Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Anggara Group Singapure


__ADS_3

Zalimar terus tersedu di pelukan abi Zidan yang juga ikut tersedu memeluk putri sulungnya itu. Benar kata Revan. Tidak ada orangtua yang membenci anaknya.


Jika mulut mengatakan benci, maka lain dengan hatinya. Rasa sayang itu lebih besar dari rasa benci sehingga seberapa pun anak itu membuatnya marah, ia akan tetap memaafkan. Seperti yang terjadi pada abi Zidan dan Zalimar saat ini.


Mulut berkata pedas walau berbentuk teguran. Akan tetapi, hatinya begitu sakit seperti dicabik-cabik ketika mengatakan kata yang bisa melukai hati putrinya. Tidak pernah sekali pun beliau membentak atau memarahi Zalimar kecuali ketika kejadian lima belas tahun yang lalu itu.


Itu pun karena beliau terprovokasi hingga membuatnya emosi. Semua itu karena Zianti, saudara kembar Zalimar yang saat ini mematung melihat drama yang terjadi dihadapannya.


Wanita itu menatap datar pada kedua orangtua dan juga sudarinya itu. Sedangkan Damar, mengepalkan kedua tangannya ketika ucapan Revan begitu menyentil hatinya.


Di panggung sana, anak dan ayah itu masih saja menangis bersama. Mengingat dan menyelami masa lalu yang terbuang percuma karena salah paham.


Revan tetap setia di samping istrinya. Tangan itu tetap mengelus lembut punggung istrinya. Cukup lama kejadian itu hingga membuat ruangan itu hening untuk sejenak.

__ADS_1


Dirasa cukup, Zalimar mengurai pelukannya dan tidak menatap wajah sang abi yang begitu sembab karena terus menangis. Zalimar bergeser ke hadapan ummi Zee yang segera memeluknya. Tangis itu pecah kembali. Ummi Zee berbisik lirih di telinganya yang hanya ia saja yang mendengarnya apa perkataan dari umminya itu.


Abi Zidan dipapah oleh Revan untuk kembali duduk. Revan pun kembali bersimpuh dihadapannya. Abi Zidan memeluk keponakan sekaligus menantunya itu.


"Abi titip Zalimar. Jaga dia untuk abi. Jangan sakiti hatinya. Cukup abi saja yang sudah menyakitinya. Perlakukan dia istimewa, Nak. Abi tidak bisa melakukan hal itu lagi padanya. Abi sudha membuatnya kecewa. Sekarang, tanggung jawab itu sepenuhnya menjadi milikmu. Abi akan mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua hingga akhir hayat kelak. Abi titip cinta abi untuknya, Nak. Tolong sampaikan," bisiknya begitu lirih yang diangguki cepat oleh Revan.


Revan pun tak kuasa untuk tidak menangis. Ia menyanggupi semua ucapan uwaknya itu yang kini sudah menjadi mertuanya. Aneh memang, tetapi inilah yang tejadi. Takdir kehidupan manusia itu tak ada yang tahu. Jauh-jauh mencari jodoh, eh, malah kepentok sama sepupu sendiri. Seperti kisahnya kakak sepupu othor begitu. Jauh pergi merantau berharap bisa mengubah nasib dan mendapatkan jodoh dari luar, tak tahunya menikah dengan abang sepupunya sendiri. Miris, tetapi nyata!


Ck.


Sebelum sholat jum'at berlangsung, keduanya beristirahat dan makan siang bersama. Jangan tanya betapa kacaunya Zalimar saat ini.


Makeupnya luntur. Wajahnya sembab dengan mata memerah. Revan dengan setia menemani istrinya. Zalimar sedang melepas semua pakaiannya saat ini dibantu oleh seorang MUA.

__ADS_1


Revan memilih membuka bajunya di kamar mandi. Ia hanya membuka jas dan songket saja. Ia akan memakai pakaian itu sebelum pergi sholat Jum'at sebentar lagi.


Zalimar yang sudah selesai membersihkan makeupnya duduk lesehan di lantai dengan kaki tersulur. Revan tersenyum melihat itu. Ia mendekati istrinya dan ikut duduk lesehan bersamanya.


Wajah Zalimar pucat terlihat olehnya. Revan mengangkat tubuh semampai itu dan mendudukkannya di pangkuannya. Zalimar menatap kosong padanya. Revan mengelus lembut wajah ayu nan pucat itu.


"Sejak kapan?" tanya Zalimar pada Revan yang kini tersenyum padanya.


"Sejak abang SMA dan melanjutkan pesantren dulu. Setelah tamat pesantren, baru abang ke Amerika untuk kuliah selama tiga tahun. Di sana abang bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu," jawabnya menjelaskan apa pertanyaan Zalimar yang ia tahu jawabannya.


"Anggara Group?" tanya Zalimar lagi.


Revan tersenyum. Ia mengusap lembut surai hitam istrinya, "Perusahaan itu perusahaan opa yang hampir bangkrut. Perusahaan itu sebenarnya sudah tidak bisa berkembang lantaran orang di dalamnya melakukan korupsi semua hingga membuat perusahaan itu hampir bangkrut. Ketika abang kuliah di Amerika, ada seorang pengusaha merekrut abang untuk bekerja padanya. Dari beliaulah abang tahu, bagaimana caranya untuk membuat perusahaan bangkrut menjadi stabil kembali. Berkat sokongan modal darinya, abang bisa membuat perusahaan itu bangkit kembali. Di bawah kendalinya, abang berhasil membuat perusahaan itu maju kembali setelah dua tahun lamanya. Ketika itu, kuliah abang pun selesai dengan hasil yang memuaskan."

__ADS_1


"Opa sudah berjanji pada semua cucunya. Barangsiapa yang bisa membuat perusahaan itu maju kembali, maka beliau akan mengalihkan perusahaan itu menjadi atas nama orang yang sudah berhasil membuat perusahaan itu maju. Semua saudara abang sudah melkaukannya. Mereka diberikan kesempatan untuk bisa menyembuhkan perusahana itu. Akan tetapi, semuanya tidak ada yang berhasil. Hingga papa mengusulkan abang untuk bisa membuat perusahaan itu maju. Papa bilang, jadikan amal pahala untuk bisa menghidupi istri dan juga anak kita kelak. Utamakan tujuannya. Jika tujuannya mulia, maka Allah akan membantu, begitu kata papa. Abang setuju. Dan ya, perusahaan itu berhasil dalam waktu enam bulan saja. Selebihnya, penolong abang itu yang mengakuisi dan mengurusnya sebelum abang selesai kuliah."


__ADS_2