Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Sakit hati


__ADS_3

Zalimar berjalan dengan langkah gontai. Tubuhnya berulang kali terhuyung ketika pengunjung restoran dan juga pelayan resto itu menabrak dirinya.


Air matanya terus berjatuhan tanpa di bisa ditahan. Sakit sekali hatinya ketika mengetahui fakta yang sesungguhnya. Ternyata, Revan menikahinya karena permintaan kedua orangtua mereka.


Hal yang baru Zalimar tahu jika kedua orangtuanyalah yang meminta sepupunya itu untuk menikahinya. Zalimar tidak menyangka akan semua itu. Ia sakit hati akan semua perkataan Revan tadi.


Baru saja ia akan mengambil keputusan untuk bertahan, Zalimar malah harus merasakan sakit hati yang tak terkira. Bukan maunya menerima pernikahan itu. Bukan juga keinginannya untuk menjadi istri Revan.


Tega-teganya lelaki itu masih bisa mengucapkan sayang pada wanita lain selain dirinya. Jelas saja Zalimar sakit hati. Tadi, Zalimar sudah memutuskan ingin pergi, menjadi urung setelah mendengar ceramah seorang ustadzah kondang tentang seorang suami.


"Suami itu imam kita. Dialah nantinya yang akan membimbing kita menuju ke jalannya Allah. Jadi, bagi seorang istri yang sudah terikat dengannya melalui ijab qobul, maka harus taat dan patuh padanya. Sebab, semua tanggung jawab dari seorang ayah sudah berganti padanya. Dialah yang berhak ibu-ibu patuhi. Ingat, ridho Allah ada bersamanya. Kalian masuk surga karena ridhonya! Dan juga kedua orangtuamu bisa masuk surga atau tidak, semua itu bergantung pada kalian seorang istri! Benar, jika dia baik harus kita patuhi apapun yang ia katakan. Akan tetapi, bila ia bermasalah atau tidak baik, bagaimana? Nah, ini yang harus ibu-ibu tahu. Seburuk dan sejahat apapun suami ibu, ia tetaplah suami yang harus ibu patuhi dan hormati. Semua itu terjadi karena izin Allah. Kenapa demikian? Karena memang hanya Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan merasa berkecil hati jika ibu-ibu nantinya mendapatkan suami yang tidak baik sesuai harapan ibu. Semua itu sudah menjadi keputusan mutlak yang mau tidak mau harus ibu ikuti! Jika dia membawa ibu-ibu ke jalan yang benar, maka turuti. Hadiahnya, surga untuk ibu. Akan tetapi, jika ia mengajak ibu ke jalan yang tidak baik, cukup menegurnya secara halus saja. Jangan ikuti maunya. Tetapi, cobalah menuntunnya ke arah yang lebih baik. Sekiranya tidak bisa juga, maka serahkan semua itu pada Allah. Doakan dia agar mendapat hidayah kelak. Ingat, apapun yang ibi dapatkan di dalam hidup ini, syukurilah! Semua itu merupakan takdir Allah! Karena Allah dan juga sebab musababnya dari Allah. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk hambanya! Wallahu'alam!"


Zalimar tercenung sejenak memikirkan hal itu. Benar! Semua itu karena kehendak Allah. Atas izin Allah, maka ia menikahi Revan. Sudah sepatutnya ia mensyukuri mendapatkan Revan sebagai suaminya. Jika ia salah jalan, maka kewajiban Zalimarlah yang harus menuntun suaminya itu secara pelan-pelan.


Akan tetapi, ini. Zalimar malah memilih pergi. Zalimar merasa tercubit dengan ceramah ustadzah kondang tadi. Zalimar malu akan dirinya sendiri yang berusaha lari dan bukannya menyelesaikan masalah.

__ADS_1


Sejak saat itu ia kembali sadar dan bertekad untuk menerima Revan. Entah sejak kapan pemuda itu sudah mulai merasuki hatinya. Mungkin sudah sedari mereka remaja dulu? Entahlah. Zalimar tidak bisa memastikannya. Yang jelas, setelah ini ia akan menerima Revan apa adanya.


