
Alice duduk sambil memandangi jalanan yang mulai lengang. Karena jam sudah menunjukkan pukul 19 malam yang merupakan jam orang orang sudah pulang dari keseharian mereka.
Ditemani oleh Jane yang mengendarai mobil, Alice tampak duduk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa penat setelah habis pemotretan.
"Kita langsung pulang?" tanya Jane
"Iya, tentu saja. Memang mau kemana lagi?" balas Alice
"Siapa yang tau, mungkin kau mau mengunjungi suatu tempat, atau...."
"Tidak, badanku sangat lelah. Aku ingin istirahat saja dan langsung tidur. Apalagi musim hujan seperti ini pasti sangat luar biasa" ujarnya sambil membayangkan ranjang yang empuk dan selimut hangat.
"Baiklah" balas Jane
"Seperti biasa, indah sekali" ujar Alice sambil memandangi bangunan tinggi dengan sebuah jam besar diatasnya.
Big Ben, menara jam besar yang terletak di Westminster, London ini disebut sebagai salah satu ikon atau landmark dari ibu kota Inggris Raya ini. Menara yang dibangun setelah kebakaran pada 1834 ini pun selesai pada 1854 namun konstruksinya masih berlangsung sampai 1859.
Menara jam yang beratnya mencapai 15,1 ton ini dibangun setelah parlemen menetapkan bahwa gedung-gedung baru harus memasukan menara jam dan peraturan itu disahkan pada RUU pada tahun 1844.
Nama Big Ben memiliki asal usul yang masih tidak diketahui pasti sampai saat ini. Namun, terdapat dua teori kuat yakni pertama Big Ben dinamai atas Sir Benjamin Hall, komisaris pertama Big Ben yang di rumah kerap disapa ‘Big Ben’.
"Ya, dia merupakan icon negara ini" balas Jane
"Hmmm, benar. Ia tampak luar biasa saat malam hari" ujar Alice.
Setelah melewati perjalanan sekitar 30 menit. Akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen mewah yang merupakan kediaman Alice.
Tanpa lama, mereka segera masuk dan membuka pintu itu.
"Baiklah, aku akan pulang" ujar Jane
"Iya hati hati, tapi kenapa tidak tidur disini saja?" tanya Alice
"Tidak, aku sudah ditunggu kekasih ku. Dan ia akan menjadi guling dan selimut ku nantinya" ujar Jane sembari memperagakan nya.
"Astaga! sebaiknya kau segera pergi! otak mu sudah tidak waras" ujar Alice membuat Jane tertawa terbahak-bahak
__ADS_1
"Dah, selamat memeluk guling!" Jane segera berlari keluar sebelum dilempari sesuatu oleh Alice.
Alice hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Jane yang selalu membuatnya tertawa dan kesal bersamaan.
"Baiklah, ayo mandi air hangat. Tubuhku membutuhkan nya" ujar Alice seraya menuju kamar mandinya.
Setelah menyiapkan air hangat ditambah sabun aroma yang membuat nya merasa rileks. Dengan segera Alice langsung masuk dan merilekskan tubuh serta pikiran nya.
"Seharian bekerja, inilah yang ku butuhkan" ujarnya dengan memejamkan matanya.
Saat memejamkan matanya, beberapa detik kemudian ia langsung terkejut dan membuka matanya dengan cepat. Dengan nafas yang memburu ia segera bangun dan mengambil handuk untuk menutupi tubuh nya.
"Astaga! mimpi itu lagi. Rupanya aku tertidur setengah jam, rasanya baru sesaat" ujarnya bangkit dan menuju kamarnya.
Pemandangan kota yang indah ditemani lampu yang berkelap-kelip menghiasi kota London. Alice segera duduk didekat jendela dengan tubuh yang masih menggunakan handuk.
Ia termenung beberapa saat, mimpi itu selalu datang dan menghampiri nya. Namun ia tak bisa melihat nya dengan jelas dan ketika ia mengingat nya justru membuat kepala nya terasa sakit.
