Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Meet


__ADS_3

Cekidot...


"Iy-Maria."  Ucap lelaki itu terkejut.


"Bo-boleh gue duduk." Ucap Maria sedikit gugup.


"Oh.. Emm.. Silahkan." Ucapnya.


"Ada apa?" Tanya lelaki itu sedikit kaku.


"Lo beneran udah bertunangan sama wanita lain." Tanya Maria dengan gemetar.


"Ya." Jawabnya singkat.


"Kenapa bis-" Ucapan Maria terpotong hatinya sangat pilu saat ini.


"Apa yang gak bisa huh! Lo cuekin gue. Lo gak pernah ada buat gue... Kemana aja lo! Lo gak pernah kan perduliin gue. Jadi gue juga gak peduli tentang perasaan lo." Ucap Ammar dengan nada sedikit meninggi karena ada rasa emosi.


"Lo juga kemana? Gue itu kecewa sama lo. Tap-" Maria menyahuti ucapan Ammar, lagi-lagi ucapannya terpotong.


"Gue muak sama lo. Jadi jangan ganggu hidup gue bersama calon istri gue ngerti!" Ucap Ammar dengan wajah yang sudah mengeras.


Ia pun segera bangkit dari duduknya dan keluar dari cafe tersebut setelah memberikan sejumlah uang untuk membayar minumannya.


"Bego!" Pekik Maria lalu berlari keluar cafe ia ingin mengejar Ammar namun terlambat Ammar sudah pergi mengendarai mobilnya.


Hiks... hikss...


Maria menangis dengan sesenggukan, seseorang yang melihat kejadian itu pun menghampirinya. Entah dorongan dari mana orang itu pun memeluk Maria dengan erat.


Maria pun menangis tersedu-sedu, hampir setengah jam ia menangis maria pun melepaskan pelukan orang itu.


"Jangan cenggeng dong." Ucapnya sembari mengelus kepala Maria.


"Gue g-gak cenggeng. Gue c-cuma kecewa." Ucap Maria dengan menghapus sisa air matanya.


"Udah ah yok balik." Ajaknya lalu menggandeng tangan Maria.


"Ck... Modus lo gi." Ucap Maria yang sengaja sedikit menggoda Gio untuk mencairkan suasana.


"Modus kata lo."  Ucap Gio dengan membulatkan matanya.


"Iya lah lo pegang-pegang tangan gue nih." Ucap Maria dengan menunjukan tangannya.


"Ck.. Lo tuh." Ucap Gio lalu melepas genggaman tangannya ia pun berjalan meninggalkan Maria.


"Dih kok gue ditinggal si." Pekik Maria lalu berlari menghampiri Gio.


"Bodo." Ucap Gio ngambek.


"Gue anter." Ucap Gio lalu membukakan pintu mobilnya.


"Makasih." Ucap Maria yang masuk kedalam mobil Gio.


Mereka pun meninggalkan cafe, maria melihat keluar kaca mobil. Memori tentang Ammar pun bermunculan tak terasa setetes air mata berhasil lolos dari sudut matanya.


"Mar lo mau makan dulu, gak gue laper nih." Ucap Gio yang mencairkan suasananya.


"Eh" Ucap Maria sedikit terkejut. "Boleh." Ucap Maria dengan sedikit mengangguk.


"Mar lo tau gak bedanya lo sama lukisan?" Ucap Gio yang berusaha mengombal.


"Gak, emang apa bedanya?" Ucap Maria binggung.


"Kalau lukisan tuh makin lama makin antik, kalau lo makin lama makin cantik." Goda Gio dengan mengedipkan satu matanya.

__ADS_1


"Gio!" Pekik Maria, ia mendengus pelan. "Gombal lo mah." Ucap Maria yang memukul pelan lengan Gio yang tengah menyetir.


"Eh Eh... Jangan mukul kalau terjadi apa-apa gimana coba." Ucap Gio yang gagal mengombali Maria.


"Iya iya..." Ucap Maria pelan.


"Padahal nih ya kalau lo tau, cewek-cewek waktu gue gombali gitu pasti dia langsung wehhh kelepek-kelepek." Ucap Gio dengan sombongnya.


"Lah gue kan beda." Ucap Maria mencibir.


"Iya aja lah." Ucap Gio pasrah.


Mereka pun mampir kesalah satu restoran buat makan malam karena sedari tadi perut Gio sudah keroncongan. Setelah makan Gio langsung mengantar Maria pulang kerumahnya.


*****


Ditempat lain seorang laki-laki sedang membanting semua barang-barang di kamarnya. Suara benda berjatuhan terdengar dari bawah.


"ARGHHH!!" Teriak orang itu membuat semua penghuni dirumah itu ketakutan.


Tidak ada yang berani mengetuk atau menegur pemilik kamar itu termasuk orang tuanya. Namun karena mereka tak ingin anaknya yang didalam kamar mengamuk lebih hebat mereka pun terpaksa masuk.


"Ammar!" Teriak sang papa.


Hanya tatapan kecewa dan sedih yang terlihat di wajah Ammar ia sangat frustasi pada dirinya sendiri.


"Keluar!" Teriak Ammar dengan nada tingginya.


"Kenapa kamu seperti ini?" Tanya sang mamanya.


"Mama masih tanya aku kenapa? Mama sadar mama sudah merampas kebahagiaan aku, kenapa aku harus menikah dengan wanita itu!" Pekik Ammar yang meluapkan uneg-unegnya.