Zalimar tergugu mengingat keputusannya yang membuatnya terluka dan sakit hati karena ucapan Revan pada kekasihnya tadi. Zalimar hampa. Hidupnya terasa kosong seketika.


Tidak cukupkah ia terluka karena Damar saja? Kenapa harus ia rasakan ketika ia sudah menjadi istri dari seorang Revan? Kenapa ia harus terluka lagi di saat hatinya sudah mulai menerima pemuda itu?


Kenapa?


Zalimar tersedu lagi. Motor yang ia lajukan semakin melambat seiring air mata yang terus bercucuran. Zalimar tidak menyadari kemana arah motor itu melaju. Ia sudah melewati sebuah kawasan sepi penduduk. Zalimar tetap saja melajukan motornya. Laju motor yang begitu pelan mmebuat ia bisa menagis sepuas hatinya.


Semakin jauh semakin dalam. Ia tidak sadar kemana tangan dan kakinya membawa dirinya saat ini. Yang ada di pikirannya adalah suaminya, Revan. Begitu tega pemuda itu padanya. Baru saja ia mencoba untuk menerima kehadirannya, malah ia harus terluka sebelum kembali padanya.


Suara hantaman benda keras dan pohon itu begitu keras terdengar. Orang-orang yang sedang berkumpul di sana terlonjak kaget. Mereka melihat di mana suara itu berasal.


Spontan saja mereka semua berlari. Mereka mendekati tempat Zalimar yang kini terpental hingga ke tengah jalan. Dari kejuahan ada sebuah mobil melaju cepat ketika melihat kerumunan orang begitu ramai di sana.

__ADS_1


Ia turun dengan tergesa dan mendekati motor itu. Tubuhnya limbung ke samping.


"Zalimar!" teriaknya membuat semua orang menoleh padanya.


"Loh?" mereka menunjuk pemuda yang kini menangis melihat keadaan Zalimar yang terluka parah di bagian dahi dan juga pelipisnya. Darah mengucur dengan deras. Tangan Zalimar juga mengeluarkan darah yang lumayan banyak akibat terluka karena gesesekan aspal saat dirinya jatuh terpental.


Pemuda itu segera membawa istrinya masuk ke dalam kawasan pesantren setelah seorang ustadzah yang mengenali pemuda itu menyuruhnya membawa masuk Zalimar.


Di dalam pesantren itu lengkap fasilitasnya. Ada sebuah klinik yang memiliki dokter di sana. Zalimar segera ditangani. Pemuda itu setia menunggunya di sana.


Tanpa berbicara dan berkata apapun karena dokter melarangnya berbicara apapun saat Zalimar diobati kalau ia mau menemani Zalimar. Pemuda itu menurut. Ia tetap diam dengan air mata menganak sungai.


Dahi Zalimar mendapat lima jahitan. Pelipisnya yang robek pun demikian. Tangan Zalimar terklilir bagian kiri dan sekarang sedang di gips. Pemuda itu menatap nanar pada tubuh Zalimar yang mulus tanpa cela harus mengalami banyak luka karena dirinya.


Pemuda itu semakin tersedu di dalam diamnya. Ia tak mengeluarkan suara. Akan tetapi, air mata yang keluar sebagai tanda jika ia begitu terluka dan merasa bersalah saat ini. Beruntungnya sang sahabat cepat tanggap. Jika tidak, ia pasti kehilangan jejak Zalimar saat mencarinya tadi.

__ADS_1


"Sudah selesai Tuan Revan. Sebaiknya Anda juga bersih-bersih dulu. Pihak pesantren akan menyediakan baju Anda!" kata dokter wanita itu padanya.


Revan mengangguk saja dengan amaa masih menatap lekat istrinya. Ya, pemuda itu adalah Revan suami Zalimar. Ia mengikuti Zalimar hingga ke tempat itu melalui GPS yang ia pasangkan di ponselnya tengah malam tadi.


__ADS_2