Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Sudah mahram


__ADS_3

Semua keluarga keluar dari ruangan itu dan berkumpul di kantin rumah sakit karena ingin menjamu tamu dadakan mereka itu.


Kini di dalam kamar VVIP itu tinggallah sepasang pengantin batu yang batu saja menikah secara dadakan.


Zidan menatap lekat pada Zee. Begitu pun sebaliknya. Zidan menarik lembut lengan Zee untuk duduk di bangkarnya.


Zidan meletakkan tangannya di ubun-ubun Zee yang masih tertutup hijab sembari berdoa tentang kebaikan sang istri untuk dirinya dan juga keburukan sang istri yang akan muncul setelah mereka bersatu nantinya.


Setelah selesai dengan doanya, Zidan menarik Zee untuk mendekat. Untuk pertama kalianya ia mengecup kening seorang wanita selain Mama Rani dan adik bungsunya, Kezia yang kini tinggal di Bandung dengan saudara kembarnya.


Zee memejamkan matanya saat Zidan mengecup keningnya untuk pertama kali. Buliran bening menetes di pipi yang tertutup niqob itu.


Zidan tersenyum. Ia menyeka air mata itu. "Jangan menangis.. Semua yang terjadi di dalam kehidupan kita itu sudah menjadi takdir Allah. Kita sudah di persatukan dalam keadaan yang seperti ini karena ini merupakan takdir kita berdua. Sekarang, kamu sudah menjadi mahram Abang. Kamu boleh menyentuh tubuh ini kapan pun kamu mau. Baik itu ketika sehat ataupun ketika dalam keadaan seperti tadi."


Zidan menjeda ucapannya saat melihat Zee semakin tersedu. Zidan menarik Zee ke dalam pelukannya.


Zee semakin menangis. Zidan mengelus lembut tubuhnya. "Sssttt.. Sudah. Jangan membuat Abang merasa bersalah karena sudah menikahimu secara dadakan?" goda Zidan yang dihadiahi tepukan lembut di punggung kekarnya.


Zidan terkekeh. Puas sekali dirinya bisa menggoda Zee seperti itu. Zee terus saja memukul tubuh kekarnya.


Zidan terkekeh saja. Puas dengan memukul tubuh suaminya, kini Zee duduk tegap dihadapan Zidan yang kepalanya masih di balut perban.


Ia menatap lekat wajah tampan nan rupawan mirip Alamarhum Zahra itu. Tiba-tiba saja pipinya merona.

__ADS_1


Ia menunduk malu.


Zidan tertawa melihat wajah sang istri malu kepadanya karena sudah memeluknya tadi. Zidan sangat paham tentang kejadian yang baru saja mereka alami.


Ia tertawa dengan tangan Zee terus berada di genggaman hangatnya.


"Diem ih!" sungut Zee


"Kenapa?? Abang suka melihat wajahmu yang merona seperti itu!" Zidan tertawa lagi.


Zee bertambah malu. Selama ia hidup hanya Zidan lah yang sudah berhasil menggoda dan membuatnya malu sekaligus senang dalam waktu satu hari saja.


Zee berulang kali memukul ringan lengan Zidan. Tetap saja pemuda tampan itu masih saja tertawa.


"Disini saja.. Banyak hal yang ingin Abang bicarakan denganmu. Tetap disini. Temani Abang. Abang ngantuk sayang.."


Deg, deg, deg..


Zee mematung lagi dengan karena Zidan memanggilnya dengan sayang. Jantung keduanya berdebar tidak karuan.


Detak jantung yang seirama dengan milik Zee. Zidan sangat menyukai irama jantung itu. Begitu pun dengan Zee.


Ia memposisikan dirinya dengan memeluk Zidan. Toh, tidak ada yang salahkan dalam hal itu?

__ADS_1


Zee itu istrinya.


Sudah halal untuk ia sentuh. Begitu pun dengan Zee. Tubuh Zidan sudah halal untuk ia peluk seperti guling.


Untuk pertama kalianya Zee merasakan kehangatan tubuh seorang pria selain Abi, saudara kembar serta adik-adiknya.


Pelukan dan tubuh itu sangat nyaman. Zee semakin betah disana. Ia semakin memeluk erat tubuh kekar itu.


Zidan pun tak kalah erat memeluk tubuhnya. Hal yang baru pertama ia rasakan saat ini. Entah kenapa, pertama kali melihat Zee ia sudah menyukai Zee saat itu juga.


Ada rasa yang tidak ia tahu tentang dirinya. Yang jelas, Zidan sudah menyukai nya saat pertama kali bertemu.


"Hem.. Nyaman nya.. Sama seperti pelukan Abi dan dua saudaraku yang lainnya.." lirih Zee dengan mata terpejam.


Bibir itu terus menyungginkan senyum manis semanis madu. Zidan terkekeh mendengar ucapan Zee.


"Kalau kamu merasa nyaman, maka tidurlah. Abang pun akan tidur sebentar sebelum masuk waktu maghrib,"


"Hemmm.." sahut Zee dengan mata terpejam.


Dua orang paruh baya di depan pintu ruangan mereka terkekeh kecil melihat kedua anaknya itu.


"Kayaknya kita bakalan punya cucu cepat ini, Mbak Rani!" imbuh Ummi Ira yang disambut gelak tawa dari Mama Rani.

__ADS_1


__ADS_2