
Papa Reza masuk dengan membawa seseorang ke dalam kamar Zidan dan juga ada beberapa orang membawa sesutu seperti barang seserahan.
Zee mematung di tempat saat melihat barang-barang itu. Ia menoleh pada Mama Rani dan Ummi Ira yang kini menatap pada Zidan.Zidan yang tahu segera dudk dibantu Abi Raga.
Ia melihat calon ayah mertua nya itu. "Abi.. Maafkan Abang jika ini terkesan mendadak. Tetapi Abang tidak bisa menahannya terlalu lama. Takut dosanya bertambah!" Zidan terkekeh saat mengatakan hal itu.
Abi Raga tersenyum teduh padanya. "Abi paham Nak. Karena Abi sangat mengenal putri Abi itu seperti apa. Kakak.." panggilnya sambil menatap Zee yang kini tertegun melihat interaksi keduanya.
"Zidan sudah mengatakan maksud dan tujuannya sama Abi melalui pesan tadi. Dan ya, Abi harus bertanya dulu padamu. Apkah kamu bersedia menikah dengan Zidan dalam keadaan seperti ini? Zidan sudah mengatakan yang sebenarnya sama Abi. Ia ingin menikah denganmu disini. Pernikahan ini akan bersifat tertutup dari publik. Hanya kita yang tahu. Apakah kamu bersedia Zee??"
Deg!
Deg!
"Me-menikah Bi? Sekarang?! Tapi..." jawab Zee yang sangat terkejut dengan permintaan Zidan kepada sang Abi.
Zidan terkekeh dan juga Abi Raga pun ikut terkekeh. "Iya sayang nya Abi.. Kakak akan menikah sore ini di dalam rumah sakit ini. Pak Penghulunya udah disini beserta dua orang saksi dari pihak kita dan juga Zidan. Mertua kamu juga sudah setuju kok. Palingan Mama dan Ummi kamu yang terkejut." Imbuhnya sambil terkekeh lagi.
Mama Rani melihat Papa Reza dan mengangguk kecil padanya. Beliau menghela nafasnya.
Begitu juga Ummi Ira. Beliau pun bertanya kepada Abi Raga. Sama seperti Papa Reza beliau juga mengangguk.
Zee beralih menatap Zidan. "Kenapa?"
Zidan yang tahu maksud pertanyaan Zee, tersenyum. "Nanti Abang jawab. Untuk saat ini kamu bersedia kalau Abang menikahimu sekarang?? Abang melakukann ini demi kebaikan kita berdua. Minggu depan Abang akan tetap menikahimu sekali lagi." Jelas Zidan terdengar ambigu di telinga Zee.
Ia terpaksa mengangguk karena Zidan pasti memiliki rencana atau apapun itu. Zee akan mempercayai nya.
Ia yakin jika Zidan pasti sudah memikirkan ini secara matang.
__ADS_1
Zee menghela nafasnya. "Ya, aku setuju."
Semua yang mendengarnya mengucap hamdalah bersama karena Zee sudah setuju. Acara akad nikah dadakan itu pun terjadi.
"Saudara Zidan!"
"Saya Bi!"
"Saya Kawinkan dan Nikahkan engkau dengan putri kandung saya Ziara Puteri Hariawan binti Ragata Hariawan dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 25 gram dan sebuah mushaf Al qur'an serta saham di Alamsyah Group 25% dibayar tunai!"
Deg!
Zee menoleh pada Zidan. Jantung itu berdegup tidak karuan. Sangat berdebar.
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Ziara Puteri Hariawan dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan sebuah mushaf Al qur'an serta saham di Alamsyah group sebanyak 25% di bayar tunai!"
Jantung keduanya berdetak dengan kencang.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah.. Barakallahu 'alaikuma wabaroka 'alaikum fi khair.." Pak Penghulu membaca doa untuk kedua pengantin yang baru saja menikah secara dadakan itu.
Zidan tersenyum melihat Zee yang kini sudah sah menjadi istrinya. Tinggal hukum saja yang belum.
"Pasangkan mahar yang kamu berikan untuk istrimu, Nak." Ucap Pak penghulu dan diangguki oleh Zidan.
__ADS_1
Zee yang memang berdiri disamping bangkar Zidan dengan mematung, kini menoleh pada Zidan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Zidan tetap menyunggingkan senyum manisnya. Ia menarik lembut tangan Zee dan mendekat padanya.
Zidan segera memasangkan mahar pemberiannya yang berupa cincin, gelang dan kalung berinisial nama keduanya disana.
Zee menoleh pada kalung itu. "Ziaa?" katanya sambil memegang liontin nama itu.
Zidan tersenyum. "Ya, Ziaa. Yang artinya Zidan dan Ziara."
Zee menatap lagi pada gelang di tangan kirinya. Disana juga terukir dengan huruf yang sama.
Secepat itukah Abang menyiapkannya?? Ini sungguhan!? Bukan mimpikan ya? Seperti yang dulu-dulu jika aku selalu gagal menikah??
Inikah pilihan mu ya Allah??
Batin Zee dengan mata mengembun.
Zidan tersenyum, ia memberi kode pada mereka semua.
"Baiklah. Kalian bicara saja dulu berdua. Kami akan tunggu diluar!" ucap Papa Reza dan diangguki oleh yang lainnya.
...****************...
Othor cuma mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi kalian yanh menjalankan nya.
Mohon maaf lahir dan batin ye?
🙏🙏🙂🙂🙂
__ADS_1