Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Obsesi


__ADS_3

Papa Kenan dan Mama Bella bergabung dengan abi Zidan yang sedang bermain dengan cucu pertamanya.


"Sudah ketemu Zalimar dan Revan?" tanya ummi Zee


Abi Zidan menoleh pada papa Kenan. Beliua terkekeh. Ummi Zee keheranan.


"Kenapa? Ada yang lucu kah?" tanyanya yang diangguki dan gelengan bersamaan oleh papa Kenan.


Mama Bella tertawa melihat wajah bingung kakak iparnya itu.


"Nggak jadi ketemu, Kak." jawab mama Bella masih saja tertawa melihat tingkah suaminya.


"Kenapa tidak jadi? Zalimar tidak ingin bertemu kalian?" tanya ummi Zee lagi masih saja belum puas dengan jawaban adik iparnya itu.


Papa Kenan masih saja terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Kami ingin bertemu keduanya tadi, tapi tak jadi. Sebab keduanya sedang bermain, ah, Sayang!" serunya terjingkat karena pinggangnya dicubit oleh istrinya.


Mama Bella melototkan matanya. Papa Kenan tertawa melihat istrinya.


"Kenapa? Apa yang keduanya lakukan?" tanya ummi Zee semakin penasaran.


Zianti dan Damar pun ikut penasaran dengan tingkah papa Kenan. Entah apa yang begitu menarik hingga membuatnya terus saja tertawa. Suara tawanya itu memancing keingin tahuan dari pasutri yang kini menatap mereka para orangtua.


Papa Kenan terus tertawa karena melihat mata mama Bella melotot padanya.


"Katakan Kenan! Apa yang sedang putriku lakukan bersama suaminya!" seru ummi Zee semakin kesal dengan sikap dan tingkah iparnya itu.

__ADS_1


Beliau mendengkus kesal.


"Aucht! Sakit, Sayangku!" Keluhnya menjerit manja karena mama Bella kembali mencubit pinggangnya.


Ummi Zee yang geram melihat tingkah iparnya itu segera menimpuknya dengan bantal. Ia terkejut. Spontan saja putra Zianti tertawa terbahak melihat sang nenek menimpuk kakeknya itu.


Abi Zidan terkekeh melihat tingkah bar bar istrinya yang tidak pernah berubah sedikit pun jika sedang kesal pada seseorang.


"Katakan Kenan Putra Ar Reza!" Jeritnya lagi yang membuat tawa papa Kenan semakin keras.


"Katakan sekarang atau?" Ancam ummi Zee dengan mata melotot tajam.


"Baik, baik, baik! Apalagi yang mereka perbuat jika bukan membuat cucu untuk kita? Bukan begitu, Damar?" Pancingnya pada pemuda itu yang membuat wajahnya dingin seketika.


Zianti melengos ke arah lain ketika tatapan mata ummi Zee menatap datar padanya. Suasana mendadak hening setelah mendengar ucapan papa Kenan baru saja.


Ummi Zee menghela napas berat. "Alhamdulillah jika keduanya sudah bersatu. Itu lebih bagus malahan. Keduanya sudah sah. Semoga Zalimar bahagia bersama pemuda yang memang pantas untuk menjadi suaminya," ucap ummi Zee setelah sekian lama terdiam.


Abi Zidan mengangguk setuju. "Terima kasih, Dek. Kamu sudah menanggung biaya hidup Zalimar selama ini. Maafkan atas perlakuan kami pada Revan dulunya," ucapnya tulus yang diangguki oleh papa Kenan.


"Sama-sama Bang. Akan tetapi, lebih bagusnya ucapan terima kasih itu abang ucapkan langsung pada Revan. Sebab Revanlah yang membiayai Zalimar sedari ia di pesantren hingga ia lulus spesialisnya. Seharusnya, aku yang beruntung memiliki anak perempuan seperti putrimu. Ia berusaha dengan baik hingga mendapatkan nilai terbaik. Semua usaha Revan tidaklah sia-sia. Pengorbanan Revan terbayar sudah dengan cara ia menikahinya ketika ia baru saja pulang dari luar negeri," papa Kenan tertawa mengingat tingkah Revan.


Abi Zidan mengangguk lirih. Sedangkan Zianti tercenung mendengar ucapan papa Kenan dan abi Zidan baru saja. Ia tidak menyangka, jika penyelamat Zalimar adalah suaminya sendiri.


Ia pikir, selama ini Zalimar dibantu umminya. Tapi, ternyata? Revanlah yang membiayai semua kebutuhan Zalimar hingga saat ini. Betapa beruntungnya Zalimar menikahi Revan, pikirnya.

__ADS_1


Zianti menggelengkan kepalanya ketika pemikirannya itu salah.


'Kenapa pula aku memikirkannya? Bagus, dong, jika kakak dibantu bang Revan? Itu artinya, bang Damar sudah pasti seutuhnya milikku! Apapun akan aku lakukan agar aku bisa mendapatkannya!' batinnya tersenyum senang.


Zianti sudah sedari dulu menghasut Damar dan kedua orangtuanya untuk tidak menanggung biaya Zalimar. Oleh karena hasutan Zianti, kedua orangtuanya jadi bersikap zholim pada putri sulungnya.


Maka dari itu, Revan sengaja membuka mata kedua uwaknya itu tentang kejadian lima belas tahun yang lalu hingga keduanya sadar akan kesalahan mereka yang sudah berbuat zholim pada putri sulungnya itu.


Keduanya berusaha memperbaiki hubungan yang sudah retak, bahkan putus itu. Akan tetapi, Zalimar tidak mau untuk menyambungnya lagi. Hatinya terlalu sakit dan kecewa akan kelakuan kedua orangtuanya.


Zalimar terlanjur jauh pergi dari keduanya hingga sulit untuk digapai kembali. Hanya karena percaya pada putri yang salah, keduanya membuang putri yang benar.


Ketika mereka berdua ingin memperbaikinya, Zalimar malah tidak ingin lagi mendekati mereka. Jangankan untuk berbicara, bertemu pun Zalimar enggan dengan keduanya.


Zalimar terlanjur kecewa. Ia lebih memilih menghindar daripada harus bertemu yang berujung pertikaian seperti yang terjadi tadi.


Keduanya merasa bersalah akan hal itu. Ketika keduanya akan kembali merengkuh Zalimar, keduanya malah semakin menjauh dari putri sulungnya itu.


Keduanya benar-benar rugi saat ini. Abi Zidan yang paling terluka karena perlakuan zholimnya terhadap Zalimar. Putri sulungnya itu memilih menghindar dan tidak berbiucara padanya karena kesalahan yang ia perbuat.


Hanya karena membela Zianti, beliau menuduh dan menuding Zalimar karena sudah berbuat tidak baik kepada Zianti, saudara kembarnya.


Sungguh licik saudara kembar Zalimar itu. Hanya karena cinta dan ingin memiliki pemuda yang ia cintai itu seutuhnya menjadi miliknya.


Obsesi. Inilah yang Zianti lakukan kepada Damar. Demi mendapatkan pemuda itu, ia rela menghalalkan segala cara walau harus memutus hubungan antara anak dan kedua orangtuanya.

__ADS_1


Na'uzubillahiminzalik!


__ADS_2