Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Hamil?


__ADS_3

Suara nyanyian merdu sahut menyahut masih terus berlanjut. Keduanya sedang melepas rindu di dalam sana.


Zee tidak melepaskan Zidan sedikitpun. Sepertinya Zee sedang balas dendam kepada suaminya itu.


Sangat terlihat jelas jika Zee yang lebih semangat daripada Zidan saat ini. Bukan Zidan kalah, hanya saja ia ingin menuruti keienginan Zee saat ini.


Ia akan melakukan apapun asalkan istrinya itu senang dan bahagia. Dan ya, Zee sangat bahagia saat apa yang dia ingin kan sudah di dapatkan karena Zidan sudah kembali.


Keduanya terlelap setelah akvitas berbagi keringat itu. Ummi ira tidak ingin mengganggunya.


Ia malah membiarkan kedua orang itu. Ia lebih menyibukkan diri dengan tanamannya yang ada di Taman belakang setelah Abi Raga dan Arga kerumah sakit dan ke kantor.


Sepasang suami istri itu kini sedang terlelap dengan damai.


Cukup puas untuk merebahkan diri diranjang yang empuk, kini Zee mulai mengerjabkan matanya.


Tubuhnya teras remuk semua. Ia ingin bangkit, tetapi tidak bisa karena sesuatu yang hangat kini membelit tubuhnya.


Bahkan sangat terasa oleh Zee. Ia berbalik dengan perlahan dan melihat Zidan kini terlelap dengan pulasnya.


Ia menatap Zidan dengan dalam. Tanpa sadar ia kembali mereguk manisnya putik ranum sang suami yang membuatnya entah seperti apa.

__ADS_1


Zidan melenguh saat merasakan pusat tubuhnya disentuh oleh yang lembut dan bermain disana. Mata Zidan yang begitu lengket membuatnya sangat sulit untuk terbuka.


Tetapi ia paksa. Zidan tersenyum saat melihat sang istri kini sednag menggerayangi tubuhnya.


"Zee.. Sayang.. Kamu sudah bangun?"


Zee tidak menjawab, ia sibuk dengan aktivitas barunya itu. Entah apa yang terjadi padanya hingga Zee bertingkah seperti itu.


Zidan tidak marah, malah ia menyukainya. Untuk yang kesekian kalinya keduanya berbagi keringat hingga satu jam kemudian baru selesai.


Kini gantian Zee yang terlelap setelah mereka mandi tadi. Zidan terkekeh melihat Zee mendengkur saat tidur.


Ia turun ke bawah untuk mengambil makanan. Karena sedari pagi Zee belumlah makan sama sekali.


"Sudah bangun? Zee mana? Nggak bangun juga?"


Zidan terkekeh mengingat tingkah Zee yang menurutnya sedikit berbeda. "Udah bangun Ummi. Katanya masih ngantuk. Jadi ya..tidur lagi deh." Jawab Zidan yang diangguki oleh Ummi Ira.


"Sudah sebulan ini Zee seperti itu. Tiap kali selesai sholat subuh, ia pasti tidur lagi. Katanya, matanya itu lengket bagaikan lem. Ada-ada saja ulahnya. Yang kayak orang hamil aja."


Deg!

__ADS_1


Deg!


Zidan terkejut mendengar ucapan Ummi Ira.


"Ummi dulu kalau hamil begitu bang. Kalau setiap subuh itu, pastilah ngantuk banget. Nggak tahu kenapa yang kayak ada lem gitu. Belum lagi, maaf nih Bang Ummi ngomong jujur. Biasanya kalau pagi-pagi begini hormon orang hamil itu sedang naik-naiknya. Ia pasti menginginkan itu. Apakah Zee juga begitu bang?" tanya Ummi Ira sambil berbalik dan melihat menantunya itu kini sedang mematung dengan tatapan kosongnya.


"Yahh.. Ummi Ngomong sedari tadi malah kamu cuekin sih bang? Kamu lagi mikirin apa? Jangan bilang Zee sama yang seperti Ummi sebutkan baru saja?"


Deg!


Kini Zidan menoleh pada UMmi Ira. "Bagaimana mungkin Ummi? Secara kan Abang udah di vonis nggak bisa memiliki keturunan? Mana mungkin Zee hamil?"


Ummi Ira tersenyum, ia mendekati menantunya itu dan menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan.


"Mustahil bagi kita manusia tetapi bisa bagi Allah. Jika Allah sudah berkehendak, kamu bisa apa selain hanya bersyukur?"


Nyyuuutt..


Jantung Zidan seketika berdenyut sakit. "Abang tidak akan berharap lebih Ummi. Penyakit ini memang sudah lama. Jika memang iya, berarti ini keajaiban untukku. Tetapi jika tidak, Abang tidak akan kecewa."


"Oke jika kamu tidak percaya. Sekarang ummi tanya. Apakah Zee mengalami hal yang sama seperti yang ummi katakan tadi??"

__ADS_1


Lagi, Zidan terpaku di tempat.


Apakah Zee beneran hamil??


__ADS_2