
Mereka akhirnya sampai di sebuah apartemen yang cukup menarik perhatian Eisha, dari luar terlihat sangat bagus dan pasti mahal.
Adnan memakirkan motornya dan mengajak Eisha masuk kedalam dengan membawa makanan yang mereka beli.
"Ayo, kita masuk sebentar lagi akan hujan" ucap Adnan
"Iya, sini aku bantu bawakan" tapi Adnan tidak memberikan nya namun sebuah kunci yang dipastikan kunci kamar.
"No 138" ucap Adnan
Mereka menaiki lift dan tak lama mereka berjalan di lorong apartemen dan mencari kamar 138, Eisha memandangi kamar yang berada disisinya itu dengan tanda tanya.
Adnan pun mengerti apa yang dipikirkan gadis itu, ia akan mengatakan nanti jika gadis itu bertanya.
Dengan segera Eisha mengeluarkan kunci dan membukanya tak lama pintu itu akhirnya terbuka,dan dapat terlihat ruangan yang bernuansa hitam elegan.
Eisha semakin penasaran dan akhirnya keluar juga pertanyaan dari mulutnya. Adnan meletakkan barang yang dibawa nya di dapur dan duduk di tempat gadis itu.
"Adnan...."
"Ini milikku, aku membelinya setelah mengumpulkan uang beberapa tahun" ucap Adnan yang membuat Eisha terdiam.
"Pasti kau berusaha keras ya, terlihat apartemen ini tidaklah murah" ucap Eisha.
"Dulu tidak seperti ini, sekarang karena letaknya sudah di dekat jalan makanya jadi mahal" pria itu mengeluarkan rokok nya.
"Kau merokok??, sejak kapan??" Eisha begitu terkejut melihat pria itu yang tengah menyalakan pemantik api.
"Hei!" Adnan kaget ketika Eisha mengambil rokok itu dan membuangnya.
__ADS_1
"Aku tidak perduli kapan kau merokok, tapi yang jelas aku tidak suka, dan itu sangat berbahaya bagi kesehatan mu!" gadis itu terlihat kesal dan pergi ke dapur mengambil piring.
"Kau jadi cerewet sekarang ya, aku rasa karena berteman dengan gadis itu, kau juga sudah berani mengatur ku" Adnan bicara sambil memperhatikan gadis itu mengeluarkan makanan yang mereka beli.
"Terserah kau bilang apa, yang jelas jika itu buruk aku akan membuangnya sejauh mungkin!" gadis itu menatap Adnan dengan sengit.
"Kau menghawatirkan ku ternyata" ucapan pria itu menghentikan pergerakan Eisha.
"Anggap saja begitu, sekarang makanlah!" Eisha memberikan semangkuk bakso pada pria itu.
"Baiklah" ucap Adnan mengalah dan segera makan.
Eisha memandangi pria itu yang tengah lahap menyantap bakso kuah itu, seperti nya pria ini tidak berhenti untuk sekedar makan.
"Kau tidak makan??" tanya nya disela makan nya.
"Buka mulutmu!" perintah Adnan
"Apa??, kenapa??" tanya Eisha bingung
"Lihatlah dirimu, kau kelihatan kurus makan ini sedikit supaya kau tidak kekurangan gizi!" ucapan pria itu membuat Eisha melihat dirinya.
"Itu tidak...eumhhh" ucapan Eisha terhenti karena benda bulat itu sudah masuk ke dalam mulutnya dan membuat nya terpaksa mengunyah.
"Adnan!, lain kali jangan begitu, aku bisa tersedak!" peringatan Eisha.
"Tapi tidak kan??, lagipula rasanya enak sekali" pria itu melanjutkan makannya tanpa rasa bersalah.
Eisha hanya geleng-geleng kepala melihat nya, ia segera beranjak ke kamar mandi dan meninggalkan pria itu sendiri.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 10 malam, terlihat Adnan melepaskan jaket kulit nya dan terlihat lengan kekar itu dengan kaos yang mencetak tubuhnya.
Wajah Eisha bersemu merah karena itu, pria ini sangat pandai membuat jantung nya berdisko ria. Setelah menetralkan ekspresi nya ia berjalan ke arah pria itu yang tengah menikmati teh hijau.
"Sudah selesai, lebih baik aku kembali ke asrama" ucap Eisha.
"Kau akan menginap disini, ini sudah malam" seketika mata itu terbelalak karena ucapan pria itu.
"Apa?????"
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan vote ya, biar author makin semangat ❤️❤️❤️
Sambil menunggu Episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita seru dan menarik 😍
Judul: Hatiku Padamu Kak
Penulis : Alviesha
"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.
"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"
"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.
"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"
(Hatiku Padamu Kak, ketika Arrida selalu merasa hanya dia yang mencinta)
__ADS_1