"Jangan bentak mamamu Ammar!" Ucap papanya ia tak terima jika istrinya dibentak-bentak anaknya.


"Kenapa pah? Kenapa apa salah Ammar, Ammar selalu menuruti perkataan kalian tapi kenapa kalian seperti ini." Ucap Ammar.


Hanya diam yang Ammar lakuin ia kecewa karena tak bisa membantah ucapan sang papa. Ia hanya terduduk lesu di lantai air matanya bercucuran.


"Lupakan Maria jika kamu mau bahagia." Ucap mamanya.


Mamanya dan papanya pun keluar kamar Ammar membiarkan anaknya berlarut dalam kesedihan. Karena mereka yakin Ammar dapat melepaskan kesedihannya itu.


"Maafin aku sayang." Ucapnya pelan sembari menatap foto yang ia lihat di wallpaper ponselnya.


"Aku sayang sama kamu tapi aku gak bisa menolak keinginan mama. Maafin aku yang udah bentak kamu." Ucap Ammar yang masih menangis.


Rasa sakit yang ia rasakan sungguh menyiksa dirinya ia hanya bisa pasrah dengan waktu. Hanya ia yang dapat memulihkan semuanya agar tidak terjadi permasalahan diakhir kisahnya.


*****


Citttt


Suara yang ditimbulkan oleh ban mobil yang dihentikan secara mendadak membuat seseorang yang berada didalam mobil itu terkejut.


"Sial" umpatnya sang pengemudi, ia pun segera turun hampir saja ia menabrak seseorang yang tergeletak di jalanan.


Beruntung jarang mobil dan orang yang jatuh pingsan itu menyisakan jarak sehingga orang-orang dapat menyimpulkan itu bukan suatu kecelakaan.


"Mas mas tolong bawa kerumah sakit." Ucap salah satu warga yang menyaksikan itu.


Tanpa babibu orang yang keluar dari mobil itu membawa wanita itu kerumah sakit terdekat. Rasa aneh yang orang itu rasakan ia sepertinya mengenali siapa wanita itu.


*Deg


"Tasya" gumamnya dalam hati*.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit Tasya langsung dilarikan kerumah sakit, orang yang membawa Tasya hanya mondar mandir di depan lorong UGD.


"Argh gue mana ada nomernya bang chandra." Gumamnya yang sedang berpikir untuk menghubungi keluarga Tasya.


Tak lama dokter yang menangani Tasya keluar ia memberitahu jika Tasya terkena dehidrasi berat. Sehingga Tasya harus dirawat lebih lanjut dirumah sakit ini.


Setelah dipindahkan keruang inap orang itu pun menghampiri Tasya tangannya terulur memegang keningnya.


"Kenapa lo kurus gini si." Gumamnya ada rasa sesak saat melihat tubuh kecil Tasya.


"Engh" lengkuhan pelan keluar dari bibir Tasya, samar-samar penglihatannya terbuka.


Bau obat-obatan tercium dihidungnya membuatnya menatap sekelilingnya hingga matanya tertuju dengan laki-laki yang saat ini berdiri dihadapannya.


"Kevin" Gumam Tasya pelan.


"Iya." Jawab Kevin pelan.


"Kok gue disini?" Tanyanya.


"Besok gue ceritain sekarang lo istirahat." Ucap Kevin.


"Gak vin, gue mau pulang." Ucap Tasya yang akan bangkit dari tidurnya.


Kevin pun menahannya ia memegang tangan Tasya dengan raut wajah sedih yang sempat terlihat di mata Tasya. "Lo dehidrasi berat jadi sementara lo harus dirawat." Ucapnya.


"Gue mau pulang vin." Tasya memaksa.


"Gak bisa sya." Ucap Kevin.


"Ihh Vin gue mau balik awas." Perintah Tasya yang coba berdiri.


"Lo tetep ngeyel ya." Ucap Kevin.


"BODOK" Ucap Tasya yang siap turun dari ranjang.


Cup


Kecupan manis mendarat dibibir munggil Tasya, membuatnya tak percaya dengan apa yang ia rasakan.


"Kevin!" Pekiknya pelan karena tubuhnya masih lemas.


"Jangan ngeyel dibilangin." Ucap Kevin lalu memeluk tubuh Tasya, Tasya hanya dapat memukul pelan dada Kevin. Hatinya sesak saat mendapatkan perlakuaan seperti ini.


Perasaan memang tak mudah dibohongi, walaupun mereka telah berpisah namun mereka sama-sama saling menyayangi. Hanya Tuhan yang dapat menyatukan kisah mereka.


****


Didalam rumah chandra sedang berjalan kesana kemari perasaannya tidak enak, ia melirik di jam dinding yang bertengger diruang tamu.


"Kemana si lo dek." Gumam Chanda yang menghawatirkan Tasya.


Kring... kring..


"Halo" Ucap Chandra


"Bang ini gue kevin." Ucap seseorang di seberang sana.


"Eh bangsat ngapain lo telepon gue. Gak kapok lo!" Bentak Chandra.


"Sorry nih bang. Gue cuma mau bilang kalau Tasya-"


"Kenapa sama adek gue! Lo apain? "  Bentaknya.


"Tasya masuk rumah sakit."

__ADS_1


"APA!" Chandra sangat terkejut. "Apa yang lo lakuin sama adek gue huh!." Bentaknya lagi.


To be continued


__ADS_2