Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Sadar kembali


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak kecelakaan itu terjadi. Zalimar belum juga sadarkan diri. Revan terpaksa memanggil dokter khusus dari kota untuk menangani Zalimar yang katanya koma.


Revan shock bukan main ketika mengetahui keadaan istrinya. Betapa besar rasa bersalah itu hinggap di hatinya. Revan tidak makan dan minum demi menebus rasa bersalah pada istrinya.


Karena dirinya yang berpuasa tanpa makan dan minum seperti Zalimar, membuat tubuhnya sakit. Ia pun ikut terbaring di samping Zalimar yang kini masih koma.


Bagas berdecak sebal melihat sahabatnya itu. "Katanya mau menjaga istrinya! Ini, kok, malah ikutan sakit juga!" gerutu Bagas sambil duduk mendekati bangkar Revan yang kini berdempetan dengan Zalimar.


Papa Kenan terkekeh mendengar ucapan putra angkatnya itu. Ia menepuk lembut punggung Bagas.


"Istirahatlah. Biarkan mereka berdua bersama. Sudah satu minggu ini keduanya begini. Mereka saling merasakan sakit yang sama. Mama sedang dalam perjalanan. Kamu istirahatlah dulu," katanya pada Bagas yang diangguki patuh oleh putra angkatnya itu.


Ia merebahkan tubuhnya di bawah, di mana sebuah tilam busa yang mama Bella kirimkan untuk keduanya selama menginap di sana. Hari ini, mama Bella dan ummi Alzana akan menjenguk mereka.


Selama seminggu ini mereka tidak bisa keluar karena wanita itu sengaja memantau keadaan keluarga Revan untuk mengetahui di mana Revan dan Zalimar yang mendadak hilang tanpa kabar.


Papa Kenan sengaja menutup akses wanita itu untuk bisa menemukan anak dan menantunya. Kejadian ini sama seperti dirinya dulu. Beliau menghela napasnya. Walau dulu beliau sengaja di tekan hingga hampir terjebak, maka kali ini Revan putra ke empatnya sudah terjerat wanita ular yang ternyata menjadi dalang kecelakaan yang Damar alami lima belas tahun yang lalu.


Beliau sudah bekerja keras menutupi akses kedua anaknya dari wanita itu selama seminggu ini hingga keberadaan keduanya tidak terendus walau kini wanita itu berada dekat dengan mereka.


Papa kenan sudah mengatakan pada pihak pesantren jika keduanya sedang dalam bahaya saat ini. Pemilik pesantren itu memakluminya. Ia pun berusaha sekuat yang ia bisa untuk menutup rapat tentang kejadian kecelakaan yang terjadi satu minggu yang lalu dihadapan pesantren miliknya. Ia sudah mengatakan pada santri yang menjadi saksi kejadian nahas itu untuk tutup mulut dan mereka menyanggupinya karena dua orang itu dalam keadaan bahaya.

__ADS_1


Mereka bekerja sama untuk menolong para perawat dan dokter yang mengurus kedua orang itu yang kini belum sadarkan diri. Papa Kenan menatap lekat pada putranya itu.


"Malang sekali nasibmu, Nak. Papa pikir, hanya papa yang memiliki masa lalu kelam. Tapi, ternyata, kamu malah lebih menyedihkan saat ini. Semoga Zalimar bisa memahami dan memaklumi apa yang kamu lakukan. Papa tidak bisa menolongmu jika ia menolakmu lagi untuk yang kesekian kalinya," lirihnya menatap sendu pada putra dan menantunya itu.


Ia berlalu dari sana untuk menunggu mama Bella yang sebentar lagi akan tiba. Beliau keluar dari ruangan itu meninggalkan Revan dan Zalimar yang kompak mengerjab karena mendengar semua apa yang pemuda paruh baya itu katakan baru saja.


Keduanya menatap nanar pada pintu yang tertutup itu. Revan segera beralih pada Zalimar yang membuatnya sontak terkejut. Ia sampai terduduk karena terkejut melihat bola mata hitam legam milik Zalimar menyorot datar dan dingin padanya.


Revan mengerjabkan matanya. Ia mengucek mata itu berulang kali. Ia melihat dan menggosoknya lagi hingga berulang kali. Perbuatanya itu membuat Zalimar terkekeh pelan. Revan tertawa bahagia.


