
Dua pasangan pasutri paruh baya yang masih terlihat cantik dan tampan itu mendaratkan kaki mereka di tanah kelahirannya. Keduanya berjalan sambil merangkul pinggang masing-masing membuat mata iri melihat kemesraan mereka.
Keduanya masuk ke mobil yang sudah menunggunya. Keduanya langsung menuju ke kediaman Opa Reza yang lebih dulu menghubunginya untuk mampir.
Pria tua berusia delapan puluh lebih itu meminta keduanya untuk ke rumahnya dulu. Beliau mengatakan ingin ikut menemui cucu nakalnya itu.
Papa Kenan terkekeh ketika supir mengatakan jika pria tua itu mengomel sepanjang hari karena Revan cucu kesayangannya itu tidak mampir dulu ke tempatnya, tetapi langsung pada uwaknya.
Mama Bella tertawa mengingat kekesalan pria tua itu. Dua jam perjalanan hingga keduanya tiba di rumah megah yang masih terlihat asri itu. Beliau tersenyum melihat rumah sebelah.
Rumah kenangan di mana almarhum Oma Alisa dan Opa Gilang yang sudah puluhan tahun berpulang masih bagus dan terawat. Di sana tinggal putra bungsu dari Opa Gilang dan Oma Alisa. Algiandra Bhaskara. Ia akan menyambangi rumah itu setelah bertemu papa mertuanya.
Keduanya melangkah masuk dan bertemu pria tua yang kini berwajah masam melihat keduanya. Papa Kenan dan mama Bella terkekeh. Mereka mengucapkan salam dan menyalimi takzim lelaki tua yang sedang badmood itu.
"Kalau nggak putra kalian kemari, mana mungkin kalian mau menginjakkan kaki lagi di rumah papa?" sindirnya sinis yang membuat keduanya kembali terkekeh.
"Papa beneran tua, ya, ternyata?" balas papa Kenan meledek papanya itu.
"Ck. Jangan memancing papa, kamu!" balasnya ketus.
Mama Bella tertawa. "Jangan marah, Pa. Kami baru dua minggu, loh, nggak kesini? Masa iya, di bilangin udah lama nggak datang, sih?"
Pria tua itu mendengkus tak suka. Ia bangkit dan menuju ke ruang makan. Keduanya mengikuti. Ada putri sulung almarhum Zahrani di sana. Zarra.
__ADS_1
"Loh, kamu sudah pulang kesini, Ra?" tanya papa Kenan pada keponakannya itu.
"Udah lama, Om. Udah sekitar dua tahun. Hanya saja, baru satu tahun ini menetap di Medan. Om 'kan tahu, bang Rudy sering bepergian dengan membawaku? Makanya aku jarang di rumah tiap kali Om dan Tante datang. Kebetulan hari ini, suamiku sedang berada di kantor Opa. Makanya aku di sini," jawabnya menyusun piring untuk acara makan siang mereka.
"Ho, begitu, toh. Om pikir, kamu lebih memilih tinggal di luar kota bersama suami kamu."
"Nggak, aku lebih suka tinggal di sini. Menemani Opa." Balas Zarra yang diangguki oleh papa Kenan.
Mereka berempat pun makan bersama. Zarra keluar ketika mengingat anaknya yang belum pulang dari rumah sebelah.
"Om dan Tante, makan sama Opa, ya? Aku mau nyusul si kembar dulu di rumah papi Algi! Ck. Kalau nggak di susul, mereka tak akan ingat pulang!" ucapnya segera keluar dari rumah itu menuju ke rumah adik tidak seibu dan seayah dengan mama Bella.
Mereka kembali melanjutkan makan. Tak lama setelahnya masuk waktu dhuhur. Mereka istirahat sebentar dan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di musholla rumah itu.
Pukul dua siang, ketiganya baru berangkat ke Aceh untuk menemui Revan si putra sialannya itu.
Ia berjingkrak kegirangan dengan Revan yang tertawa melihatnya. Bagaimana putri bungsu Abi Prince itu tidak kegirangan jika Revan itu mirip sekali dengan papa Kenan. Papa Kenan yang berhasil menolong dirinya dari musibah kecil saat ia masih berusia dua belas tahun dulu.
"Ya, Allah!! Abang di sini? Sama siapa?!" teriaknya kegirangan sambil memeluk erat lengan Revan.
Saudara kembarnya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu.
"Udah, Dek! Mandi dulu! Kalau kakak pulang, habis kamu! Ingat, loh! Bang Revan itu suaminya kakak!" ketusnya sembari berlalu.
__ADS_1
Puteri bungsu abi Prince itu merengut masam. Ia menghentakkan kakinya untuk masuk ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Revan terkekeh kecil melihat tingkah adik sepupu Zalimar itu.
Ia yang baru saja bangun dan menunaikan sholat dhuhur, dikejutkan dengan suara lengkingan gadis kecil itu. Perutnya yang lapar mendadak kenyang seketika.
Revan menggelengkan kepalanya menuju ke dapur. Ia ingin makan siang yang sudah tertunda. Sementara itu di rumah sakit, Zalimar sudah siap untuk pulang. Hari ini, pasiennya sedikit. Ia hanya menemui mereka yang sudah membuat janji dengannya.
"Sudah selesai?" tanya ummi Alzana yang diangguki olehnya.
"Sudah. Aku balik duluan, ya, Mi. Kasihan Bang Revan, mungkin belum bangun hingga saat ini. Mana abi dan ummi udah langsung ke rumah Eyang Tarman lagi!" keluh Zalimar segera berlalu.
Ummi Alzana terkekeh kecil menanggapi keponakannya itu. Ia pun kembali bekerja sampai jam lima sore nanti. Saat ini masih pukul dua lewat tiga puluh siang hari.
Cuaca yang begitu terik dan lumayan panas untuk daerah yang dekat dengan kawasan air laut.
Zalimar segera melajukan motor bebeknya untuk pulang ke rumah. Butuh waktu lima belas menit untuk tiba di rumah Abi Prince. Sebelum tiba di rumah, Zalimar sempat berbelanja keperluan rumah yang sudah menipis.
Kenapa harus Zalimar?
Karena ummi Alzana sendiri yang menyuruhnya. Beliau tidak sempat untuk berbelanja karena tugasnya sebagai dokter di rumah sakitnya sendiri. Jadi, selama Zalimar berada di sana, ia menyuruh keponakannya itu untuk berbelanja keperluan rumah. Zalimar menyanggupi itu.
Ia berbelanja sebentar. Setelah selesai, ia kembali melajukan motornya menuju ke rumah yang selama satu tahun ini tempati atas izin dari Om dan tantenya itu.
Zalimar tiba di rumah itu sudah masuk waktu ashar. Ia mengernyitkan dahinya mencium aroma masakan yang begitu ia kenal.
__ADS_1
"Siapa masak semur ayam? Savana? Apa gadis perusuh itu sudah pulang sekolah? Lalu Bang Revan?" gumamnya sambil masuk melalui pintu garasi yang langsung tembus ke dapur.
Zalimar menenteng dua kantung besar dengan kepala menunduk. Ia masuk ke dapur dan melihat dua orang yang sedang memasak di sana. Tubuhnya membeku seketika ketika melihat memanas.