
Revan mengangguk dan terkekeh ketika mengingat ucapan Zalimar dulunya.
"Abang, kalau mondok, jangan lupakan adek, ya? Selalu doakan adek di setiap sholat abang!" katanya dulu dengan bibir mengerucut yang membuat Revan gemas. Pemuda yang baru saja remaja itu mencium pipi kemerahan itu karena gemas. Zalimar berteriak kesal.
Revan tertawa keras. Ia berlarian ketika gadis kecil itu mengejarnya. Zalimar yang kesal sampai menangis karenanya.
Revan yang tidak tega, memeluk adik sepupunya itu yang saat itu berusia sembilan tahun. Mereka berbeda tiga tahun saja. Sedang dengan Damar selisih beberapa bulan saja.
Revan tertawa ketika mengingat kejadian itu. "Tentu saja abang tidak akan pernah lupa. Bagaimana mungkin abang bisa lupa dengan gadis kecil yang sudah berhasil mencuri hatiku ini, hem?" Zalimar tertawa.
__ADS_1
Revan mengecup gemas pipi itu yang membuat sang empu tersipu malu. Inilah yang dulu Revan lakukan. Damar kembali merosot ke bawah. Ia kembali menyenderkan tubuhnya di sana.
Zalimar kembali menatap suaminya. "Sekalipun ia memintaku untuk kembali padanya dengan mengemis darah, aku tidak akan pernah kembali padanya. Pantang bagiku untuk kembali pada seseorang yang sudah aku berikan untuk saudariku. Sekali aku melepas, maka selamanya tidak akan pernah aku ambil lagi. Cukup sekali dan cukup sampai di sana saja. Saat ini, aku sudah memiliki pelabuhan lain selian dirinya. Terima kasih sudah mau bersabar menungguku. Mungkin apa yang ummi katakan benar adanya. Ikatan takdir kita itu sudah terhubung sejak kecil. Hanya saja, jika belum waktunya untuk menyatu, maka tidak akan bersatu. Seperti yang sekarang ini kita lakukan. Kamu sudah menjadi suamiku, maka sudah sepantasnya aku berbakti padamu."
"Aku akan taat padamu. Aku akan berusaha menyenagnakn hatimu dengan cara bersikap baik padamu. Ajari aku untuk bisa memahami tentang dirimu. Aku orang baru yang baru saja masuk ke dalam hidupmu. Bimbing aku agar aku bisa menjadi istri sholehah untukmu. Tuntun aku agar kita selalu beriringan menuju ke surga-Nya Allah. Jika kamu tidak membimbingku, lantas bagaimana rumah tangga ini akan berjalan baik seperti yang kita mau?"
"Aku menyukaimu sedari aku kecil. Aku mencintaimu sedari dulu hingga kini. Rasa yang dulu padam, kini bangkit kembali. Terima kasih sudah mau menunggu, bang Revan. Aku sangat mencintaimu. Cintaku ikhlas karena Allah yang memilihmu menjadi imam dunia dan akhiratku!" ujar Zalimar memeluk erat tubuh Revan yang terharu akan ucapannya.
"Terima kasih. Terima kasih sudah membuktikan jika kamu adalah istriku! Dengan mengatakan semua ini, sudah membuktikan jika kamu memanglah sudah menerimaku untuk menjadi suamimu. Terima kasih, Sayangku. Abang akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu dan abi yang baik untuk anak-anak kita kelak. Terima kasih, Sayang! Terima kasih karena kamu sudah membuktikannya!" ucap Revan yang diangguki oleh Zalimar.
__ADS_1
Revan semakin erat memeluk tubuhnya, sementara Damar tak sanggup lagi untuk mendengarkan ucapan keduanya. Ia memilih masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon. Damar memasuki kamar mandi dan menangis di sana.
Zalimar mengurai pelukannya dan mengintip ke balkon sebelah. Revan terkekeh.
"Sudah pergi?" tanya Revan yang diangguki oleh Zalimar.
Keduanya tertawa bersama karena sudah berhasil membuat Damar terluka. Bukan maksud hati ingin menunjukkan pembuktian itu. Akan tetapi, keduanya harus melakukan hal itu. Keduanya terpaksa melakukan hal itu sebab Damar sengaja mengintip mereka berdua dan menguping pembicaraan keduanya.
"Kita nggak keterlaluan, sih?" tanya Zalimar merasa tidak enak karena sudah menyakiti Damar.
__ADS_1
Revan memeluk erat Zalimar. "Kamu harus melakukan itu, Sayang. Kamu memang harus menegaskan jika kamu adalah istri Revan Putra Alamsyah. Bukan lagi cinta masa lalunya. Cinta masa depan kamu adalah suamimu. Dia hanya masa lalu yang tidak akan pernah bisa menjadi masa depanmu. Sekiranya ia mencoba, maka nyawanya yang akan menjadi taruhan. Sekiranya ia bersedia kehilangan nyawa tanpa memikirkan anaknya, silahakn saja. Abang akan meladeni dirinya. Kamu itu istriku. Jadi, sudah sepantasnya melakukan hal itu. Lebih baik terluka sekarang daripada memendam rasa yang salah untuk istri orang. Melihatnya saja berdosa, apa lagi sampai mencintainya. Itu sama saja dengan dia selingkuh hati dan pikirannya! Dan itu, haram hukumnya bagi seorang laki-laki yang sudah memiliki istri. Paham?" jawab Revan yang diangguki oleh Zalimar.
Keduanya kembali berpelukan dan meresapi setiap rasa yang semakin membuncah di hati keduanya sebagai pasangan halal.