Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Disetujui


__ADS_3

"Ummi," panggil Zalimar setelah sekian lama terdiam.


Ummi Zee menggeleng. "Berat, Nak. Mana mungkin ummi bisa!" tolaknya tak sanggup.


Abi Zidan pun mengangguk. Revan tersenyum melihat kedua orang tua itu. Ia menjadi yakin apa yang zalimar katakan. Keduanya waktu itu hanya terpengaruh sampai mendholimi Zalimar. Terkadang, manusia bisa buta akan kasih sayangnya hingga mereka membuat kesalahan.


Akan tetapi, bukankah kesalahan itu bisa di perbaiki? Seperti keduanya saat ini? Revan tersenyum mengingat ucapan Zalimar tadi untuk kedua mertuanya itu.


'Sungguh hatimu lembut, Sayang. Abang beruntung bisa mendapatkan kamu sebagai istri. Pengorbanan abang selama ini tidak sia-sia. Kamui istri sholelhah, Sayang. Ummi dan abi sudah berhasil mendidikmu menjadi anak yang baik dan juga istri yang baik. Semoga kamu pun bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. Amin!' Batin Revan menatap lekat pada istrinya yang kini terus berusaha membujuk kedua orang tuanya untuk memenuhi permintaannya.


"Ummi, Abi. Adikku itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Jiwanya terguncang akibat semua ini. Hatinya gelap dan kotor karena dikuasai oleh nafsu. Jadi, sudah sewajarnya kita mengembalikan ia ke jalan yang benar. Aku tahu siapa adikku itu. Ia wanita yang baik. Hanya karena sakit hati, ia gelap mata. Zianti masih bisa kita bawa kembali dan kita perbaiki. Untuk itu, tolong penuhi permintaanya pada kalian berdua tadi."


"Lakukan apa permintaanya. Setelah itu, tugas ummi dan abi yang harus merubahnya kembali. Jangan buat Damar semakin kecewa karena istrinya demikian. Sudah cukup pemuda itu terluka dan hidup dalam kebohongan, Ummi. Bantu Zianti untuk menyembuhkan rahimnya kembali. Kakak tahu, Zianti sedang bermasaah dengan rahimnya akibat benturan itu. Kakak bertanggung jawab untuk itu. Tak apa jika ia mengutuk kakak tidak memiliki keturunan. Kakak ikhls. Kakak mengaku salah karena sudah mencelakai dirinya," ucap Zalimar lirih dan begitu merasa bersalah terhadap saudara kembarnya itu.


Suaranya mendadak lemah ketika mengingat kejadian kemarin malam yang membuat Zianti terluka dan kehilangan janinnya. Bukan hanya janin, bahkan rahimnya pun rusak. Ia di vonis tidkak bisa memiliki keturunan lagi. Zalimar menyesalkan semua itu. Ia bertanggung jawab akan semua yang terjadi.


Ia akan memperbaiki semuanya seperti keinginan Zianti. Ia mengaku salah. Zalimar salah. Revan memeluk istrinya itu untuk menguatkannya. Zalimar tersenyum sendu.


"Kamu tidak salah, Sayang. Semua itu takdir. Tidak pun karena kamu menendang perutnya, janin itu pasti akan luruh dengan cara yang lain. Semua itu sudah kehendak takdir. Jangan salahkan dirimu. Tanpa kamu perbuat pun janin itu akan luruh sendirinya. Jadi, jangan salahkan dirimu terus, hem?" ucap Revan yang diangguki oleh Zalimar.

__ADS_1


Apa yang bisa wanita itu lakukan selain hanya bisa mengangguk saja? Jauh di lubuk hatinya, ia begitu bersalah pada Zianti. Karena dirinya, janin yang tak berdosa itu luruh oleh perbuatannya. Zalimar seorang wanita. Ia memang belum memiliki anak, tetapi ia sangat paham akan kehilangan seorang anak yang, bahkan belum terlahir ke dunia sudah pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


Zalimar begitu terluka ketika Zahara mengirimkan video bagaimana Zianti mengamuk ketika ia tahu bahwa janinnya sudah tiada. Bukan hanya itu, Zianti juga mengamuk menyalahkan kedua orang tuanya karena dirinya.


Apa yang bisa Zalimar lakukan selain hanya bisa mengalah? Mengalah bukan berarti kalah, bukan? Inilah yang sedang Zalimar lakukan. Ia sedang berusaha menyatukan kepingan kaca yang pecah agar utuh kembali.


