
Zalimar menunduk malu ketika Revan berdehem dan menyadari sesuatu yang tersembunyi itu tegak berdiri seperti pohon kelapa bengkok. Revan berdehem. Ia salah tingkah dna kikuk sendiri.
Zalimar pun demikian. Ia yang semakin malu ketika pemuda itu duduk bersila dan semakin menunjukkan tiang bengkok itu. Pipi Zalimar semakin memerah.
Maluuu..
Batinnya menunduk malu. Begitu pun dengan Revan. Ia menjadi canggung berhadapan dengan istrinya seperti itu. Biasanya Revan paling suka sosor duluan. Kali ini, ia duduk di ranjang dengan tubuh bergetar dan juga jantung berdegup bertalu-talu.
"Ehem," Revan berdehem untuk mentralkan degup jantung yang semakin tidak terkontrol.
Zalimar maju selangkah mendekati suaminya itu. Ia berinisiatif mendekati suaminya lebih dulu. Zalimar tahu akan adab suami istri jika akan melakukan ritual sepasang suami istri.
Zalimar duduk di samping Revan yang kini melengos ke arah lain.
Maluuu.
Zalimar tersenyum kikuk. Tidak tahu harus ngomong apa. Entah kemana sikap akrab dan terbiasa keduanya, mereka pun tidak tahu.
Zalimar mulai lebih dulu, tetapi belum ia memanggil suaminya, Revan lebih dulu berbalik padanya dengan menampilkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
Zalimar tersipu melihat wajah tampan itu. Revan terkekeh. Ia menarik tubuh Zalimar. Dengan sekali sentakan, tubuh ramping sudah terduduk dipangkuannya.
Zalimar menoleh ke arah lain. Revan terkekeh lagi. "Kenapa jadi canggung begini?" tanyanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Zalimar.
Zalimar salah tingkah ketika merasakan sesuatu yang bengkok itu berdenyut di samping pahanya. Zalimar semakin malu saja. Revan pun memulai ritualnya. Sebelumnya, ia membaca doa di telinga Zalimar yang membuat wanita itu mengaminkannya.
Ia menarik wajah itu untuk menghadap padanya. Revan tersenyum. Ia mulai mengecup-ngecup singkat putik ranum itu. Di lanjut dengan kecupan ke seluruh wajah Zalimar yang kini sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Revan.
Keduanya hanyut dalam pagutan mesra. Seringkali keduanya melakukan hal ini. Akan tetapi, berbeda rasanya. Kali ini, sangat nikmat. Revan semakin gencar menyentuh lekuk tubuh yang tembus pandang dan selalu tersembunyi oleh pandangan matanya walau keduanya sudah menikah satu bulan lamanya.
Zalimar semakin terbuai dengan setiap sentuhan untuk pertama kali di tubuhnya. Hanyut dalam buaian rasa hingga tanpa sadar keduanya sudah dalam satu selimut yang sama.
Rasa yang tak pernah keduanya rasakan, kini keduanya rasakan. Untuk pertama kalinya, Zalimar menikmati setiap sentuhan kekasih halalnya.
Revan benar-benar candu akan hal itu. Ia tidak akan berhenti sebelum puas mereguk madu yang tersaji dihadapanmnya saat ini. Entah berapa lama keduanya mereguk manisnya madu pernikahan, subuh hari pun menjelang.
Zalimar yang lebih dulu terbangun dengan tubuh remuk redam. Ia melirik ponselnya yang menujukkan waktu subuh. Zalimar berusaha bergerak untuk bangkit, tetapi begitu sulit.
"Ssstt.. Aucht!" desisnya merasa ngilu.
__ADS_1
Revan terlonjak kaget. Ia langsung terduduk dan melihat pada istrinya yang kini sedang bergetar tubuhnya menahan sakit. Revan panik. Ia memeluk Zalimar dengan erat.
"Maaf, maafkan abang, Sayang. Maaf," cicitnya merasa bersalah.
Zalimar tersenyum. Ia menyentuh wajah Revan yang kini menempel di bahu polosnya. "Tak apa. Bisakah abang membantuku untuk ke kamar mandi? Ssstt.. Rasanya sakit sekali!" keluhnya sedikit manja.
Revan terkekeh. "Baiklah, baiklah, istriku! Abang akan membawamu ke kamar mandi! Ayo, ia mengambil sarung dan memakainya. Ia juga mengambil handuk untuk menutupi tubuh Zalimar yang penuh dengan tanda cinta darinya.
Revan terkekeh sambil menggoda Zalimar yang kini menepuk dadanya karena malu. Keduanya mandi besar bersama karena sudah memasuki waktu subuh. Setelah selesai, keduanya melakukan sholat subuh berjamaah.
Zalimar duduk di tepi ranjang setelah sholatnya selesai. Revan pun demikian. Ia mengelus surai hitam sang istri yang masih lembab itu. Revan menariknya ke ranjang lagi. Revan merengkuh tubuh ramping itu yang juga ikut merebahkan tubuhnya di dalam pelukan Revan.
Keduanya kembali terlelap setelah sholat subuh. Seharusnya, tidak boleh tidur lagi setelah sholat subuh. Akan tetapi, karena suatu hal membuat keduanya begitu mengantuk, terpaksa keduanya terlelap lagi.
Revan tersenyum dalam tidurnya ketika pergulatan keduanya tadi malam begitu menguras keringat. Aktivitas pertama kali seumur hidup. Revan yang baru saja merasakan nikmatnya cawan surgawi milik istrinya setelah umurnya dua puluh delapan tahun.
Ia begitu bersemangat menyemai bibitnya di ladang halal miliknya. Keduanya tidak sadar waktu sudah hampir pagi. Baru satu jam keduanya terlelap sudah memasuki waktu subuh. Jadi, inilah gantinya mereka untuk terlelap menggantikan waktu yang sudah terlewat.
Revan semakin tersenyum senang ketika mengingat jika bibit unggulnya akan menjadi kecebong biang rusuh untuk keduanya nanti.
__ADS_1
Memikirkan itu, Revan ingin lagi mereguk manisnya madu yang baru saja ia rasakan. Maka terjadilah apa yang ia inginkan. Zalimar pasrah akan perbuatan suaminya itu. Lagipula ia juga menyukainya? Eh?
🤣🤣🤣