Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Kilas balik part 3


__ADS_3

Zalimar menatap bingung pada adiknya begitu juga dengan Damar dan Revan. Mereka masih terdiam dengan ucapan Zianti yang berhasil meluluhlantakkan hati ketiganya.


"K-kamu bicara apa, Dek? Ka-kamu salah ngomong, ah! K-kapan aku b-berzina?! D-dengan siapa?!" seru Zalimar masih saja dipegang erat bajunya oleh Zianti yang kini menatap nyalang padanya.


Zalimar tak habis pikir dengan adiknya itu. Bisa-bisanya ia menuduh jika Zalimar sudah tidak suci lagi. Zalimar ternoda? Dengan siapa? Selama yang gadis kecil itu ingat, ia tidak pernah dekat dan berzina dengan siapa pun selain Damar dan...


Zalimar terkesiap ketika ia memikirkan seseorang. Zianti tersenyum sinis melihat padanya.


"Kenapa? Kakak baru ingat? Siapa pemuda yang berhasil merenggut kesucianmu?" tuduh Zianti lagi.


Zalimar menatap adiknya itu dengan gelisah. Bukan maksud membenarkan. Hanya saja, ia baru teringat jika kemarin malam ia dan seseorang tanpa sadar di dalam kamar yang sama.


Hanya saja, ia tidak mengingat siapa pemuda yang sudah membuka bajunya itu. Bergetar tubuhnya ketika mengingat seorang pemuda mencoba mendekati wajahnya malam kemarin.


Wajahnya pias seketika yang membuat Zianti tertawa melihat saudaranya itu.


"Sudah ingat? Kalau sudah, biar aku jelaskan kepada bang Damar!" katanya sembari melepaskan tangannya dari baju Zalimar yang membuat wanita cantik itu terhuyung seketika karena perbuatan saudarinya itu.


Damar menatap lekat pada Zalimar. Pemuda tanggung itu menuntut jawaban dari Zalimar akan perkataan Zianti baru saja.


"Begini bang Damar. Aku mendapat sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Pesan itu mengatakan jika kakak sudah tidak suci lagi. Pesan itu juga bilang, jika ialah pemuda itu. Ia akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi kemarin malam. Lelaki itu mengatakan jika Zalimar sudah memberikan kehormatannya padanya secara suka rela. Awalnya aku tidak percaya, tetapi ketika sebuah foto menunjukkan jika itu kakak, maka aku percaya seratus persen padanya!"


Zalimar semakin berkeringat. Ia mengingat akan kejadian tak terduga itu. Hanya saja, ia seperti dipengaruhi oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa bergerak.


Ia bisa melihat wajah pemuda itu dengan samar. Akan tetapi, tidak seperti yang Zianti katakan.

__ADS_1


"Coba abang lihat foto ini," tunjuknya pada Damar yang membuat pemuda itu terhuyung ke belakang dan menatap Zalimar dengan tidak percaya.


Zianti menatap sinis padanya. "K-kamu..? Zalimar..?!" serunya dengan wajah pucat. Ia begitu shock ketika melihat foto itu.


Begitu pun dengan Zalimar. Ia semakin shock ketika melihat foto itu benar dirinya. Akan tetapi, ia tidak mengingat bagian itu. Wajah Zalimar semakin pucat.


"Tidak! Tidak mungkin! Kau pembohong Zalimar! Teganya kau melakukan hal tercela seperti itu? Huh?!" teriak pemuda itu begitu marah yang membuat Zalimar semakin shock melihat kemarahan dari calon suaminya itu.


Zianti berdiri bersidekap tangan di dada. Puas ia melihat Zalimar tersudut seperti itu. Ia tersenyum mengejek Zalimar yang tidak bisa membela dirinya.


"Jahat kau Zalimar! Aku membenci dirimu! Sangat membenci dirimu!"


Duuarr!


"Aku pikir, kau pantas untukku! Tapi, nyatanya? Kau hanya seorang wanita munafik!"


"Kau pezina!" teriaknya lantang yang membuat tubuh Zalimar limbung seketika.


Zalimar merasakan pengang ditelinganya karena teriakan Damar baru saja. Ia menatap lekat pada calon suami masa depannya itu.


