Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Tidak berubah


__ADS_3

"Kau..!" serunya geram pada kedua adiknya itu.


Zafran tersenyum sinis. "Ya, kakakku tersayang, ini aku!" jawabnya mendekati bangkar Zianti yang kini menatap tajam padanya.


"Kenapa? Kakak tidak suka? Jika iya, aku tidak peduli! Bagiku, bisa melihatmu terbaring di sini, sudah membuatku bahagia karena Allah membalasnya kontan untukmu!" lanjutnya yang semakin membuat Zianti meradang.


"Diam kau! Akkhhtt," serunya kesakitan.


Zafran terkekeh. "Jangan banyak bergerak kakakku sayang! Perutmu itu belum sembuh. Masih terluka akibat ulahmu hingga membuat bayimu lenyap seketika!" ucapnya lagi. Sengaja memancing amarah Zianti.


"Diam kau setan!" serunya tak lama ia kembali mendesis lirih. Perutnya terasa begitu sakit karena ia berusah bergeser untuk memukul adiknya itu.


Zafran lagi dan lagi terkekeh. Suara kekehan yang sarat akan ejekan untuk kakak keduanya itu.


"Jika dulu kau menyuruhku diam, aku akan diam. Aku akan diam sesuai permintaanmu yang terus menerus menekan kakakku! Aku diam karena aku tidak ingin memperburuk keadaan. Kau begitu jahat, Kak. Kau begitu tega padanya. Kau tega menghancurkan hidupnya sampai ia hidup segan mati pun tak mau! Sungguh busuk hatimu Kak Zianti! Aku tidak menyangka, jika di dalam keluargaku, ada satu setan yang berwujud manusia yaitu kamu!"


Zianti meradang. Wajahnya memerah menahan amarah. Zafran tersenyum sinis.


"Kau tega membuat kakak kita diabaikan oleh kedua orangtua kita karena mulut berbisamu itu! Sungguh kejam kau sebagai saudara. Entah bibit dari mana hingga kau terlahir di dalam keluarga kami! Hatimu begitu busuk! Hingga aroma busuknya pun tercium hingga ke mana-mana! Abi seorang ustad dan pengusaha, ummi seorang dokter kandungan. Seharusnya, ia memiliki anak seperti kami saja. Kenapa beliau harus mendapatkan anak manusia berwujud iblis sepertimu, hem?" ucapnya lagi yang semakin membuat Zianti meradang.


Kedua tangannya terkepal kuat. Ingin bergerak, tak bisa sebab perutnya sakit. Ia ingin menghajar adiknya itu seperti ia menghajar Zalimar tadi malam.


Zafran kembali terkekeh. Suara kekehan yang lagi dan lagi mengusik gendang telinganya. Zianti semakin terbakar amarah.


"Dengar! Kau jangan macam-macam denganku! Jika aku bisa menyingkirkan Zalimar, maka aku juga bisa menyingkirkanmu. Aku bisa membuatmu terbuang dari keluarga ini hingga kau akan mengemis padaku untuk kembali ke sini!" ucapnya mengancam Zafran yang kini masih saja terkekeh.


"Kau ingin melakukan itu? Maka lakukanlah! Aku siap menunggunya!" balas Zafran menantang Zianti yang semakin meradang.


Emosinya sungguh tidak tertahankan. Ia ingin menghajar adiknya itu. Ia melepas paksa jarum infus dari tanganya hingga darah segar mengucur di sela jarinya.

__ADS_1


"Sialan! Dasar anak haram!" teriaknya membahana.


Zahara mundur ke belakang dua langkah. Ia takut melihat amarah kakaknya yang luar biasa menyeramkan. Kamera ponsel yang menyala itu masih menyorot padanya.


Zafran tetap berdiri dengan tenang. Ia, bahkan mengejek saudarinya itu. Zianti yang tidak terima segera melayangkan tangannya ke pipi Zafran. Aka tetapi, bukan Zafran yang terjatuh. Melainkan tubuhnya sendiri.


Suara gamparan yang begitu kuat terdengar nyaring di dalam ruangan itu. Zianti terkejut ketika mersakan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


Ia menoleh pada Zahara yang kini menatap nyalang padanya. Zafran mencibirnya dengan suara kekehan sinis. Kedua tangannya terlipat di dada.


"Kau...!" seruya pada adiknmya itu.


"Ya! Ini aku! Kenapa? Kau tidak suka Zianti?!"


Deg!


Deg!


Zianti terkekeh sinis. "Sudah berani melawanku, heh?" ucapnya sinis.


Zahara berjongkok dihadapannya. Lagi, suara gamparan nyaring itu terdengar di seluruh ruangan. Kali ini, Zinati jatuh terkapar ke lantai akibat tampan adiknya yang luar biasa itu.


Zianti masih bisa terkekeh. Akan tetapi, buliran bening mengalir di sudut pipinya. Zahara menatap dingin padanya.


"Tidak cukup dua gamparan? Apa perlu aku menggamparmu lagi, Kakak?" ucapnya pada Zianti yang kini menangis dan terisak.


Zahara mengehla napas panjang. "Aku pikir, Kakak sudah berubah, tapi ternyata? Kamu tidak pernah berubah Kak. Tidak cukupkah Kak Zalimar saja yang kamu sakiti? Kenapa kami juga? Apa salah kami padamu? Kenapa mulutmu sungguh berbisa untuk mengatakan jika kami ini anak haram?!"


Deg!

__ADS_1


Deg!


Bergetar tubuh Ummi Zee. Abi Zidan jatuh bersender di pintu ruangan itu. Dua orang berbeda usia memeluknya segera.


Zianti terkekeh, tapi menangis. "Tidak! Aku tidak akan pernah berhenti sebelum kalian bertiga mati!"


Ddduuaar!


"Aku ingin hidup seorang diri dan menjadi anak satu-satunya di dalam keluargaku! Aku ingin tidak ada seorang pun yang menjadi kebanggan mereka selain aku! Tidak ada Zalimar dan kalian berdua! Aku ingin sendiri! Kalian anak haram, tidak pantas untuk berada di dalam keluargaku!"


Dduuaarr!


Plak!


Plak!


Lagi, pipi itu terhuyung. Wajah memerahnya begitu terlihat sekarang. Zahara melihat tangannya yang sudah menampar kakaknya baru saja.


"Jika gamparan ini tidak bisa menyadarkanmu, lalu apa yang bisa membuatmu sadar Kakak? Katakan!" ucapnya dengan tatapan nelangsa pada kakak keduanya itu.


Zianti terkekeh sembari menangis. Sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat ini.


"Kamu mau tahu apa mauku? Kamu ingin aku berubah?" ucapnya yang diangguki lemah oleh Zahara.


"Akan aku lakukan selagi itu membuatmu bahagia," jawabnya tulus.


Zianti terpaku di tempat meihat binar ketulusan di mata kedua adiknya ini.


"Aku ingin, kalian pergi dari rumah itu. Aku ingin bahwa hanya aku satu-satunya anak dari abi dan ummi. Tidak ada Zalimar, kau dan juga Zafran! aku ingin kalian semua lenyap dari muka bumi ini!" Zianti berteriak kuat dihadapan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2