
Keduanya larut dalam obrolan sambil makan malam bersama. Sesekali Zalimar juga menyuapi Revan yang sibuk menyuil daging lobster dengan garpu.
Keduanya tertawa bersama ketika daging lobster itu terjatuh ketika akan masuk ke mulut. Suara gelak tawa renyah keduanya terdengar hingga ke telinga dua paruh baya yang berdiri saling merangkul.
"Daddy senang melihat Revan bisa menikahi cintanya. Sungguh sulit mencari pasangan setia sepertinya. Pergi bertahun-tahun dan ketika kembali, malah wanita yang dicintainya ia datangi terlebih dulu. Jika itu daddy, pastilah tak akan setia sepertinya," ucapnya lirih yang membuat mom Stefany mengelus dadanya.
"Kamu setia, Dad. Saat itu kamu hanya terpengaruh. Memang berat godaan bagi para lelaki yang memiliki kekuasaan sepertimu. Tak apa. Aku ikhlas. Semua itu sudah berlalu. Lihatlah putra kita. Putra yang kamu selamatkan ketika keterpurukannya melihat cintanya terluka. Saat ini, cintanya itu sudah bersamanya. Terima kasih, karena mau mengangkatnya menjadi anak," balasnya yang diangguki oleh Dad Kendrick.
"Sama-sama, Sayang. Apapun untukmu. Terima kasih juga karena kamu masih setia bersamaku walau aku pernah menyakitimu," Dad Kendrick mengecup dahi istrinya.
Mom Stefany memeluknya erat. "Ayo, kita masuk. Angin malam tak baik untuk kesehatanmu. Jangan sampai cucu kita lahir, kamunya malah sakit-sakitan!"
Dad Kendrick tertawa. Keduanya segera masuk ke resort yang Revan sewa untuk ke empatnya menginap. Revan tersenyum melihat dari kejuhan kedua orangtua angkatnya itu.
"Yuk, udah malam. Masih panjang waktu untuk kita habiskan bersama," Revan mengedipkan mata nakal pada Zalimar.
Gadis cantik tertutup niqob merah muda itu tertawa. Ia mengangguk dan menyambut tangan Revan yang terulur padanya. Keduanya kembali masuk ke resort setelah puas makan lobster kesukaan Zalimar.
__ADS_1
Keduanya berjalan sambil merangkul. Sesekali terdengar suara tawa renyah Revan. Zalimar pun demikian. Keduanya menuju ke kamar mereka yang sudah selesai dirias.
Revan membuka pintu kamar mereka yang membuat Zalimar melongo melihatnya. Revan menarik lembut tangan istrinya untyk masuk. Terdengar suara pintu di kunci dari luar. Zalimar mengerjab.
"kenapa kamarnya penuh bunga begini? Mana pakai lilin lagi? Baunya, kok, aneh?" Ucap Zalimar sedikit merasa lain pada suasana kamarnya itu.
Revan tersenyum. Ia menelusupkan kedua tangannya memeluk perut Zalimar. Pipi keduanya saling berdempetan. Zalimar memejamkan kedua matanya ketika harum napas Revan tercium olehnya.
"Kamu suka?" tanyanya yang diangguki oleh Zalimar.
Revan menuntun Zalimar menuju ke kamar mandi. Zalimar tertawa. Ia pikir, langsung pada intinya. Tak tahunya, Revan malah membawanya ke kamar mandi untuk berwudhu dan sholat isya lebih dulu.
Gadis kecil itu sengaja memberikannya baju saringan santan untuk ia kenakan ketika malam pertama. Katanya, Revan akan suka dengan itu. Zalimar yang bodoh akan hal itu, saat ini sedang mengikuti saran sepupu kecilnya itu.
Entah dari mana ia mendapatkan ide itu, Zalimar pun tidak tahu. Ia sengaja menutupi tubuhnya dengn mukenah yang ia kenakan. Revan tersenyum melihatnya. Keduanya langsung saja melakukan sholat berjamaah di sambung dengan sholat sunnah sebelum melakukan ritual untuk pertama kalinya.
Cukup tiga puluh menit saja, keduanya sudah selesai. Revan menunggu Zalimar yang sedang membuka mukenahnya di dalam kamar mandi. Revan tidak melarangnya, sebab tadi ia sudah mengatakan buka di kamar saja. Akan tetapi, istrinya itu menolaknya.
__ADS_1
Revan sibuk dengan ponselnya ketika pintu kamar mandi terbuka. Zalimar menunduk malu dengan pipi merona. Bajunya terlalu tipis dan sangat menerawang. Semua lekukan tubuhnya terlihat jelas sekarang.
Kulitnya yang putih mulus seputih susu sangat cocok menggunakan lingeri berwarna merah menyala pemberian adik sepupunya, Aryanti.
Ia berjalan perlahan mendekati Revan yang belum juga melihat padanya. Zalimar menarik bajunya sedikit ke bawah. Sebab panjangnya hanya sebatas lututnya saja. Zalimar berdiri dihadapan Revan berjarak satu meter.
Harus semerbak parfum memabukkan milik Zalimar memecah konsentrasi Revan yang sedang berbalas pesan dengan seseorang. Ia mendongak. Mata beriris tajam itu terpaku pada sosok bidadari cantik yang saat ini begitu seksi terlihat di matanya.
Mulutnya sedikit menganga. Ia terpana melihat kemolekan tubuh istrinya. Selama ini, Zalimar tidak pernah menunjukkan lekuk tubuhnya pada Revan. Istrinya itu berpakaian sopan dihadapannya. Walau pernah melihat Zalimar menggunakna baju daster dengan tali spageti, tetap saja. Kali ini berbeda.
Zalimar semakin menundukkan wajahnya membuat rambut hitam lebat sepanjang pingggang yang tergerai ke sisi bahu kanannya itu menutupi separuh wajah cantiknya.
Ia mendongak melihat Revan.
Deg, deg, deg..
Pipi Zalimar bersemu merah ketika melihat sesuatu yang menonjol di balik kain sarung yang saat ini Revan kenakan. Pipinya semakin memerah ketika memikirkan adegan oh no, oh yes yang sebentar lagi akan keduanya ciptakan.
__ADS_1
...****************...
🤣🤣🤣🙏🙏