Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Kampret sialan


__ADS_3

Hahahaha..


Keduanya masih saja tertawa hingga membuat dokter dan perawat dirumah sakit itu terkekeh melihat tawa renyah dari keduanya yang mereka tahu jika keduanya akan menikah minggu depan karena undangan sudah di sebar.


"Kalian ini ya. Sangat cocok gitu loh. Kenapa nggak dulu Abang jodohkan aja keduanya??" goda Zee yang membuat kedua orang itu mendelik tidak terima dengan ucapan Zee.


"Si kampret sialan ini yang jadi suami aku, Zee?? Kamu nggak salah?? Yang ada aku bakalan sama kayak dia! Kampret sialan!" Ketus Putri dengan wajah masih masam melihat Jerry.


Jerry pun demikian. "Eh, Nini lampir! Emang elu pikir gue mau ape ame lu? Kagak mau gue!" balas Jerry yang semakin membuat Zee dan Zidan tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Ape lu?!" sengit Jerry pada putri.


"Lu yang ape?!" balas Putri juga tak kalah sengit dari Jerry.


Zee dan Zidan sudah tidak sanggup tertawa lagi. Keduanya sakit perut saat ini. Zee spontan saja berlari ke kamar kecil yang berada di dekat ujung taman karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil karena terus tertawa.

__ADS_1


Zidan masih saja tertawa sambil menepuk-nepuk lembut bahu Jerry yang semakin kesal padanya.


"Ih Abang! Jangan di ketawain napa?!" sewot Jerry pada Zidan.


Zidan tertawa lagi. Ia tidak bisa berbicara saat ini. Sama seperti Zee yang kebelet, Zidan pun sama. Ia pun berlari menuju ujung taman dimana Zee masih saja dengan terkekeh-kekeh mengingat Putri.


Wussshhh..


"Eit! Abang kenapa? Hahaha.." Zee tertawa lagi melihat Zidan juga sama sepertinya.


Lucu sekali melihat kedua orang itu tiap kali bertemu pastilah ribut seperti tadi.


Zee berjalan perlahan mendekati keduanya yang kini sedang berdebat.


"Ape lu!"

__ADS_1


"Lu yang ape! Dari pertama elu ketemu gue. Elu selalu saja ngatain gue nini lampir! Muka cantik begini dikatain lampir! Eman elu kampret sialan!"


Zee terkekeh lagi. Jerry tertawa sinis melihat putri. "Sejak kapan elu cantik kayak artis?! Yang ada muke lu itu nini-nini. Nini lampir selalu masam dan keriput saat melihat gue. Memangnya gue salah ape sih ame elu?? Heh! Udah tahu nini. Masih saja sok belagu lu!"


Putri yang dikatakan belagu, sontak saja bangkit dan menendang tulang kering Jerry hingga membuat pemuda tampan itu meringis menahan sakit.


"Kau...!"


"Apa! Mau lagi lu?! Sejak pertama kali gue ketemu elu, hidup gue selalu nyungsep! Selalu aja ada masalah yang gue dapatkan. Kenapa sih gue harus sekelas sama orang kampret kayak elu ini?? Heh?! Dasar kampret, kampret, kampret sialan!!" seru Putri semakin geram pada Jerry yang kini sedang menahan sakit ditulang keringnya.


"Jika bukan elu cewkl, udah gue tonjok tuh muka! Sakit nih tulang kering gue! Kalau patah, mau elu ngegantiin kaki elu yang jadi kaki gue? Heh?!"


"Ogah gue! Kalau kaki elu patah, senang pun gue! Nggak akan ada yang jegal gue lagi kalau lagi jalan! Si kampret sialan!" ketus Putri dengan segera berlalu meninggalkan Jerry yang menganga mendengar ucapannya.


"Woy! Lu gila ya? Sejak kapan gue jegal kaki elu! Yang ada itu elu yang sering jegal gue!" balas Jerry yang membuat Zidan, Zee lagi dan lagi menganga melihat pertengkaran keduanya.

__ADS_1


__ADS_2