Walau sudah tidak sama lagi, ia akan berusaha untuk menyatukan semuanya. Memang akan berubah, paling tidak ia sudah berusaha menyatukan keluarga mereka yang terpecah akibat kesalah pahaman yang entah di muali dari siapa.


Tidak mungkin Zinati menyalahkan kedua orang tuanya itu, sementara kedua orang itu begitu baik padanya. Sedari ia bayi hingga dewasa, keduanya amsih berbuat baik padanya walua tidka membiayai kehidupannya. Bagi Zalimar, dengan keduanya berbuat baik saja, itu sudha cukup untuknya.


Zalimar sengaja menghindar agar tidak mendapat masalah dnegn adiknya itu. Ia tahu betuk seperti apa sifat Zianti jika ia mendekati kedua orang tuanya. Maka dari itu, ia lebih sering menyendiri dna bersikap cuek pada kedua orang tuanya demi menghindari pertengkaran dengan Zianti


Zalimar bukan matrah pada kedua orang tuanya. Ia hanya kecewa. Wajar saja 'kan kalau dirinya kecewa?


Namun, ia tidak permnah menunjukkan rasa kecewa itu pada kedua orang yang sudha mendholiminya dari ia beranjak remaja hingga saat ini. Mereka amsih mau berbicara padanya saja, itu sudha cukup untuknya.


Tak ada gunanya bersitegang urat kalau pada ujungnya merek tercerai berai juga. Lebnih baik mengalah dan terluka. Itu lebih baik daripada haruis menimbulkan masalah yang akhirnya berujung runyam tanpa penyelesaian.


Ummi Zee akhirnya mengangguk setuju dnegn ucapan zalimar. Abi Zidan pun demikian.

__ADS_1


"Baiklah jika itu maumu. Kami akan membuat seperti yang adikmu inginkan, tetapi apakah kamu tidka akan pulang lagi ke sini? Abi dnegar, revan sudah mengurus kepindahanmu? Kenapa haru pergi, nak? Siapa yang mengurus rumah sakit kita? Kamu direkturnya! Zahara wakilnya! Zafran harus memimpin tampuk perusahaan sekarang. Abi sudha tidak bis alagi memimpimn perusahaan," ucapnya masih berusaha membujuk Zalimar.


Istri Revan itu tersenyum padanya. "Kakak sudha meniakh, Bi. Bukankah tugas seorang istri yang sudha menikah, jika suaminya bekerja dan membawanya serta, maka ia harus ikut?"


Abi Zidan menganggguk lirih. Zalimar tersenyum. "Inilah yang saat ini kakak lakukan! Kakak ingin menghadiahkan surga untuk kalian berdua dengan cara berbakti pada suami kakak. Kakak tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua. Kalian berdua surgaku. Jika sekarang aku, aku pergi untuk menghadiahkan surga untuk kalian. Tidakkah Ummi dan Abi mau menerima hadiah surga dariku?"


Pertanyaan Zalimar baru saja menampar seseorang yang kini bersembunyi di balik pintu ruangan kedua p[aruh baya itu. Ia meremat baju pasien yang saat ini ia kenakan.


"Nak," panggil kedua orang itu dengan leher tercekat.


Keduanya menangis bersama. Ummi Zee ingin sekali memeluk putri sulungnya saat ini. Abi Zidan pun demikian.


"Abi bangga mendapatkan putri shalihah sepertimu. Semoga Allah melimpahkan rahmat dna karunia di dalam keluarga barumu. Abi berdoa, semoag kamu dna keturunanmu merupakan orang-orang terpilih di akhirat kelak yang bisa mendapatkan syafaat oleh Rasulullah di yaumul mahsyar," ucapnya tulus yang diangguki oleh Zianti.


Ummi Zee mengangguk. "Ummi pun demikian. Semohga sakinah mawaddah dan waromah hingga akhir hayat. Untuk Zianti, ummi berdoa. Semoga Allah mengampuni dosanya dna di bersihkan seluruh hidupnya. Ia akan kembali seperti orang yang baru setelah sehat nantinya," doanya tulus untuk putri keduanya.


"Amiiinn," ucap zalimar dan Revan bersamaan. Mereka tertawa bersama setelah melihat Revan yang snagat suak menggoda zalimar walau dihadapan kedua orang tuanya.


Zalimar hanya bisa menepuk ringan suaminya itu untuk meluapkan rasa malu di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2