dan bertemu dengan Tuan kecil." balasnya membuat kepala kecil itu mengangguk.
"Apa masih lama? Aku ingin tau?"
"Tidak lama, bagaimana kalau sambil menunggu Tuan kecil melukis atau melakukan hal yang lain?" saran pria itu yang membuat wajah itu tampak berpikir sejenak.
"Baiklah, tapi jangan lupa ya?" ingatnya kembali dan pria pelayan itu mengangguk.
Langkah kecil itu pergi meninggalkan ruangan makan, dan ia menyusuri jalan menuju taman yang di penuhi oleh bunga dan sepanjang jalan ia bertemu dengan para pelayan yang memberikan salam kepadanya. Karena merasa lelah, ia berhenti sejenak dan duduk di dekat kolam ikan. Mata itu menatap kumpulan ikan yang bergerombolan dan berenang serta makan makanan yang ia berikan. Hingga wajah yang tadi terlihat ceria tiba-tiba saja berubah menjadi sendu dan terlihat tetesan air jatuh dan bercampur dengan air kolam ikan.
"Aku jadi rindu Ibu dan Ayah, biasanya kami akan seperti ikan-ikan itu yang selalu bersama kemanapun. Tapi... se-se mua- muanya meninggal- kan ku se- sendirian, ke-kenapa?" suara itu berubah menjadi tangisan dan hal itu mengundang seseorang yang tak sengaja mendengarnya, dengan segera ia mencari tau dan kebingungannya terjawab saat melihat sosok yang tak jauh berbeda darinya sedang menangis di kolam. Dengan perlahan, ia mendekati sosok itu dan duduk di sampingnya.
"K-kau si-apa?" tanyanya.
"Namaku Sam, nama mu siapa?" jawabnya memperkenalkan diri.
"Namaku Adnan, dan aku tidak menangis! Air matanya nakal! Dan ayahku juga bilang bahwa putra tampannya ini sangat kuat!" balasnya dengan menggebu-gebu tidak ingin mengakui ia habis menangis.
"Tapi tadi aku dengar..."
"Samir!" suara itu menghentikan percakapan mereka.
"Iya!" balasnya dengan cepat dan ia perhatikan ke arah belakang yang merupakan paviliun.
"Hei! Mau kemana?" tanya Adnan.
"Aku harus pergi! Karena belum menyelesaikan tugas!"
"Besok kau akan datang kan? Mau jadi temanku?" ujarnya seraya mengepalkan tangannya ke atas.
Samir yang tidak mengerti dikejutkan dengan kedatangan ayahnya yang mendekat dan memintanya untuk menerima pertemanan itu.
"Terima saja, ia adalah Tuan kecil!" mendengar hal itu, ia langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dan membalas kepalan tangan itu membuat keduanya saling tersenyum.
Beberapa hari berikutnya, karena merasa bosan menunggu kedatangan Samir yang sedang pergi, tubuh kecil itu memainkan bola miliknya dan karena tendangan yang terlalu kencang. Membuat bolanya masuk dan ke dalam ruangan berpintu emas yang besar.
__ADS_1
"Yah, bolanya masuk ke sana." Tanpa ragu, ia langsing masuk dan matanya langsung berbinar melihat pigura yang menampung wajah ibunya.
"Ibu!" karena merasa senang, ia tidak melihat langkah kakinya dan hal itu membuatnya naik ke atas meja dan mencoba mengambil pigura itu, saat mencuat mengambilnya ia dikagetkan dengan suara besar yang membuatnya kaget dan menyebabkan pigura itu terjatuh.
"Tidak!" ujar suara berat itu yang merupakan sosok yang ia rindukan dan dengan segera, ia turun dan menghampiri sosok itu dengan perasaan menyesal karena menjatuhkan piguranya dan membuat bingkainya pecah.
"Kakek, aku minta maaf. Piguranya jatuh karena..."
"Aaaa! Sakit Kek!" teriaknya membuat semua pelayan datang menuju ke sana dan terlihat amarah dari majikan mereka.
"Siapa yang mengizinkan nya masuk ke sini!" teriaknya sambil menjewer telinga kecil itu hingga memerah.
"Jawab!"
"Ampun Mr, kami teledor!" ucap mereka semua.
"Bodoh! Kalian semua ingin ku pecat?"
"Aghhhh!"
"Sakit Kek!"
"Diam! Kau pembawa sial! Akan ku berikan kau pelajaran!" dengan amarah memuncak ia membawa tubuh kecil itu bersamanya, tidak ada yang berani menghentikannya dan semuanya merasa kasian dengan sosok kecil itu.
"Ampun Kek! Sakit, aku minta maaf." ujarnya dengan menahan sakit.
"Mr, tolong lepaskan Tuan kecil, kasihan ia."
"Diam! Kau ikut bersalah sama dengannya!"
"Ini pelajaran untukmu! Aku peringatkan, jangan masuk dan menyentuh barang milikku! Mengerti!"
"I-iya... Me-mengerti kek."
"Aghhhh! Urus dia!" setelah puas dengan amarahnya ia meniggalkan tubuh kecil itu yang memerah dan sedikit membiru dengan beberapa luka dan tubuhnya yang basah kuyup.
"Tuan kecil..."
"A-aku minta ma-af, jangan pu-kul a... ku. A- aku tidak akan mengu-langinya la...gi..."
Bruk!
"Tuan kecil!
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️😘
Menjelang ending nih 😁😁
__ADS_1