
"'Jika ummi ingin melihat kami berdua bahagia, maka lepaskan Zianti ikut dengan suaminya. Jika tidak, maka salah satu dari kami yang akan pergi!"
Masih teringat jelas ucapan Zafran kemarin malam sebelum mereka mendatangi resort milik Revan. Ummi Zee tidak tahu harus memilih yang sama. Dua-duanya putrinya yang ia kandung selama sembilan bulan dan ia lahirkan dengan taruhan nyawa.
Beliau tidak bisa memilih salah satunya. Beliau berdiri terpaku ketika melihat Zianti terkapar dengan darah mengalir deras dari balik gamisnya. wanita paruh baya itu menatap lekat pada putri keduanya yang kini terbaring lemah setelah di kuret tadi pagi.
Ya, Zianti hamil dua bulan. Hanya Zalimar yang tahu. Sebab ia pernah melihat jika Zianti memeriksakan dirinya ke rumah sakit bersama seorang pria yang telah menolongnya ketika pingsan di jalan waktu itu.
Zalimar berbohong mengatakan jika itu janin pria lain. Zalimar terpaksa memberikan pelajaran dengan cara itu. Sebab Zianti tidak akan pernah merasa puas dan cukup dengan semua yang ia miliki.
Hal ini sudah ia bicarakan dengan Zafran dan juga Revan. Hanya kedua orang itu yang tahu rencana Zalimar seperti apa. Revan mendukung istrinya apapun itu asalkan baik untuk keduanya. Hanya saja, hal yang tidak mereka duga ialah Zianti kalap hingga menyeret Zalimar seperti itu.
Rasa sakit di kepala tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat itu. Ia begitu shock dan terpukul melihat Zianti tidak seperti dirinya lagi. Zianti berubah menjadi orang lain. Zianti lebih ganas dari yang ia kira.
__ADS_1
Zalimar terpaksa menendang perut Zianti karena melihat pergerakan adiknya itu ingin menghunusnya dengan senjata tajam. Zalimar tidak berniat untuk melakukan itu. Ia ingin menendang tangan yang menyembunyikan pisau di balik hijabnya. Akan tetapi, karena tendangan itu begitu kuat, membuat Zianti terjatuh dan perutnya membentur batu yang ada di sana.
Zalimar sangat merasa bersalah akan itu. Namun, apa yang ia lihat dan degar setelahnya, membuat darahnya semakin mendidih. Zianti tidak pernah berubah menurutnya. Jadi, jangan salahkan dirinya jika melakukan kekerasan seperti itu.
Sudah cukup Zalimar terus ditindas oleh adik kembarnya itu. Ummi Zee dan abi Zidan baru mengetahui fakta ini karena mereka memaksa Zafran untuk bicara. Putra sulung mereka itu terpaksa melakukannya.
Hal yang membuat keduanya menyesal dan meninggalkan Zalimar bersama Revan hingga keduanya salah paham dan memilih pergi meninggalkan negara itu untuk selama-lamanya.
Ummi Zee menghapus air mata yang keluar terus menerus tanpa henti. Ia berbalik dan melihat ada Damar. Suami Zianti itu terihat begitu mengenaskan. Wajah basah air mata dan bajunya penuh dengan darah. Matanya terus terpaku menatap pada ranjang pasien di mana istrinya berada.
Damar menyesal. "Kenapa aku tidak peka akan perubahannya? Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku tidak bisa mencegahnya? Setelah ini apa? Huh? Ia, bahkan tidak akan pernah bisa hamil lagi. Rahimnya terpaksa diangkat karena rusak parah akibart terbentur benda keras. Aku harus apa? Kenapa begitu berat ujian ini untukku? Inikah balasan untukku karena sudah menyaki Zalimar, cintaku?" lirihnya begitu pelan di akhir kalimat.
Abi Zidan menepuk lembut bahu menantunya itu. "Sabar, ini ujian untuk kita semua. Bukan hanya kamu yang kehilangan. Abi juga. Abi, bahkan kehilangan dua buah hati abi karena kesalahan yang abi perbuat. Apa yang bisa kita lakukan, selain hanya bisa pasrah saja?" lirihnya tak berdaya.
__ADS_1
Damar tersedu. Ada Zahara saudara kembar Zafran di sana. Ia duduk diam tanpa banyak berkata. Tugasnya hanya menemani kedua orangtuanya, begitu ucap Zafran tadi.
Adiknya itu sedang terluka karena penolakan yang kedua orang tua mereka lakukan yang lebih memilih Zianti walau fakta sudah terlihat jelas di mata mereka.
Zahara hanaya mengikuti arahan adiknya itu. Demi Zafran, ia bersedia di sana. Jika tidak, ia pun tidak mau menemani kakak keduanya yang sangat licik itu.
Ya, Zahara tahu seperti apa Zianti. Hanya saja, ia tidak mau terlibat dengan kakak sulungnya yang begitu terobsesi dengan abang sepupu mereka itu.
Zahara tidak berdiri di mana pun. Namun, ketika semua orang tidak tahu, ia sering berbagi kisah dengan Zalimar. Sama seperti Zafran, maka Zahara pun demikian. Ia lebih dekat dengan Zalimar dibandingkan dengan Zianti, kakak kedua mereka.
"Untung saja aku tidak ikut-ikutan tadi. Jika itu terjadi, maka bang Revan pun akan marah padaku. Tapi.. Abang sempat berbisik di telingaku tadi malam. Bahwa ada seseorang yang akan mengkhitbahku. Siapa? Siapa pemuda yang bang Revan katakan? Apa hubungannya aku dengan pemuda itu? Di khitbah? Aku?" batinnya menerka-nerka apa yang Revan bisikkan serta pesan yang baru saja ia baca.
Zahara juga melihat Zalimar yang sudah sadar dan tersenyum padanya. Revan sengaja mengirim foto Zalimar yang terlihat baik-baik saja walau wajahnya masih lebam dan membiru.
__ADS_1
Mereka sudah tiba di Singapura tadi pagi. Zahara senang melihat kakaknya baik-baik saja. Ia bersyukur kakak sulungnya itu begitu kuat hingga mampu menghajar kakak keduanya begitu kuat.