"Segitu bencikah kamu padaku? Apakah hanya sebatas itu kepercayaanmu padaku? Aku berani bersumpah, bahwa aku tidak ingat apapun malam itu! Aku tidak tahu jika aku ada di sana! Aku tidak sadar! A-aku terkejut ketika bangun sendirian, tetapi bajuku tetap utuh! Tidak seperti tuduhanmu!" ucapnya membela diri


Zianti tertawa sarkas. "Maling mana mau mengaku? Heh? Sudah tahu itu kau? Masih saja mengelak! Dasar gadis licik! Tega-teganya kau membuat Bang Damar masih mengharapkanmu, sementara kau tidak pantas dengannya! Kau pezina Zalimar!" teriaknya dihadapan Zalimar yangt kini menatap nyalang padanya.


Tanpa di duga, ia melayangkan tangannya ke pipi Zianti hingga gadis itu terhuyung ke samping dan menubruk pagar pembatas.

__ADS_1


Napasnya memburu. Zianti yang tidak terima segera membalasnya. Ia pun menampar Zalimar begitu kuat hingga bibirnya robek. Damar terkejut melihat itu.


Ia menarik tubuh Zianti yang terus meronta ingin menghajar kembali Zalimar, tetapi ia tahan dengan kuat. Zalimar yang masih emosi kembali melayangkan tangannya hingga Zianti dan Damar tersungkur. Zianti yang kalap, bangkit dan menarik hijab Zalimar. Keduanya tarik menarik hijab yang membuat Damar terkejut bukan main.


Ia bermaksud melerai keduanya. Namun, nasib buruk menimpanya. Karena Zianti ditarik olehnya hingga terlepas dari tubuh Zalimar yang sudah terluka, Zianti mendorong pemuda itu dengan kuat hingga membentur pagar.


Damar yang tidak siap dengan dorongan kuat Zianti terpelanting ke belakang. Kejadian itu begitu cepat. Tubuh Damar melayang ke bawah disertai jeritan Zalimar yang melihat calon suaminya itu terjatuh dengan kepala menghantam tebing curam itu.


Zianti berdiri terpaku dengan bibir memucat. Zalimar yang melihat calon suaminya terjatuh berteriak keras yang membuat semua orang terkejut bukan main. Semua keluarga berlarian mendekati keduanya di tepi pagar itu.


Sementara Zalimar bergerak cepat menuruni tebing tanpa menggunakan apapun. Ia merangkak perlahan hingga jatuh merosot mengikuti tebing curam itu. Semua keluarga menjerit melihatnya.


Sigap papa Kenan berlari ke pos terdekat untuk meminta bantuan. Bantuan pun datang, tetapi Zalimar sudah semakin jauh ke dasar jurang. Zianti masih terpaku di tempatnya berdiri hingga abi Zidan merengkuhnya ke dalam pelukan.


"B-bukan a-aku pelakunya! Zalimar pelakunya! D-dia mendorong Damar hingga terjatuh ke dasar jurang!"


Duuaar!


Bagaimana di sambar petir semua orang. Ummi Zee menutup mulutnya tidak percaya. Ia jatuh terduduk di ikuti oleh bunda Putri yang pingsan seketika, ketika ia tahu jika putra sulungnya sengaja di dorong oleh calon istrinya sendiri.


Tinggalkan para keluarga yang shock dan histeris, para bapak-bapak berjumlah sepuluh orang turun ke bawah menggunakan tali. Mereka akan menyelamatkan kedua anak muda itu.


Revan yang lebih dulu turun. Karena ia melihat semua kejadian itu. Ia yang lebih dulu menemui Zalimar yang merangkak memegangi kepala Damar yang mengeluarkan darah cukup banyak. Para bapak-bapak pun tiba.


Damar di angkat dan di bopong dengan tali penyangga dari atas tebing. Sedang Revan menggendong Zalimar di tubuhnya dibantu oleh dua orang bapak-bapak membantunya untuk bisa naik ke tebing.

__ADS_1


Setibanya di atas, kedua orang yang terluka itu segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Akan tetapi, karena peralatan tidak memadai, keduanya segera di rujuk kembali ke kota untuk mendapatkan penanganan yang cepat. Revan dengan setia menunggu sepupunya itu. Tidak sedikit pun ia meninggalkannya.


Sementara semua keluarga sedang sibuk mengurus Damar yang sudah lebih dulu di bawa menggunakan ambulan ke kota.


__ADS_2