Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Keduanya Kritis


__ADS_3

Semua orang heboh dan panik karena melihat abi Zidan tumbang. Matanya terpejam erat dengan mulut memanggil Zalimar dan Zianti berulangkali sebelum mata itu terpejam.


Zianti tertegun melihat itu.


"Bangun, Kak. Ayo! Perutmu kembali mengeluarkan darah," ucap Zahara di tuntun Zafran yang segera menuntun Zianti untuk naik ke bangkar lagi.


Zahara segera memanggil dokter untuk memeriksakan kakak keduanya itu. Dokter tidak percaya melihat kegaduhan itu. Keluarga dokter Zidan yang terlihat begitu harmonis nyatanya rusak di dalam. Harmonis di luar hanya citra mereka saja.


Dokter itu mengira jika keluarga abi Zidan pecah karena dirinya. Dokter itu sangat menyayangkan sikap ke empat anak dan juga ummi Zee selaku pemilik rumah sakit di Medan yang sudah terkenal karena penyembuhannya.


Ia mengobati Zianti kembali yang kini masih melamun dan menatap kosong pada dinding ruangan itu. Masih terdengar jelas olehnya apa yang abi Zidan ucapkan sebelum ia pingsan.


"Putriku, Zalimar, Zianti. Maafkan abi, nak. Abi salah. Maafkan abi, semua ini salah abi. Maafkan abi, jangan hukum kakakmu. Dia tidak bersalah. Jika kamu ingin menghukum, maka hukumlah abi. Abi yang bersalah, maka abi yang akan pergi. Maafkan kakakmu, Nak. Seperti keinginanmu, abi akan pergi. Semua masalah ini ada pada abi. Maafkan abi, abi dan ummi akan pergi untuk meninggalkan semuanya. Seperti keinginanmu, kami hanya memiliki satu anak saja. Zianti Rahayu Putri Zidan. Ketiga saudaramu akan abi coret dari data keluarga. Maafkan abi, Nak. Abi pergi," gerakan bibir yang begitu pelan itu terbaca oleh Zianti hingga ia terpaku menatap abinya yang mulai layuh dan layuh hingga jatuh tidak sadarkan diri.


Buliran bening itu jatuh tanpa dipinta. Zianti tertegun, tercenung dan tergugu melihat ketulusan dan rasa penyesalan di mata abinya itu. Bibirnya kelu hanya untuk berkata satu patah kata saja.


Ia terus menatap ke pintu ruangannya yang sudah tertutup di mana abi dan umminya tak ada lagi di sana.

__ADS_1


"Ummi, abi," ucapnya begitu lirih.


Di dalam kamar itu ia hanya bersama perawat saja. Kedua adiknya sudah tidak berada di sana. Mereka keluar setelah meletakkan Zianti di bangkar. Ia hanya seorang diri di sana. Hanya seorang diri.


Sementara itu di dalam ruangan lainnya, abi Zidan sedang di tangani oleh dokter. Kondisinya tiba-tiba kritis. Zahara dan Zafran berusaha menolong kedua kedua orangtuanya. Sekuat yang mereka bisa untuk membuat kedua orang tua itu sadar kembali.


Zafran panik. "Bagaimana ini, Kak? Abi kritis!" ucapnya semakin panik saja.


Zahara menghela napas panjang. "Tenangkan dirimu. Ambil wudhu dan berdoalah di sini. Cepat!" serunya gusar. Ia pun sama paniknya.


Zafran segera berlalu ke kamar mandi. Ia berwudhu untuk mengaji di samping kedua orangtuanya yang kini sedang kritis.


Zalimar menangis melihat keadaan kedua orangtuanya. Wajahnya yang masih bengkak dan lebab kebiruan, membuatnya semakin kusut.


"Abi! Bang, abi! Kita pulang! Kita pulang!" serunya sembari meronta-ronta di pelukan Revan.


"Iya, Sayang. Iya! Kita pulang, tapi, kamu harus sembuh dulu. Ingat apa kata dokter?" terdengar suara Revan di sana.

__ADS_1


Zahara segera mendekatkan ponsel itu di telinga abinya. Entah apa maksudnya, hanya ia yang tahu maksud dan tujuannya itu.


"Zalimar," suara lirih itu terdengar.


Zahara tersenyum senang. Dokter terkejut melihat itu.


"Nggak mau! Aku mau pulang! Abiku sakit abang!" teriak Zalimar begitu melengking.


Revan terkekeh. Bukannya menenangkan istrinya, ia malah terkekeh. Zalimar mengamuk memukuli dirinya. Ia kesal, bukannya menuruti, ia malah menertawakannya.


Abi Zidan terkekeh dengan mata terpejam. "Zalimar, putriku. Pulang, Nak!" ucapnya jelas membuat kedua orang yang sedang bertengkar itu terdiam seketika.


Keduanya saling pandang pada ponsel yang kini mom Stefany pegang. Ada Dad Kendrick yang juga sedang terkekeh melihat pasangan absurd itu.


"Zalimar, pulang, Nak. Jangan pergi," lagi, suara itu terdengar yang membuat Zalimar tertawa sambil menangis.


Begitu pun dengan Zahara. Zafran mematung di depan pintu kamar mandi ketika melihat abi Zidan sudah membuka kedua matanya bertepatan dengan ummi Zee pun membuka kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2