Hei!!! Gadis Berkacamata

Hei!!! Gadis Berkacamata
Bertemu Kembali


__ADS_3

Alice duduk dan menghindari tatapan mata tajam itu yang tengah menatap dirinya. Pria itu sedikitpun tak bergerak dan menghentikan tatapannya.


"Astaga! ingin sekali ku lemparkan dokumen ini ke wajahnya," pekiknya dalam hati.


"Jadi, bagaimana tuan Kabir?" tanya Veer membuat pria itu menatap ke arah proyektor dan setelah itu ia mengangguk setuju.


"Iya, aku setuju," tukasnya.


"Baiklah, itu artinya kita sepakat dan semoga kerjasama ini membuahkan hasil yang bagus. Dan mengenai masalah model untuk produknya, kami menunjuk Alice untuk itu," ungkap Veer.


"Bagaimana menurut anda? tanya Veer.


"Setuju! Aku setuju dengan itu!" ungkapnya dengan mata yang tak lepas dari Alice.


"Baiklah, selamat untuk itu." Veer bangkit dan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan disambut baik oleh Kabir.


"Kita akan mulai besok," ujar Veer yang membuat Kabir hanya mengangguk.


"Kalau begitu sampai jumpa besok Tuan Kabir, ayo Alice," ujar Veer.


"Iya, sampai jumpa Tuan Kabir," tukas Alice pada Kabir yang langsung mengikuti Veer keluar ruangan dan meninggalkan Kabir dengan Sam disana.


"Tuan, apa..."


"Kita pulang!" ujarnya yang langsung disetujui oleh Sam.


Sepanjang perjalanan Sam melihat Kabir tidak tenang, ia mengerti pasti berkaitan dengan Alice yang mengangguk pikiran Tuannya itu.


"Sam! Kau pergilah! Aku yang akan menyetir!" ujarnya membuat Sam menghentikan mobil mendadak.

__ADS_1


"Maaf Tuan anda bilang apa?" tanya Sam memastikan pendengarannya.


"Aku bilang, kau pergilah dan tinggalkan aku sendiri, aku ingin pergi sendiri!" ujarnya, tak ingin membuat kemarahan lagi, sam langsung setuju dan ini juga menjadi kesempatan bagus untuknya bertemu dengan Naura.


"Baik Tuan, jika anda butuh sesuatu segera hubungi saya," ujar Sam yang mulai keluar dari mobil dan membiarkan Kabir duduk di kursi pengemudi.


"Hmmm," ujar Kabir yang langsung meninggalkan Sam sendiri di tengah jalan.


"Aku akan menghubungi naura," ujar Sam dengan segera mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Naura.


Jembatan London adalah sebuah jembatan yang menghubungkan Kota London dengan Southwark di London, Inggris, melintasi Sungai Thames. Terletak di antara Jembatan Kereta Api Cannon Street dan Tower Bridge, jembatan ini merupakan ujung paling barat Pool London. Pada sisi sebelah selatan merupakan Katedral Southwark Cathedral dan stasiun Jembatan London; pada sisi utara merupakan Monumen Great Fire of London dan stasiun Bank and Monument. Jembatan London merupakan satu-satunya jembatan yang melintasi Thames dari Kingston sampai Jembatan Westminster yang dibuka tahun 1750.



Kabir duduk ditemani oleh langit malam serta lampu yang bercahaya yang memperlihatkan keindahan jembatan London, pria itu sedang memegang minuman kaleng seraya sedang berpikir mengenai perasaan nya saat bertemu dengan Alice.


"Apa aku menyukainya? Ia menghipnotis ku untuk selalu memandangi dirinya dan jantung ku selalu berdebar kencang ketika bersamanya," ujar Kabir sambil meremas minuman kaleng.


Ia terduduk di kursi yang menghadap ke arah pemandangan sungai, sesosok wanita sedang menggerutu karena ia belum juga dijemput, padahal sejak tadi ia sudah menunggu.


"Astaga Jane! Kalau begini lebih baik aku pulang saja tadi," ujarnya kesal melihat balasan dari Jane yang masih terjebak.


"Kakiku pegal sekali! Sebaiknya aku duduk dulu di sana," ujar Alice melihat ke arah kursi di sekitar sungai. Akhirnya Alice mendudukkan bokongnya di kursi itu seraya sedikit memijat kakinya yang pegal.


"Kenapa aku jadi ingat pria itu? menyebalkan sekali!," ujarnya kesal saat terlintas wajah Kabir dihadapannya.


"Kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan..."


"Akan apa?" Suara itu membuat Alice kaget dan melihat sisi kursi di belakangnya yang menampilkan sosok pria yang tertelungkup di sana.

__ADS_1


"Dia melantur?" ujarnya sendiri.


"Hoekk!" suara itu membuat Alice bangkit dan menuju sosok itu yang terlihat tidak sehat.


"Astaga! Sepertinya ia sakit" ujar Alice melihat sosok itu.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanyanya kepada pria yang terlihat mengeluarkan isi perutnya.


"Tuan??..." Alice tak melanjutkan ucapannya melihat sosok dihadapannya saat ini.


"Kau!" ujarnya namun, sebelum ia bicara lebih lanjut Kabir kembali memuntahkan isi perutnya.


"Kau demam!"pekik Alice seraya membantu Kabir bangkit, sedangkan Kabir memandangi wajah yang mengisi kepala nya sejak tadi.


"Mobilku disana!" ujarnya sedikit lemah dan Alice segera menuju kesana.


"Astaga! Bagaimana sekarang? aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri!" alice bingung harus berbuat apa, ia sedang menunggu kedatangan Jane tapi pria sombong ini sangat membutuhkan bantuannya.


"Ponselnya pake mati lagi!" alice semakin kesal dan tak punya pilihan lain.


"Hei! rumah mu dimana?" tanyanya namun tak ada jawaban.


"Aku harus bawa kemana?" Hingga akhirnya Alice menuju tempat yang ia yakini tak ada yang tahu.


Bersambung....


Sebentar lagi akan ada momen kebersamaan mereka lagi nih! Ayo siapa yang tak sabar 🤭🤭


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️

__ADS_1


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya author untuk ikut lomba, mohon bantuannya semua.



__ADS_2