
Revan menemui wanita itu dan sedikit berbicara mesra padanya. Bagas terlihat kesal karena kepolosan Revan. Ia mengirim pesan pada Revan yang membuat pemuda itu tertawa dalam hati.
"Aku tidak sepolos yang kamu kira, Gas! Aku tidak bodoh! Aku hanya sedang berpura-pura! Aku sedang berakting saat ini!" ia membalas pesan Bagas yang membuat pemuda jangkung itu bernapas lega.
Revan pun kembali memulai aksinya. Ia kembali berbicara pada wanita itu hingga ia terkejut ketika Zalimar diikut sertakan oleh wanita itu di dalam pembicaraan mereka. Demi memuluskan rencananya, ia terpaksa berkata yang membuat Zalimar sakit hati mendengar ucapannya.
Revan belum sadar akan hal itu. Ia sadar ketika mendengar suara dengusan napas memburu di belakangnya. Ia tersentak. Revan mengirim pesan pada Bagas dan bertanya.
"Ada Zalimar di belakangmu. Hati-hati. Wanita itu sedang memainkan siasatnya padamu dan istrimu. Ck. Aku pikir Zalimar tadi sudah pulang karena tidak terlihat. Tak tahunya, istrimu berada tepat di belakangmu!" ucapnya membalas pesan Revan melalui earphone yang kini terpasang di telinganya.
Hal yang begitu kecil dan transaparan dan menyatu dengan kulit. Tak ada yang menyadari itu. Alat itu merupakan buatan Bagas sendiri. Bagas merupakan seorang pakar IT di perusahan kedua orangtua Revan.
Jantung Revan seakan lepas dari tempatnya. Belum selesai dengan keterjutan itu, ia mendengar ucapan wanita ular itu untuk Zalimar. Tangan Revan mengepal dengan erat.
Tanpa ia tahu jika Zalimar di belakangnya sedang terisak yang membuat jantungnya mencelos seketika.
Sialaan!
Umpatnya dalam hati menatap sayu pada wanita ular yang bernama Tiara itu. Ya, Tiara. Wanita ular yang sedang mereka bahas dan rencanakan adalah Tiara.
Revan tidak menyangka jika Tiara terlibat dalam kecelakan yang terjadi lima belas tahun yang lalu pada calon suami Zalimar, Damar Prawita yang kini sudah menjadi suami saudara kembarnya.
Awalnya Damar tidak ingin menerima Zianti karena Zalimar. Separuh ingatan itu kembali dan ia ingin kembali pada Zalimar. Akan tetapi, Revan menahan pemuda itu.
"Untuk apa kamu kembali pada Zalimar? Untuk menyakitinya? Belum puaskah dulu keluargamu menuduhnya yang membunuhnya? Aku saksi dari kejadian nahas itu. Istrimu. Istrimu pelakunya. Tetapi, kamu menuduh Zalimar! Keluarga kamu pun menuduh Zalimar! Ingat? Ginjal yang kamu miliki saat ini merupakan ginjal Zalimar! Bukan ginjal istrimu!"
__ADS_1
Pada saat itu Damar shock berat. Ia tidak tahu menahu dengan hal itu. Yang ia tahu dari keluarganya, jika ginjal yang kini bersarang di tubuhnya merupakan milik Zianti, istrinya. Tapi, ternyata. Damar salah kira dan salah kaprah.
"Tak perlu kamu mengingatnya lagi. Zalimar sedari dulu memang di takdirkan untukku. Dulu aku melepasnya untukmu. Tetapi, sekarang tidak lagi. Kamu sudah menikah dengan saudaranya. Dan aku yang akan menggantikanmu. Jangan egois Damar!" ucapnya dulu yang membuat Damar tak bisa mengelak lagi.
Hal yang tak terduga ternyata selama ini ada di depan matanya. Akan tetapi, karena rasa kesal dan dendamnya, ia menjauhi Zalimar dan mengucilkan wanita itu.
Dan kini Revan harus mengambil alih apa yang seharusnya, ia miliki. Saat ini Revan ingin melepaskan dirinya dari jerat wanita ular itu. Makanya ia membuat rencana ini. Tetapi, hal tak terdua terjadi padanya.
Zalimar malah ikut serta dalam hal itu. Revan panik setengah mati ketika Zalimar tidak ia temukan di mana pun. Ia terlambat bisa menemukan wanitanya yang sedang sakit hati dan terluka karena perkataannya yang sengaja ia katakan pada wanita itu agar waniat itu tidak curiga.
