
"Saya diperiksa saja dulu dokter. Cuma sebentar kok. Besok, saya sudah harus pindah tempat periksa.." lirihnya dengan dada yang begitu sesak saat melihat mata Zidan menatap pada Zee saat ini.
Mata keduanya masih bertatapan dengan dingin. Hanya untuk Zidan. Tidak dengan Jerry. Tatapan mata itu begitu lembut pada Zidan yang kini sedang menatapnya.
"Abang," panggil Jerry pada Zidan yang kini masih setia berdiri di belakang tubuh Zee.
Zee menoleh pada Jerry sebentar kemudian menunduk. "Mari Nyonya. Saya periksa dulu. Em Abang?" panggilnya pada Zidan
"Kamu periksa saja dulu. Abang akan menunggu kamu tetap disini," jawab Zidan dengan suara dinginnya.
Zee merasa merinding mendengar suara dingin Zidan padanya. "Baiklah, Ayo!" Ajaknya pada pasiennya itu.
Zee berlalu meninggalkan Zidan suami dari pasiennya itu yang menurut pemahaman Zee, jika Zidan suami pasiennya itu saling mengenal. Terlihat jelas jika suami pasiennya itu memanggilnya dengan Abang.
Setelah keduanya menghilang dibalik pintu ruangan Zee, Zidan memilih duudk di kursi tunggu yang tepat beradadi hadapannya saat ini.
Jerry mengikuti langkah kaki Zidan dan juga ikut duduk di dekat Abang sekaligus sahabatnya itu.
"Bang Aku-,"
__ADS_1
"Sudah lah Ry. Semua ini sudah kita bicarakan. Lebih baik kamu mengurus istr dan anakmu. Abang tidak apa-apa." Potong Zidan cepat yang membuat adik serta sahabatnya itu menunduk sedih.
"Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, Bang. Ada janin yang tidak berdosa di dalam rahimnya."
"Dan kamu akan berdosa jika memisahkan ibu dan anaknya jika ia sudah lahir!" ucap Zidan yang membuat Jerry semakin menunduk dalam.
"Maaf Bang.. Maaf.. Aku menyesal.." lirih Jerry dengan bahu bergetar.
Zidan menoleh pada Jerry dan segera memeluknya. "Tak apa dek. Semua ini sudah takdir Abang mu. Inilah cara Allah untuk ku. Dan kamu tahu, karena kejadian ini Allah sudah mengirimkan jodoh itu untukku." Imbuhnya yang membuat Jerry mengurai pelukannya.
Ia menatap manik bola mata hitam Zidan yang kini sedang tersenyum lembut padanya.
Jerry terkejut dengan mata membola. "Beneran Bang?" tanya nay amsih belum percaya.
Zidan tertawa melihat wajah terkejut Jerry yang masih sama saat mereka masih duudk di bangku SD dulu.
"Beneran Dek. Dokter Ziara spesialis kandungan dirumah sakit ini merupakan calon kakak ipar kamu. Dia merupakan cucu dari seseorang yang selama ini menjadi motivasi Abang untuk menjadi seorang pendakwah."
Jerry terkejut lagi dengan ucapan Zidan, karena ia tahu pasti siapa sang motivator Zidan itu.
__ADS_1
"Mami Alisa? Cucu mami Alisa dan Papi Gilang pengusaha sukses itu?? Beneran bang?" tanya nya lagi masih dengan ekespresi terkejutnya.
Yang sangat terlihat lucu di mata Zidan hingga membuat Zidan tetawa. "Iya Dek. Beneran. Ziara merupakan putri sulung Kak Ira pemilik rumah sakit ini. Dan dialah jodoh yang sudah di berikan oleh Allah untuk Abang. Dan kami akan menikah seminggu lagi!"
"Hah?" Jerry melongo mendengar ucapan Zidan yang saat ini masih saja tertawa melihat wajah cengo nya.
"Sudahlah Dek. Kamu itu kenapa? Kok yang kayak kaget banget gitu sih? Bukannya senang dan mendoakan Abang agar bahagia, ini malah disuguhi dengan wajah cengo kamu!" Lagi, Zidan tertawa.
Suara tawa yang khas belum pernah terdengar oleh siapa pun. Tetapi hari ini Ada tiga orang wanita yang mendengar suara tawa merdu itu.
Terutama Zee.
Bibir itu tersenyum lebar saat melihat calon kekasih halal nya kini tertawa keras di depan suami pasiennya.
Zee terkekeh saat melihat wajah cengo suami pasiennya itu yang segera dirahup kasar oleh Zidan yang membuatknya terkejut dan kesal sekaligus.
"Ih, Abang!" serunya dengan segera membetulkan kembali rambutnya yang sudah tertata rapi malah jadi berantakan lagi gegara di usap kasar oleh Zidan.
Zidan terus saja tertawa membuat seorang wanita menatap sendu padanya. Zee melirik pasiennya itu.
__ADS_1
Ada apa? Kenapa wanita ini melihat Bang Zidan begitu sedih dan sangat dalam? Batin Zee terus memperhatikan pasiennya itu.