Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Beruntung


__ADS_3

Zee terus saja menyuapi Zidan dengan tangan nya. Zidan sangat bahagia saat mengetahui jika Zee menerima kekurangan nya.


Padahal ia sempat berpikit jika Zee pasti akan menolak nya karena kekurangan nya itu. Tetapi tidak. Zee bahkan menerimanya dengan tangan terbuka


Keduanya terus makan dengan Zee yang menyuapi Zidan dengan tangannya sendiri.


Jika perempuan lain, pastilah sudah jijik melihatnya atapun susah makan dengan tangan. Tetapi tidak dengan Zee.


Ia bahkan sengaja menyuapi Zidan dengan tangan nya langsung yang membuat Zidan merasa sangat beruntung bisa menikahi wanita seperti Zee.


Zee seorang wanita dengan pakaiannya yang sederhana. Tidak menggenakan pernak pernik berlebihan.


Hanya ada satu yang sering Zee kenakan. Kancing hijab berwarna kuning ke emasan yang berbentuk bunga mawar.


Zidan tersenyum melihat itu. Bahkan ia terkekeh. Tangannya terulur untuk menyentuh kancing bunga mawar yang terletak di sudut kiri bahu Zee.


Zee terkejut saat Zidan melepas kancing hijab itu. "Buat apa Bang? Jangan bilang kalau Abang menyukai kancing hijab pemberian Oma itu?" tuduh Zee yang disambut kekehan kecil di bibir Zidan.


Zee bingung saat Zidan mencari dompetnya yang berada di laci nakas. Zee ingin membantu tetapi Zidan melarang.

__ADS_1


"Kamu duduk saja. Abang bisa sendiri. Hanya begini saja masa kamu juga yang mengambilnya?" seloroh Zidan yang ditanggapi dengan senyuman oleh Zee.


Zidan membuka dompetnya dan mengeluarkan pasangan dari kancing hijab itu yang membuat Zee tertegun.


Ia melihat Zidan yang kini sedang tersenyum lembut padanya.


"Ini milik Abang. Dan ini juga." tunjuknya pada kancing hijab yang saat ini milik Zee.


Zee terkejut. "Bagaimana bisa?! Bukannya itu milik Oma Alisa? Oma sengaja memberikan kancing hijab itu. Katanya dari seseorang. Harus dijaga baik-baik. Karena suatu saat nanti sang pemilik akan mengambilnya-," mulut Zee menganga saat melihat sebuah percakapan di ponsel Zidan dan Oma Alisa lima tahun yang lalu.


Zidan terkekeh melihat wajah terkejut Zee. "Sini duduk. Akan Abang jelaskan padamu kenapa bisa ada sama kamu sedang kancing yang kecil ada sama Abang." Zidan menepuk sisi ranjangnya agar ikut duduk dan berbaring di sampingnya.


Ia mendekati bangkat yang lumayan muat untuk dua orang itu. Ia merebahkan dirinya di sisi Zidan sambil menatap wajah teduh Zidan yang membuatnya semakin mencintai suaminya itu.


"Kancing hijab ini milik Abang sekitar lima tahun yang lalu." Zidan menerawang jauh tentang kejadian yang tidak terduga pada Oma Alisa waktu itu.


"Entah dapat dorongan dari mana saat melewati sebuah pusat perbelanjaan Abang melihat kancing hijab ini. Kancing hijab yang pertama kali melihatnya Abang langsung saja menyukainya. Karena Abang suka, Abang membelinya. Dan hal yang tidak di duga pun terjadi."


Zee masih mendengarkan.

__ADS_1


"Seminggu setelah kancing hijab ini Abang beli, Abang bertemu Oma Alisa yang saat itu sedang mengikuti kajian Abang di komplek perumahan Opa Gilang. Karena Abang sengaja membuat kajian hanya di mesjid di komplek perumahan itu. Oma Alisa berjalan dengan terburu saat melihat seorang anak kecil berjalan menaiki tangga dengan tubuh sempoyongan."


"Ia yang merasa terdorong ingin menyelamatkan anak kecil berusia lima tahun itu tergerak berlari untuk menolongnya. Tetapi hal yang tidak di duga ialah Oma Alisa tersandung kakinya sendiri karena baju gamisnya yang lumayan panjang. Beliau terjatuh setelah memeluk anak kecil itu. Oma jatuh berguling ke bawah tangga hingga kaki dan tangannya terkilir. Dan hal yang tidak di duga ialah, hijab Oma kuyak di bagian dada sebelah kiri tepat pada posisi jantung."


"Abang yang waktu itu disana segera menolongnya dan membantu Oma untuk memijat sebentar tangan dan kaki yang terkilir itu. Beliau sempat mengomel karena bajunya kepanjangan." Zidan tertawa dan Zee pun ikut tertawa.


Mereka sangat tahu seperti apa Oam Alisa jika sednag mengomel.


"Karena hijab Oma waktu itu kuyak di bagian dada, Abang berinisiatif memberikan kancing hijab itu pada Oma. Dan abang sendiri yang memasangkannya."


"Hem.. Pantas aja Oma bilang kancing baju ini sangat berharga. Sebenarnya Oma berat ingin memberikan padaku waktu itu. Oma bilang, kancing baju ini akan kembali pada pemiliknya suatu saat nanti." Timpal Zee yang diangguki oleh Zidan.


"Ya, benar sekali. Karena itulah pesan Abang sama Oma. Karena kancing baju ini akan kembali pada Abang lagi. Dan tepat seperti yang Abang katakan dulunya. Kancing ini kembali lagi sama Abang lengkap dengan seseorang yang dikirimkan untuk abang menjadi istri dunia dan akhirat. Abang sangat beruntung bisa menikahi mu sayangku.. Sangat beruntung." lirihnya yang diangguki oleh Zee.


"Aku pun demikian. Aku sangat beruntung mendapatkan suami seperti mu. Terimakasih karena tidak menolak ku.."


"Sama-sama sayang. Mari kita membina rumah tangga kita ini ke arah yang Allah tunjukkan jalan Nya."


"Bersama untuk selamanya sampai maut memisahkan kita. Sampai tiba di Surga Nya Allah SWT." Imbuh keduanya dengan senyum amnis tersungging di bibir keduanya.

__ADS_1


__ADS_2