Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Kamu penyebabnya!


__ADS_3

Damar melepas tangan itu seketika. Tubuhnya tersentak kala ucapan itu kembali terngiang di telinga dan otaknya. Ia menatap nanar pada Zalimar yang kini sudah berlalu meninggalkan semua orang.


"Menikahlah dengan seseorang yang kamu cintai, maka kamu pasti akan bahagia. Akan tetapi, jika kamu menikahi laki-laki yang sudah melabuhkan hatinya pada wanita lain, kamu akan terluka nantinya!"


Damar jatuh terduduk. Ingatan itu tiba-tiba merasuki hati dan pikirannya. Telinganya berdenging kuat. Bunda Putri dan ayah Jerry segera memeluk putra sulungnya itu. Zianti ingin kesana, tapi tangannya di cekal erat oleh ummi Zee yang kini menatap tajam padanya.


"Hentikan Zianti Rahayu! Kamu akan menyesal jika terus memaksakan kehendakmu!"


Deg!


Deg!


Jantung Zianti mencelos mendengar gumaman sang ummi di telinganya. Ia menatap Damar yang kini menatap kosong pada pintu yang sudah tertutup itu.


Acara lamaran itu kembali gagal. Seperti yang selama ini terjadi, hal ini kembali terulang lagi. Akan tetapi, bedanya jika Damar saat ini jatuh pingsan karena berusaha mengingat sesuatu yang tertutup di otak kecilnya akibat kejadian lima belas tahun yang lalu.


Semua keluarga pamit untuk merawat Damar. Mereka begitu khawatir dengan keadaan Damar yang tidak sadarkan diri setelah mendengar ucapan Zalimar tadinya.

__ADS_1


Kini tinggallah dokter Firda dan Zianti di sana. Ummi Zee menatap tajam dan datar pada putrinya itu.


Zianti menunduk ketakutan.


"Apakah pernah selama ini saya mengajarkan kamu untuk merebut yang bukan hakmu?! Apakah saya sebagai ibumu pernah menyuruhmu untuk menyakiti saudaramu sendiri? Huh?!" sentak Zee dengan suarra melengking yang membuat monitor di belakangnya berdetit kencang.


Dokter Firda terkekeh, ia menduga, jika Abi Zidan terkejut mendengar sentakan istrinya baru saja.


"Kenapa kamu begitu sulit untuk diatur? Kenapa di otak kamu itu hanya ada Damar? Lupakah kamu, kalau kamulah penyebab dirinya demikian? Huh?!" sentak ummi Zee lagi.


Ia sangat geram pada putri keduanya itu.


"Jika bukan karena kakakmu, maka Damar sudah mati saat ini!"


Deg!


Tubuh Zianti bergetar ketakutan. Umminya jika sudah mengamuk begitu menyeramkan. Ia semakin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Selalu saja begini! Dulu dengan Putra! Sampai pemuda itu kabur karena ulahmu yang egois! Setelahnya, Fahri! Dia pun pergi setelah tidak tahan akan kelakuan kakakmu yang disebabkan oleh dirimu! Sebenarnya, kamu itu kenapa? Huh?! Kamu membencinya? Iya?!" sentaknya untuk yang kesekian kalinya.


Zianti terisak. Ia gadis yang lembut, tetapi sangat manja. Apapun yang ia inginkan, harus terpenuhi. Sedikit di sentak, dirinya akan menangis. Berbeda dengan Zalimar yang sama persis seperti umminya dan abi Zidan. Zalimar tidak akan lemah begitu saja jika tanpa ada yang memicu sakit hatinya.


Kelemahannya hanya satu, yaitu Damar Prawita. Lelaki yang sedari kecil sudah dijodohkan dengannya hingga saat ini. Akan tetapi, karena kejadian masa lalu yang begitu mecekam, membuat Zalimar menjauhi pemuda itu.


Entah apa yang terjadi, hanya dirinya dan juga saudara kembarnya yang tahu.


"Kamu tahu semuanya, tetapi kamu berperilaku tak tahu apapun di saat bersama mereka. Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu begitu membenci kakakmu? Apa salahnya padamu, hem? Pernahkan dia menyakitimu? Pernahkah dia merebut milikmu? Pernahkah dia memukulmu hingga kamu begitu sakit hati dengannya?"


"Ummi merasa menyesal telah melahirkan putri seburuk dirimu! Sekiranya saya tahu begini jadinya, maka saya tidak akan pernah melahirkan anak perempuan berhati iblis seperti kamu! Menyesal saya!"


Deg!


Deg!


Tubuh Zianti semakin bergetar ketika mendengar kalimat penyesalan dari bibir umminya.

__ADS_1


"Semua ini karena salahmu! Jika bukan kamu, maka semua ini tidak akan terjadi! Pergi! Dan jangan tunjukkan wajahmu lagi dihadapan saya dan suami saya! Karena dia, maka kamu masih hidup saat ini! Jika tidak, kamu sudah saya bu nuh sedari dulu! Pergi! Saya muak melihat putri seperti kamu yang tidak pernha berubah! Apakah benar kamu, putri saya?!


Lagi dan lagi Zianti tergugu. Ia semakin menunduk. Dokter Firda hanya bisa menghela napasnya saja.


__ADS_2