"Udara semakin dingin. Aku harus segera berpakaian" Alice segera bangkit dan menuju lemarinya. Ia mengambil piyama tidur nya
Kaca yang berada dihadapannya, membuat ia spontan bercermin, perlahan ia membuka handuk yang menutupi tubuh nya itu. Hingga sekarang ia melihat tubuhnya yang polos tak terbungkus apapun, ia berbolak balik melihat tubuhnya dari atas hingga bawah, samping kanan dan kiri.
Hingga ia perlahan mendekatkan dirinya ke arah cermin itu untuk merapikan rambutnya. Dan tangannya tiba tiba berhenti di kepalanya, ia merasa ada sebuah goresan yang membekas disana.
"Aku tidak ingat ada luka disini" ujarnya sembari tangannya masih menyentuh luka itu.
"Mungkin ini bekas kecelakaan?, aku ingat rasanya aku pernah mengalaminya" gumamnya
"Sudahlah tidak masalah, lagipula ini tertutupi oleh rambutku"
"Ayo, sekarang kita berpakaian" ia mulai mengambil pakaian itu dan segera memakainya.
Namun saat ia akan melangkahkan kakinya menuju ranjang, perutnya tiba tiba merasa lapar.
"Astaga, aku lupa mengisi cacing perutku!"
__ADS_1
"Sekarang mereka semua berontak minta diisi, sebaiknya kita kedapur" ia mulai melangkah menuju ke luar dan pergi ke arah dapur.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, Alice perlahan menuju dapur nya dan melihat apa yang bisa ia makan. Kulkas ia buka dan kepalanya masuk kedalamnya namun ia tak menemukan apapun yang bisa dimakan.
"Aku lupa belanja keperluan sehari-hari. Dan kulkas pun sudah kosong!, mari kita lihat apa yang bisa kita masak" ujarnya
"Hanya ada buah saja, ini tidak cukup untuk perutku" ujarnya memegang beberapa buah anggur itu.
"Mari kita cek lemari penyimpanan" tangan lentiknya segera membuka satu persatu sembari mencari sesuatu yang bisa ia masak.
"Akhirnya!!!, aku akan memasak nya" Alice bahagia setelah menemukan satu bungkus mi instan yang sangat cocok di musim hujan ini.
"Baiklah, mari kita masak!" ujarnya tak lama segera menyiapkan segala sesuatu yang ia perlukan.
Setelah berkutat dengan pisau, kompor dan wajan. Akhirnya Alice berhasil membuat semangkok mie instan yang mengunggah selera nya.
"Akhirnya sudah jadi!! aku tidak sabar untuk memakan mu" ujarnya melihat hasil masakan nya sendiri.
Dengan segera, ia duduk di meja makan nya, sembari meletakkan mienya yang sudah masak. Ia langsung mengambil sumpit dan segera memakannya.
"Ahhh, luar biasa mie instan memang yang terbaik dan tak pernah salah!" gumamnya.
"Untung saja, Jane tidak jadi tidur disini. Kalau tidak ia sudah mengabiskan semuanya tanpa mengingat ku!" gumamnya sambil terus menyeruput kuah itu.
"Ngomong ngomong, sepertinya aku perlu membeli beberapa varian rasa lagi nanti, untuk stok di apartemen ku. Lagipula sesekali tidak masalah bukan, tidak akan ada yang tau, bahwa aku memakan mie instan. Perutku tidak akan berlemak karena memakannya. Jika aku rutin olahraga semuanya akan baik-baik saja, hihi"
...Drett ttttt ...
Bunyi dering ponselnya, membuat Alice segera mencari keberadaan benda persegi itu. Mata coklatnya segera ia tajam kan. Setelah menemukan nya, dengan segera tangannya mengambil benda itu di seberang mie nya.
"Ok, mari kita lihat siapa yang menelepon?" ujarnya sembari melihat nama yang tertera di ponsel nya.
"Dokter??" gumamnya
Bersambung.....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
__ADS_1