
Damar duduk menyender di belakang pintu. Sakit sekali hatinya melihat keakraban Zalimar dan Revan. Damar menekan rasa sakit di hatinya. Ia tetap bersembunyi di sana.
Revan tersenyum tipis melihat jika ada Damar di balik pintu terbuka itu. Ia tahu, jika ada Damar di sana. Tadi, saat mereka baru luar, tak sengaja Revan melihat Damar di depan pintu menatap terkejut pada mereka.
Tanpa aba-aba atau mengatakan pada Zalimar, ia segera memaguut putik ranum istrinya untuk pertama kalinya. Bukan hanya sekali, tetapi berulang kali ia lakukan dihadapan Damar. Untuk apa? Gunanya membuat pemuda itu sadar. Jika Zalimar sekarang istrinya, bukanlah cinta pemuda itu lagi.
Revan tersenyum tipis melihat Damar melorot ke bawah dengan wajah basah air mata. Ya, Damar menangis dalam diam saat ini. Revan tahu itu. Namun, ia berpura-pura tidak tahu akan keberadaan mantan jodoh istrinya itu.
"Sayang,"
"Heum?" balas Zalimar dengan mata terpejam.
Kepala menyender di dada Revan dengan pemuda itu memeluknya dari belakang. Pandangan mata mereka menatap lurus ke depan sana.
"Seandainya pemuda yang dulu kamu cintai menginginkan kamu lagi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Revan dengan mata terpejam mengikuti apa yang Zalimar lakukan saat ini.
Wanita cantik tak berniqob itu tersenyum menanggapi ucapan Revan. Ia semakin mengeratkan pelukan itu di tubuhnya. Revan tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa Abang bertanya begitu? Apakah pengakuan cintaku untukmu masih kurang? Haruskah aku mati dulu baru kamu bisa percaya?" jawab Zalimar yang membuat Revan menunduk melihat padanya dengan Zalimar juga menatap padanya saat ini.
Revan tersenyum. Ia mengecup kening itu sangat dalam. Ia kembali mengeratkan pelukannya di tubuh Zalimar.
"Enggak. Bukan itu maksud abang. Maksud 1, apa yang akan kamu lakukan jika mantan kekasihmu yang kini menjadi iparmu meminta kembali padamu? Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan mewujudkan keinginannya itu walau ia memintamu untuk kembali padanya untuk yang terakhir kalinya?" tanya Revan sedikit melirik Damar yang kini berdiri merapatkan tuibuhnya ke tepi balkon tempat ia berdiri saat ini.
Damar sedang menguping saat dengan posisi tubuh membelakangi keduanya, tetapi Revan tahu itu. Ia sengaja membelakangi Damar agar Zalimar tidak melihat pemuda yang pernah menjadi cinta istrinya itu.
Tidak dipungkiri, Revan cemburu melihat pemuda itu masih berusaha untuk mendekati Zalimar walau ia sudah berusaha membujuk pemuda itu melupakan istrinya. Revan tahu, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghapus rasa yang sudah menahun di dalam hati. Revan tahu itu. Ia pun demikian. Bukan tidak pernah ia mencoba melupakan Zalimar, ia sudah pernah mencoba.
Namun, semua itu hanya sia-sia saja. Sekuat apapun ia mencoba melupakan, maka semakin kuat rasa rindu dan cinta untuk Zalimar. Berulangkali mencoba dengan wanita lain karena ia tahu jika Zalimar tidak mencintainya, ia mencoba untuk melupakan wanita itu dan mencari penggantinya. Sayang, semua itu tak bisa.
Ia yakin, jika Zalimar untuknya. Bukan untuk Damar atau lelaki manapun. Ikatan takdir keduanya begitu kuat. Sedari kecil, Revan begitu terikat dengan Zalimar. Gadis kecil yang sudah berhasil mencuri hatinya sejak ia berumur dua belas tahun.
Ia tahu jika Zalimar sepupunya. Papanya dan abi Zidan bersaudara, bahkan abi Zidan merupakan uwaknya. Namun, ia tidak peduli akan hal itu. Ia yakin, jika Zalimar merupakan jodohnya.
Mama Bella pernah mengatakan, jika kita berjodoh dengan orang itu, maka kita akan mirip dengannya jika orang lain yang melihatnya. Dan, ya, semua itu terbukti. Bukan hanya satu, tapi sudha banyak yang mengatakan ketika mereka masih kecil jika Zalimar dan dirinya itu begitu mirip.
__ADS_1
Mereka pernah menebak jika keduanya merupakan abang adik yang sebenarnya hanya sepupu. Dari itulah Revan percaya akan semua itu. Hingga semua itu terbukti saat ini kalau keduanya sudah menikah secara sah. Walau Zalimar tidak mengetahuinya, tetap saja pernikahan itu sah di mata agama dan hukum. Revan, bahkan sudah mendaftarkan pernikahan mereka di hari ia mengucap ijab dengan uwaknya. Abi Zidan.
Kembali pada Zalimar dan Revan.
Zalimar mengurai pelukan itu dan menatap Revan dengan tersenyum. Satu tangan itu terangkat untuk mengelus rahang tegas milik Revan yang halus tanpa bulu.
Zalimar menyukai itu. Revan memejamkan matanya dengan tangan merangkul erat pinggang ramping Zalimar.
"Dengarkan aku, Suamiku."
Deg!
Deg!
Berdenyut ngilu hati Damar ketika Zalimar mengatakan sumiku pada Revan. Itu artinya, Damar sudha tidak ada lagi di dalam hati wanita itu. Damar tergugu pilu. Ia menekan rasa sesak di dadanya dan masih ingin mendengar apa yang akan Zalimar katakan selanjutnya agar ia bisa mengambil sikap setelah ini.
"Aku sudah menikah denganmu. Dan itu artinya, aku adalah istrimu. Aku adalah istrimu, sah secara hukum dan agama. Kita hanya butuh walimah saja untuk mengumumkan pernikahan kita pada dunia. Jika pun kita menikah ulang, pernikahan itu tetap sah." Ucap Zalimar yang diangguki oleh Revan dengan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Abang tidak usah takut jika aku kembali pada Damar. Damar sekarang iparku, bukan lagi cintaku. Cintaku untuknya sudah terhapus dan tergantikan olehmu. Allah sudah menghapusnya dari hatiku dan menggantikan pemuda sholeh seperti kamu. Kamu ingat nggak apa yang pernah aku katakan dulu ketika kamu akan pergi mondok dan meninggalkan aku?" tanya Zalimar yang diangguki oleh Revan dengan tertawa.