
Revan tersenyum mendengar pertanyaan beruntun dari istrinya. Ia menarik tangan Zalimar hingga menubruk dada bidangnya.
Zalimar yang terkejut, meronta kuat. "Tenanglah, abang akan jelaskan. Akan tetapi, biarkan dulu suami sekaligus sepupu kamu ini tidur. Sedari abang tiba, abang belum istirahat. Tubuh abang lemas, Dek. Hoaamm.. Ngantuk!" celetuknya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zalimar yang membuat bulu halus di tubuh wanita itu meremang.
"Tapi, Bang-,"
"Abang tahu siapa kamu dan siapa abang, Sayang. Abang tahu batasan. Abang tidak akan menyentuhmu jika kamu tidak halal untukku!"
Zalimar terdiam. Ucapan Revan baru saja memotong cepat ucapannya, membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Sudah, ayo, kembali ke ranjang. Abang masih ngantuk. Kalau kamu ingin bersih-bersih atau bekerja, silahkan. Abang harus istirahat dulu. Pusing, Dek. Abang mabuk parah di dalam pesawat!" keluhnya dengan wajah merengut masam karena mendengar Zalimar tertawa meledek dirinya.
Revan berdecak kesal. "Jangan meledek abang, Dek! Kalau kamu hamil, abang pastikan, kamu yang bakalan mabuk begitu!" ketusnya yang membuat pipi Zalimar memanas seketika.
"Ishh..." desis Zalimar seraya berlalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Bibirnya terus menyunggingkan senyum manis.
Ada rasa lain ketika Revan ada di dekatnya. Ia merasa senang dan bahagia ketika Revan ada bersamanya.
Revan tahu itu. Ia kembali terlelap sambil memeluk guling yang masih menyisakan bau Zalimar di sana. Revan terlelap begitu cepat karena mencium bau harum dari bekas rambut Zalimar di bantal yang saat ini ia tiduri.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar mandi, Zalimar sedang menatap kaca westafel dengan bibir terus tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya ketika mengingat kelakuan Revan baru saja.
"Ck. Jika dia sudah kembali maka aku harus siap-siap menghadapi keusilannya! Ck. Mama, Papa! Kenapa pula kalian memiliki anak sepertinya?" gumam Zalimar terkekeh sembari menyalakan shower dan memulai ritual mandinya.
Lima belas menit kemudian, ia keluar dengan handuk melilit tubuhnya. Tanpa ragu atau apapun itu, ia keluar begitu saja. Ia mengambil pakaiannya dan menggenakannya di sana tanpa takut Revan mengintipnya. Entah kenapa, ia begitu percaya pada pemuda tampan lebih tua tiga tahun darinya itu. Setelah selesai, ia berbalik melihat Revan yang masih terlelap dengan tenang.
Wajah tampannya ketika terlelap semakin terlihat tampan. Rahang kokoh, bibir tipis, alis mata hitam dan sedikit lentik menambah kadar ketampanannya. Jangan lupakan hidung macungnya itu mirip papa Kenan, suami dari mama Bella, adik kandung seayah dengan Eyang Ira dan Kakek Lana serta Oma Annisa.
Entah apa yang terjadi di Bandung sana tentang kedua tante dari umminya itu. Zalimar terkekeh melihat Revan tidur dengan mulut menganga. Zalimar mendekati wajah itu dan mengecup keningnya.
"Sayang, Zalimar. Jangan pergi tinggalkan abang. Abang akan hancur tanpamu," gumam Revan yang terdengar jelas oleh Zalimar.
Ia menyampirkan jas putihnya dan keluar dari kamar itu. Pintu terturtup rapat. Seutas senyum manis terbit dari bibir Revan. Ia semakin erat memeluk bantal milik istrinya.
Sementara itu di Bandung sana, mama Bella sedang berusaha menenangkan suaminya dengan cara olahraga pagi. Sebab kemarahan laki-laki dewasa itu tidak main-main saat ini. Hanya dirinya yang bisa meredamnya.
Keduanya berpeluh bersama setelah selesai membuat kamar mereka bagai kapal pecah akibat amukan singa jantan baru saja. Mama Bella terkekeh melihat napas memburu dari suaminya, papa Kenan.
"Sudah tenang? Sudah lebih baikkan? Hem?" ledeknya memancing suaminya untuk terkekeh.
__ADS_1
Benar saja, pemuda tampan semakin dewasa itu terkekeh karena ulah istrinya. Ia memeluk mama Bella dengan erat.
"Kenapa kamu selalu bisa membuat abang tenang, Sayang? Hem? Ajian apa yang kamu berikan hingga diri ini patuh padamu dalam sekali kedip saja?" jawabnya membalas ucapan mama Bella yang kini tertawa mendengar ucapan suaminya itu.
"Ajian? Ajian apa? Istrimu ini tak punya ajian apapun itu! Aku hanya punya cinta yang tulus untukmu!" jawabnya apa adanya.
Papa Kenan terkekeh. "Hem, baik. Siang ini kita kembali ke Medan. Abang sudah rindu ingin bertemu dengan menantumu itu. Dasar bocah sialan! Kita menunggunya hampir tiga jam di bandara, dianya malah pulang ke Medan langsung ke Aceh! Bocah semprul! Edan! Sialan!" umpatnya berbagai macam yang membuat mama Bella tertawa keras.
Geli sekali hatinya ketika melihat amarah suaminya itu meletup-letup ketika putra ke ematnya tidak pulang menemui mereka, melainkan langsung pulang ke Medan untuk menemui adik kecilnya, Zalimar.
"Hahaha.. Sudah. Ayo, bersih-bersih dulu. Setelah ini, kita bersiap pulang ke Medan. Aku juga rindu kedua abangku yang lebih memilih tinggal di rumah ayah dan mak." Ucapnya sendu di akhir kalimatnya.
Papa Kenan yang tahu segera memeluk istrinya lagi. "Jangan bersedih. Mak udah tenang di sana. Mak dan ayah, mereka sudah bersatu di sana. Kita yang ditinggalkan jangan berduka berlarut-larut. Tak baik!" peringatnya pada mama Bella yang tersenyum lirih padanya.
"Iya, bang. Aku tahu. Ayo, mandi besar dulu!" balasnya sambil bangkit dan melilitkan handuk di tubhnya di ikuti oleh papa Kenan.
"Hoaam.. Ngantuk, Sayang! Masa' iya kita harus nyusl bocah semprul itu, sih? Abang ngantuk, loh! Hoaamm.." ucapnya menguap beberapa kali.
Mama Bella terkekeh. "Abang bisa istirahat di mobil dan di pesawat, kok. Ayo, pesawatnya landing sebentar lagi!" katanya segera menarik papa Kenan yang terasa malas-malasan untuk mandi.
__ADS_1
Keduanya mandi bersama. Setelah selesai, keduanya segera menuju ke bandara diantarkan oleh supir. Mereka akan menyusul Revan ke aceh, tetapi sebelumnya, mereka harus ke Medan dulu. Mereka ingin menjenguk kedua abang kandung mama Bella dan juga ingin ziarah di makam kedua orangtua mama Bella dan Oma Rani yang sudah lama berpulang. Hanya tersisa opa Reza saja yang sudah sepuh saat ini.