
Alice membaringkan tubuh kekar itu ke sofa, dengan sedikit terengah-engah karena cukup berat membawa tubuh pria itu yang sudah tak sadarkan diri.
"Astaga, berat sekali." Alice melepaskan sepatu pria itu dan meletakkan di rak sepatu. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk membawa Kabir ke rumah nya, sebelum ia terkenal menjadi seorang model.
"Badannya panas sekali! Aku akan ambilkan obat dan kompres untuknya." Alice melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan mengambil barang yang ia butuhkan, setelah mendapatkan yang ia inginkan, alice kembali lagi dan segera mengompres Kabir.
"Apa yang ia makan? badannya sungguh panas sekali!" ujar Alice sambil memandangi Kabir. Ada perasaan aneh di hatinya saat mendekat dan bersentuhan dengan Kabir, apalagi ada sebuah bayangan seolah dejavu.
"Mungkin aku juga butuh istirahat, pikiranku jadi aneh," ujarnya yang merasa mengantuk dan tak lama ia tertidur di samping Kabir.
Malam itu keduanya terlelap satu sama lainnya, tanpa mereka sadari hati mereka telah terpaut jauh sebelum pertemuan ini kembali. Kabir yang merasakan ada sesuatu di dahinya langsung terbangun dan ia merasa asing saat membuka matanya.
"Dimana aku?" tanyanya seraya melihat langit-langit.
Hingga pandangannya terhenti saat merasakan ada sesuatu yang menimpa lengannya. Ia melihat sosok yang tertutupi oleh rambut wanita itu, kabir yang penasaran langsung menyingkirkan rambut itu dan tak lama sebuah senyuman terbit.
__ADS_1
"Alice!" gumamnya seraya memandangi wajah cantik yang terlelap itu.
"Aku berada di rumahnya? kepalaku pusing sekali rasanya, dan ia mengompres ku semalam," ujarnya membuat ia tak berhenti tersenyum saat mengingat kejadian semalam.
Ia ingat, malam itu ia tertidur di kursi dekat jembatan dan tak lama Alice datang dan membawanya pergi dari sana. Lamunannya terhenti saat merasakan Alice mulai bergerak dan akan bangun, dengan segera ia kembali menutup matanya berpura-pura masih tidur.
Dan benar saja, tak lama Alice terbangun dan tersadar bahwa ia ketiduran. Merasa panik ia melihat ke arah Kabir yang masih tertidur pulas dan ia bersyukur akan hal itu.
"Untung saja, sepertinya demamnya sudah turun," ujar Alice saat ia memeriksa suhu tubuh Kabir yang mulai normal.
"Masih jam 5, aku akan memasak makanan dulu." Saat Alice akan beranjak ia mendengar dering telfon nya yang ternyata menampilkan banyak pesan dan panggilan yang tak terjawab.
"Jane!" Alice langsung mengangkat panggilan dari wanita bule itu dan berjalan menjauh dari Kabir. Setelah merasakan tidak ada lagi langkah kaki, ia membuka matanya dan menatap Alice yang membelakangi dirinya.
"Aku merasakan hal berbeda denganmu, dan aku akan lakukan apapun yang membuat kita selalu berdekatan."
__ADS_1
"Karena siapapun yang menarik perhatianku tidak akan aku lepaskan! Entah mengapa aku merasa hal ini pernah terjadi sebelumnya, tapi saat aku mengingatnya hanya melihat gadis berkacamata saja."
Alice akhirnya kembali dan Kabir masih berpura-pura tertidur, wanita itu langsing ke dapur untuk memasak makanan, ia meninggalkan ponselnya dan Kabir membuka matanya dengan cepat saat melihat ada pesan dari Veer. Seketika wajahnya tak suka dan sebuah rencana licik terbit di otaknya, dan ia mengambil ponsel itu yang masih belum terkunci dan mengetikkan sesuatu.
"Kau serangga penganggu!" kabir langsung meletakkan kembali ponsel itu dan melihat dari jauh Alice yang tengah memotong sayuran.
"Alice... kau membuatku tak akan melepaskan dirimu!"
Bersambung...
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️.
Author ucapkan terimakasih kepada para reader yang mampir dan memberikan dukungan untuk karya author yang masih receh ini. Dan juga selamat hari raya idul Fitri 🥰🥰
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya author yang berjudul Pendamping Hidup Mommy Sashi, mohon dukungannya karena mengikuti lomba terimakasih banyak.