
Setelah mengatakan hal itu, perlahan tapi pasti mata Zalimar semakin layuh dan layuh hingga dirinya jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan Revan yang begitu panik melihat keadaan istrinya.
Abi Zidan menghentikan langkahnya dan ingin berbalik melihat Zalimar, tetapi ummi Zee melarangnya.
"Zianti dulu," tegasnya yang terpaksa beliau angguki.
Revan tersenyum miris melihat itu. "Walau kamu sudah mengatakan semuanya, keluarga kita tetap tidak ingin melihatmu, Sayang. Baik, mulai hari ini, kalian tidak akan pernah melihat Zalimar lagi, bahkan mendengar kabarnya. Malam ini juga, kami akan kembali ke Singapura! James!" teriaknya kuat.
"Saya, Tuan!" jawabnya sembari membungkuk sedikit menghormati Revan.
"Pesan tiket ke Singapura malam ini. Cari dokter dan perawat yang mau berangkat bersama kita malam ini ke Singapura untuk mengobati Zalimar. Tak ada gunanya saya lebih lama di sini. Lebih baik membawa Zalimar pergi dari mereka semua," rahangnya mengatup rapat ketika melihat semua keluarga tidak ada yang peduli padanya selain hanya Zafran dan juga kedua orang tua Revan.
Papa Kenan menepuk lembut pundaknya. "Sabar, mereka butuh waktu. Apalagi uwak kamu. Ia pasti shock akan kejadian yang baru saja ia lihat. Pergilah, papa merestui kalian berdua. Kabari kami jika Zalimar sudah baikan, hem?"
Revan mengangguk lirih sembari melewati Zafran yang menatapnya dengan sendu. Revan menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
"Urus semua keluarga kita, Dek. Abang hanya percaya padamu. Kabarkan berita apa saja yang terjadi selama kami pergi. Tolong, kirimkan segera semua berkas surat kepindahan kakakmu ke Singapura. Akan ada orang abang yang akan mengambilnya nanti. Jaga dirimu," ucapnya lirih yang membuat Zafran segera berlari memeluk mereka berdua.
__ADS_1
Ia tersedu. Berulang kali mengecup kening Zalimar yang lebam dan membiru. Revan pun ikut menitikkan air matanya. Hanya ia yang tahu, betapa sakitnya Zalimar ketika diabaikan oleh semua keluarga.
Revan sering menangis di setiap sujudnya ketika mengingat keadaan cintanya ketika ia di Amerika dulu. Zalimar berpura-pura kuat agar semua keluarga tidak amrah padanya.
Ya, sejak kejadian nahas itu, semua keluarga membenci Zalimar dan menyalahkan Zalimar akan semua hal yang terjadi. Zalimar tidak bisa berbuat apapun selain hanya bisa pasrah dan diam ketika ia dihina, direndahkan, dan dicemooh oleh semua keluarga Damar. Yang lebih menyakitkan lagi, kedua orang tuanya pun ikut serta menghujatnya.
Zalimar ikhlas. Biarlah. Itu lebih baik daripada mereka berpura-pura baik di depannya. Zafran melepas kepergian kakaknya dengan hati pilu. Ia mengepalkan kedua tangannya ketika melihat sorot mata ummi Zee yang kecewa karena janin itu luruh dari rahim Zianti, cucunya.
Zafran tersenyum miris. Sekali lagi, Zalimar tetap dipandang buruk oleh mereka. Hanya Zianti yang selalu baik dihadapannya. Kali ini, Zafran tidak akan tinggal diam lagi jika ada orang yang akan menghina kakaknya lagi untuk yang ke sekian kalinya.
Bukan berarti yang lain tidak menyayanginya, mereka tetap sayang pada Zafran. Hanya saja, ada sesuatu yang terjadi pada adik bungsu Zalimar itu hingga ia begitu renggang dengan mereka semua. Kecuali Zalimar dan Zahara. Saudara kembarnya.
Pesawat menuju ke Singapura lepas landas pukul tiga waktu Bali. Zafran menghela napas berat. Ia berbalik dan terkejut mendapati kedua orang tuanya kini menatap datar padanya.
Zafran juga menatap dingin kedua orang tuanya. Tanpa berkata apapun, ia segera meninggalkan kedua paruh baya yang masih mematung itu. Zafran menunju ke mobil salah satu anggota Revan. Ia di antarkan sampai ke resort. Ia akan menginap di sana demi menenangkan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Zafran tiba di resort itu hampir subuh. Ia masuk kesana di ikuti dua paruh baya mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Zaf!"
Zafran berhenti di undakan tangga. Ia berbalik dan melihat kedua orang tuanya mengikuti dirinya sampai ke resort milik Revan .
"Apa.. Kakakmu tidak akan pernah kembali lagi?" tanya abi Zidan dengan leher tercekat ketika melihat putra bungsunya itu terkekeh hambar menanggapi ucapannya.
"Kenapa? Bukannya ini yang kalian mau?" balasnya sinis.
Abi Zidan menggeleng. "Nggak gitu, Nak!"
"Kenyataannya seperti itu, Abi!" balas Zafran cepat. "Apa lagi yang kalian mau dari kami? Bukannya kalian puas jika kami tidak lagi di dalam rumah kalian? Kakak dan aku, kita berdua sama di mata kalian, bukan? Kami hanya parasit, pengganggu di dalam keluarga kalian! Kami ini bukan darah daging kalian berdua! Sekiranya, kami ini anak kalian, pastilah kalian tidak akan berbuat dholim pada kami! Na'uzubillah!" ujarnya sembari berlalu meninggalkan abi Zidan yang jatuh terduduk di sofa ruang tamu yang ada di ruangan itu.
Abi Zidan mengusap wajahnya. Sakit sekali hatinya mendapati jika Zianti berlaku demikian pada Zalimar dan Zafran. Belum lagi, Zianti begitu terobsesi untuk mendapatkan Revan walau sudah memiliki Damar, calon suami kakakmnya.
"Ya, Allah.. Apa dosaku? Kenapa jadi seperti ini keluargaku? Apakah aku terlalu keras pada mereka? Apakah aku terlalu buruk untuk menjadi orang tua?" lirihnya terisak.
Ummi Zee masih mematung di sampingnya menatap Zafran yang kini juga menatap padanya. Pancaran luka begitu terlihat di mata putra bungsunya itu.
__ADS_1