
Tiga hari berlalu setelah Zidan di rawat dirumah sakit, hari ini mereka akan pulang kerumah dikarenakan Zidan sudah boleh pulang.
"Sudah siap?" Tanya Abi Raga pada Zidan dan Zee
Keduanya mengangguk da menyahut bersamaan. "Sudah, Bi. Ayo!"
Abi Raga mengangguk.
Untuk sementara Zidana kan pulang kerumah Abi Raga dikarenakan suatu hal. Pernikahan keduanya amsih harus disembunyikan lantaran pelaku teror belum di temukan.
Rencananya hari ini seluruh keluarga akan menghubungi Kenan melalui sambungan video call yang saat ini berada di Jakrta sana.
Zidan setuju. Bahkan hal itulah yang akan ialakuakn setelah keluar dari rumah sakit. Ternyata orang tuanya sudah bergerak lebih dulu darinya.
Zidan sangat senang akan hal itu. Belum lagi selama tiga hari ini, Zee sama sekali tidak masuk bekerja hanya demi menjaga dan merawat dirinya.
Padahal luka Zidan sudah sembuh. Fakta yang baru Zidan ketahui tentang sang istri ialah Zee tidak bisa dibantah jika ia sudah berkeinginan.
Zidan memaklumi hal itu. Bahkan ia senang jika Zee melakukan keinginannya sendiri tanpa di komando oleh orang lain. Karena dirinya pun demikian. Tidak mau di perintah oleh orang lain. Maunya kemauan sendiri.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Zee dan Abi Raga terus berbicara. Sesekali keduanya terkekeh dan juga tertawa keras karena sudah berhasil menggoda Zidan.
Zidan hanya bisa pasrah. Ia pun sesekali ikut menimpali ucapan kedua orang itu.
Cukup tiga puluh menit dari rumah sakitnya kini mereka sudah tiba dirumah Zee. Dimana kedua orang tuanya pun sudah menunggu dengan koper milik Zidan.
Kedua paruh baya itu tersenyum hangat saat melihat Zee baru saja turun dari mobil langsung mendektai mereka untuk disapa dan disalimi.
"Assalamau'alaikum Mama, Papa!"
"Wa'alaikum salam, Nak. Ayo kita masuk. Bawa serta suami kamu. Jangan dibiarkan seorang diri di dalam mobil!" jawab papa Reza sekaligus menyindir Zidan yang kini sedang turun dengan perlahan karena masih merasa pusing.
Ia memutar bola mata malas saat mendengar ucapan sang Papa untuknya. Zee terkekeh kecil.
Kedua orang tua mereka sangat senang melihat kedekatan keduanya yang terjalin begitu cepat.
Tiba di dalam rumah, Zee membawa Zidan ke kamarnya yang berada di lantai dua bersebelahan dengan kamar Arga saudara kembar Zee.
Arga saat ini sedang berada di Surabaya karena satu hal yang sedang ia lakukan disana karena permintaan seseorang.
__ADS_1
Jadi, ia tidak mengetahui jika saudara kembarnya sudah menikah lebih dulu sebelum tanggal yang sudah di tentukan.
Saat zidan melangkah masuk ke dalam kamar Zee, lelaki tampan itu tertegun melihat setiap dekorasi ruangan yang sangat sederhana.
Padahal diluar sana dekorasi ruang tamu saja sangat mewah hingga ke dapur. Tetapi tidak di kamar Zee.
Kamar Zee hanya ada satu buah kursi meja belajar yang diatasnya ada sebuah laptop serta buku-buku kedokteran.
Lemari baju dua pintu serta tempat tidur yang hanya dipasang kelambu tipis berwarna putih bersih sesuai dengan warna kesukaan Zee.
Tidak ada yang mewah disana. Untuk lemari kaca rias saja Zee tidak punya. Hanya kaca berukuran setengah meter yang menempel di lemari pakaian miliknya.
"Abang istirahat aja dulu. Aku mau ke bawah sebentar ya?"
Zidan menggeleng, "kamu disini aja. Temani Abang." Jawab Zidan yang tidak bisa di tolak oleh Zee.
"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar mandi dulu ya? Mau nyuci baju udah tiga hari tidak di cuci! Hehehe.." putusnya dengan sedikit kekehan di bibirnya yang di sambaut kekehan juga oleh Zidan.
"Baju Abang tidak sekalian kah di cuci nya?" goda Zidan pada Zee yang kini mematung di depan pintu kamar mandi miliknya.
__ADS_1
Ia berbalik dan mendekati tas milik Zidan yang ia bawa dari rumah sakit. Zidan terkejut melihat Zee membawa tas itu menuju ke kamar mandi.
Ingin menegurnya tetapi Zee sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Ada rasa hangat menjalar di hatinya saat melihat tingkah Zee.