"Hahahaha.. Istriku sudah sadar kembali ternyata!Alhamdulillah, ya, Allah!" serunya senang sambil menunduk dan memeluk erat tubuh kaku Zalimar.


Wanita muda itu semakin terkekeh. Ia geli merasakan bisikan lirih di telinganya akibat perbuatan Revan.


Revan menatap padanya dengan mata berkaca-kaca. Buliran bening itu kembali menetes di pipinya. Revan tertawa bahagia melihat Zalimar kembali sadar dan tersenyum padanya.


"Hiks.. Maaf, abang salah. Bukan maksudku berkata seperti itu. Itu hanya ucapan spontan yang sengaja abang ucapkan untuk membuat wanita itu tidak curiga padaku. Abang salah, abang akui itu. Tapi, tapi, abang sengaja melakukan itu untuk mencari tahu sebuah rahasia yang ia sembunyikan," lirih Revan kembali berbaring di bangkarnya dan memeluk erat tubuh Zalimar yang masih berbaring di bangkar.


Zalimar mengangguk lirih. "Aku tahu. Abang nggak salah. Aku udah dengar semuanya pembicaraan kalian. Aku pikir, abang benar-benar melakukan itu. Tapi, ternyata," ucapannya berhenti ketika mulutnya di tutup oleh telunjuk Revan.


Pemuda itu menggeleng. "Nggak. Nggak akan pernah seperti itu, Sayang. Kamu cintaku. Kamu segalanya untukku. Sedari dulu hingga nanti. Untuk apa abang pulang dari jauh langsung menuju ke sini? Untuk apa coba? Hem?" jawabnya lirih di telinga Zalimar.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk dan tersenyum padanya. Ia mencium tangan Revan yang kini berada di pipinya. Revan terharu.


Ia mengecup kening Zalimar dnegan lembaut yang membuat wanita itu memejamkan kedua matanya.


"Maaf, jika aku sempat salah paham sama abang. Maaf, aku salah kira. Maaf-,"


"Ssstt.. Udah. Nggak apa-apa, Yang. Bagi abang, bisa melihatmu sadar saja itu sudah cukup. Sekiranya kamu masih marah dan kecewa, abang akan terus berusaha untuk menjelaskannya padamu dan menunjukkan bukti yang kami kumpulkan untuk abang perlihatkan padamu. Kamu segalanya untukku. Tidak mungkin suamimu ini mengkhianati dirimu. Abang sayang padamu, Zalimar! Sangat menyangimu," balasnya memotong ucapan Zalimar yang kini kembali terharu dan menitikkan air matanya.


"Aku juga sangat menyayangimu, Bang Revan." balasnya berbisik lirih dihadapan wajah suaminya yang kini begitu dekat dengannya. Mata pemuda itu yang semula terpejam kini terbuka seketika.


"Apa katamu? Bisa di ulang?" pintanya pada Zalimar yang kembali terkekeh.


Ia mengangguk dan tersenyum lagi. "Iya, aku juga menyayangimu, Suamiku. Sangat menyayangimu. Entah sedari kapan aku pun tak tahu, yang jelas, ketika aku tahu kamu mengangkat telepon pada tengah malam itu membuatku tidak menyukainya. Belum lagi kamu juga tidak menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Dan kemarin-,"


"Seminggu yang lalu, Sayang! Udah lewat!" potong Revan tertawa yang membuat Zalimar terkejut.


"Minggu lalu?"


Revan mengangguk masih tertawa menatap pada istrinya.


"Yah, berarti udah kelewatan, dong, tiket pesawatnya?" keluhnya mengingat tiket pesawat yang ia pesan secara online.

__ADS_1


Revan terkekeh melihat wajah cemberut Zalimar. Ia mengecup singkat pipi pucat itu. Zalimar mendelik, ia tertawa lagi.


"Biarkan saja hangus. Sepuluh tiket pesawat bisa abang belikan untukmu. Setelah kamu sembuh, kita akan menikah ulang dan akan melakukan bulan madu ke Bali. Abang sudah menyiapkan semuanya. Niat hati setelah masalah itu selesai, abang akan memberikan kejutan ini padamu. Tapi, ternyata, malah seperti ini yang kita dapat. Tapi, tak apa. Abang bersyukur dengan kejadian ini. Karena kamu kecelakaan, kamu bisa mengetahui semuanya. Abang sangat bersyukur bisa menikah denganmu, Zalimar!" ucapnya yang diangguki oleh Zalimar.


__ADS_2