Niat hati ingin kembali dan berpamitan pada wanita itu, malah fakta mengejutkan yang ia dapat. Revan mendengarkan apa yang wanita itu ucapkan sendiri.
Tak hanya itu. Ia juga mengatakan jika bayi dalam kandungannya itu bukanlah anak Revan. Melainkan pria lain yang sengaja mengambil kesempatan ketika dia sedang mabuk walau tidak terlalu parah.
Revan merekam semua ucapan wanita itu dengan tangan terkepal erat. Setelah itu ia berlari mencari Zalimar ke seluruh restoran hingga ke jalan raya. Namun, sosok yang ia cari tak kunjung ia temukan. Satu jam ia berkeliling mencari Zalimar, istrinya.
"Ck. Bangun Van! Jangan cengeng jadi laki!" ketusnya menarik Revan ke mobil mereka. Tiba di sana, ia mengambil ponsel Revan dan membuka GPSnya. Ia melacak keberadaan Zalimar melalui ponsel Revan. Setelah ia temukan, Bagas segera melajukan mobilnya ke tempat yang Zalimar tuju. Bagas tidak mengatakan apapun pada Revan yang sedang merana karena kehilangan istrinya.
Menurutnya, orang yang sedang kehilangan akan sulit berpikir. Oleh karena itu, ia bertindak sesuai yang ia tahu. Satu jam lebih mereka baru tiba di sana. Saat keduanya tiba di sana, Bagas terkejut melihat motor Zalimar menabrak pohon.
Sempat ragu jika itu motor Zalimar. Akan tetapi, titik GPS itu benar di sana. Dan ia pun lebih terkejut ketika melihat banyak orang berkerumun di tengah jalan itu.
Ia menyentak tubuh Revan yang sedang melamun dan mendorongnya hingga terjatuh keluar setelah pintu ia buka paksa dari dalam.
Revan yang terkejut menatap bingung padanya.
__ADS_1
"Zalimar, Van! Istri kamu kecelakaan!"
Jeduuaar!
Serasa dihantam petir dunianya. Revan hampir jatuh jika tidak berpegangan.
"Dimana? Di mana istriku?!" tanyanya sambil berteriak keras.
Bagas menunjukkan ke arah depan yang berjarak sepuluh meter darinya. Revan tersentak. Spontan saja ia berlari ke arah kerumunan itu. Ia lebih tersentak lagi ketika melihat benar jika itu adalah Zalimar, istrinya.
Revan memeluk erat istrinya dengan suara tangisan pilu. Seorang ustdzah di sana menyuruhnya untuk membawa Zalimar ke klinik mereka. Ustadzah itu mengenal Revan dan juga Papa Kenan.
Akhirnya zalimar ditangani dengan cepat.
"Van!" Lamunan itu buyar seketika. Revan tersentak ketika bahunya di tepuk oleh Bagas yang baru saja masuk ke ruangan Zalimar yang kini masih belum sadarkan diri.
"Makan malam dulu. Sedari siang hingga tengah malam begini, kamu belum makan, loh. Jangan menyiksa dirimu karena istrimu kecelakaan. Kamu harus kuat dan memiliki tenaga penuh. Kamu harus kuat untuk merawat istrimu. Untuk sementara, kamu harus menetap di pesantren ini. Menurut informan kita, wanita ular itu sedang mencari dirimu." Ucapnya yang membuat Revan menoleh padanya.
"Kenapa wanita itu mencariku? Ingin memainkan siasat lagi? Tidak, Gas. Cukup Zalimar mengalami hal ini. Aku tak mau istriku terluka untuk yang kedua kalinya," lirih Revan begitu nelangsa.
Bagas menepuk kembali bahu sahabatnya itu. "Aku sudah mengirimkan bukti itu pada papa. Jadi, papa sudah bergerak cepat. Papa juga sudah mengumumakn perniakhan kamu ke media. Inilah yang membuat wanita itu meradang. Kamu sedang di cari olehnya. Ia menyuruh orang untuk menculik istrimu dan membunuhnya!"
Deg, deg, deg..
Jantung Revan berdegup tidka menentu ketika Bgas mengatakan hal itu padanya.
__ADS_1
"Baiklah, jika di pesantren ini lebih baik. Maka aku dan Zalimar akan di sini. Aku akan bekerja dari sini saja. Tolong, persiapkan tempat dan juga barang-barangku di sini. Untuk sementara, aku akan tinggal di sini dulu. Papa sudah tahu bukan?"
Bagas mengangguk. Revan menghela napas panjang dan merasa lega karena jauh dari bahaya.