
Lama keduanya terdiam. Hingga di rasa cukup dan puas menumpahkan cairan bening keasinan itu, Zalimar mengurai pelukannya dari dekapan hangat wanita paruh baya rekan sang ibu.
Zalimar mengusap cairan bening itu dengan kasar. Ia menatap lekat pada Dokter Firda yang kini tersenyum teduh padanya.
"Yakinlah, Nak. Allah itu sudah memiliki keputusan sendiri. Jika ia memilihmu untuk menjadi istri Damar, maka kamulah jodoh yang sudah ditetapkan. Bukan adikmu atau wanita mana pun itu. Kamu hanya bisa bersabar akan semua ujian ini. Ibu tahu, kamu tak akan sanggup mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Akan tetapi, bagaimana kalau sebaliknya?" ucapnya bertanya dan menatap lekat pada Zalimar yang kini menatapnya juga.
"Bagaimana kalau Damar adalah takdirmu? Bagaimana kalau sebenarnya, adikmulah yang merebut jodohmu? Apa yang akan kamu lakukan? Mampukah kamu menolaknya? Sementara ikatan takdir kalian berdua sudah ada sejak kalian kecil dulu?"
Deg, deg, deg..
Jantung Zalimar berdetak tidak karuan memikirkan akan perkataan dokter Firda yang memang benar adanya.
"Apa yang akan kamu lakukan, Nak? Apakah kamu juga akan menolaknya? Walaupun itu keputusan yang Allah buat untuk kalian berdua?" Ujarnya lagi melanjutkan ucapannya sengaja untuk memancing isi hati Zalimar yang sebenarnya.
Tes.
Tes.
__ADS_1
Buliran bening kembali menetes di sudut pipi Zalimar. Ia mengusap cepat dan kasar air mata yang turun tanpa di komando itu.
"Sekiranya ada jalan dan cara, pastilah aku menolaknya, Bu. Aku tak ingin menyakiti hati adikku karena kelakuanku yang mencoba merebut calon suami adikku sendiri! Aku memilih mundur. Aku akan pergi kemana pun yang bisa aku tempuh agar aku tidak bertemu dengannya lagi!"
"Walau kamu harus membawa lara bersamamu?" potong Dokter Firda yang membuat Zalimar tersenyum kecut padanya.
"Aku sudah menyimpan lara ini kian tahun, Ibu. Hanya untuk membawanya sampai aku mendapatkan jodohku, tak masalah, bukan? Aku sudah menyimpan lara ini puluhan tahun demi adikku. Dan kali ini, aku akan melakukan hal yang sama lagi!" ucapnya tegas membalas ucapan Ibu Firda yang tersenyum sendu padanya.
"Lalu, bagaimana dengan kedua orangtuamu? Sanggupkah kamu mengabaikan permintaan keduanya? Kalau keduanya sadar cepat, apa yang akan kamu katakan pada mereka berdua, jika kamu mundur dari pernikahan yang sudah ditetapkan ini?"
Zalimar tertegun. Ia tercenung memikirkan kedua orangtuanya. Benar. Apa yang akan ia katakan ketika keduanya sadar, bahwa bukan dirinya yang akan menikah. Melainkan adiknya, Zianti. Mampukah Zalimar menghadapi kekecewaan kedua orangtuanya kelak?
Zalimar berlalu meninggalkan dokter Firda yang kini tersenyum teduh pada ponsel miliknya.
"Kamu sudah dengar, bukan? Kamu tahu apa yang seharusnya, kamu lakukan sedari dulu! Ibu percaya padamu!" katanya sembari menutup sambungan ponsel itu dan mengikuti langkah Zalimar yang kini sudah pergi menuju ke ruangan inap kedua orangtuanya.
Zalimar terkejut ketika melihat kedua orangtua Damar ada di sana. Zalimar berusaha tetap tenang. Walu matanya terlihat bengkak dan wajahnya begitu sembab, ia tetap menghampiri kedua orang itu dan menyaliminya dengan takzim.
__ADS_1
Ada Zianti di samping Bunda Putri yang kini sednag terlelalp karena kelelahan menagis.
"Nak,"
"Ayah lakukan apa yang seharusnya, ayah lakukan. Biarkan pernikahan itu terjadi, tetapi bukan aku yang akan menikah. Meliankan adikku, Zianti!" ucapnya memotong ucpan Ayah Jerry yang belum lagi terlontar keluar.
Kedua paruh baya itu saling pandang. Zianti segera membuka kedua matanya. Ia menatap lekat pada sang kakak yang kini juga sedang menatapnya.
"Kakak serius? Nggak apa-apa kalau aku yang menggantikan posisimu?" ucapnya bertanya pada Zalimar yang kini menatapnya datar.
"Ya, tanpa kamu mengatakan merebutnya pun, kamu sudah mengambil posisi itu dariku lima belas tahun yang lalu!" gumamnya dalam hati. "Ya, kakak tak apa. Lakukan sesuai permintaan kedua orangtua kita. Kakak ikhlas dan ridho!" jawabnya setengah hati.
Bunda Putri menatap lekat putri sulung sahabat sekaligus bosnya dulu.
"Kamu yakin, Nak?" Zalimar mengangguk. "Tak akan berubah pikiran walau nanti akan ada kejutan untukmu?" ucapnya ambigu yang membuat Zalimar terkekeh sinis.
"Tak ada kejutan untukku, Bunda. Kejutan untukku sudah lenyap lima belas tahun yang lalu karena kalian semua," lirih Zalimar begitu menusuk relung hati kedua paruh baya itu.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang sedang mengepalkan kedua tangannya di depan pintu yang tertutup sedikit itu. Bunda Putri meliriknya sekilas, pemuda itu berlalu dari sana.
Ummi Zee yang sudah di operasi sudah kembali normal. Beliau tidak lagi mengalami koma. Beliau akan sadar dalam beberapa jam. Berbeda dengan Abi Zidan hingga saat ini pun belum juga menunjukkan perkembangan yang baik dari tubuhnya.