
"Terserah apa kata kamu lah Bang! Yang jelas selagi Papa belum mendengar kabar langsung dari kedua adik kamu, maka mereka tetaplah bersandiwara. Hah. Sebaiknya kamu segera bertemu dengan Zee. Bukankah hari ini kamu ada perlu dengannya?" tanya papa Reza pada Zidan
Pemuda tampan berkumis tipis itu mengangguk dan tersenyum teduh. "Iya Pa, Ada masalah kantor yang harus dibicarakan dengan Zee. Ya sudah, Abang pergi dulu. Assalamu'alaikum.." ucapnya sembari menyalimi papa Reza dengan takzim.
"Waalaikum salam, hati-hati!"
"Ya," sahut Zidan yang kini sudah menghilang dibalik pilar yang menghubungkan ruang tamu rumah nya.
Sedangkan dirumah sakit Ira Sarasavati milik Ummi Ira, Zee masih sibuk dengan memeriksa pasiennya saat ponselnya bergetar.
Zee mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari Zidan. Zee tersenyum dibalik niqobnya.
Ia mengangkat panggilan itu menggunakan earphone yang terpasang dibalik hijabnya. Ia sengaja selalu memakai earphone karena sering kali klien dan juga orang rumah menghubungi dirinya.
"Hallo, assalamu'alaikum Bang Zidan. Kenapa? Sudah sampaikah? Eh?" Ucap Zee sadar jika dirinya kelepasan berbicara hingga membuat Zidan melongo mendengar ucapan Zee.
__ADS_1
Lama keduanya terdiam, setelahnya Zidan terkekeh. Zee mendadak malu. Wajah itu merona seketika.
"Wa'alaikum salam Zee. Abang udah ada di depan. Tetapi masih di dalam mobil sih. Kamu masih ada pasien?" tanya Zidan pada Zee yang kini mengangguk sambil berbicara pada pasiennya.
"Masih Bang, satu lagi. Sebentar. Ini resepnya di tebus di apotik. Diminum tiga kali sehari. Semuanya sama."
"Baik dokter! Terimaksih, saya permisi."
"Sama-sama Bu, semoga cepat sembuh. Usahakan perbanyak minum air putih saat anda minum obatnya ya? Itu saja."
Dengan segera wanita itu keluar disusul Zee yang juga bergegas keluar di ikuti oleh asisten Zee. Yaitu Putri.
"Hallo. Abang masih disana? Aku sudah di jalan mau ke depan." imbuhnya sambil berjalan dengan menunduk.
Zidan yang sudah melihat kedatangan Zee, tersenyum. "Abang ada dihadapan mu, Zee. Mendongaklah!"
__ADS_1
Spontan saja kaki itu berhenti saat melihat sepatu pentofel hitam berkilat kini terlihat dihadapannya saat ini.
Jantung Zee berdebar cepat. Begitu pun dengan Zidan. Ia masih saja tersenyum tetapi saat pandangan matanya tertuju pada seseorang di belakang Zee yang saat ini menatapnya dengan sendu, spontan saja wajah itu dingin kembali.
Zee yang merasa heran kenapa suara Zidan tidak ada sedang sepatunya masih terlihat. Ia mendongkakkan wajahya dan melihat Zidan saat ini sedang menatap ke belakangnya dengan wajah dingin.
Zee menoleh ke belakang.
"Anda sudah datang Nyonya?" sapa Zee ramah pada wanita yang sedang hamil itu.
Disana juga ada suaminya yang berdiri sedang melihat Zidan saat ini dengan tatapan sendu nya.
Zee melihat ada ketegangan yang terjadi pada ketiga orang ini. "Maaf sebelumnya. Anda ingin saya periksa dulu atau bagaimana? Sebab, saya sedang ada pertemuan penting dengan Tuan Zidan dan tidak bisa di tunda." Ujar Zee yang membuat Zidan menatap padanya.
Wanita hamil itu tetap melihat pada Zee dan Zidan saat ini. Ia terpaksa menarik ujung bibirnya saat ini karena Zee dokter kandungannya sedang berbicara padanya saat ini.
__ADS_1
"Saya diperiksa saja dulu dokter. Cuma sebentar kok. Besok, saya sudah harus pindah tempat periksa.." lirihnya dengan dada yang begitu sesak saat melihat mata Zidan menatap pada Zee saat ini.